Selasa, 21 Februari 2012

DUNIA BERKESENIAN; GAMBARAN KEPRIHATINAN

Satu hari sejumlah seniman bertemu di satu sudut taman budaya. Inti pembicaraan adalah bersepakat membentuk satu wadah. Ketika dihadapkan pada perihal siapa yang bersedia menjadi ketua, masing-masing pribadi menyampaikan alasan untuk menyatakan ketidakbersediaannya. Untuk menghindari main “tunjuk hidung”, mereka mengambil kebijakan dengan cara undi. Masing-masing menuliskan satu nama di kertas. Akhirnya terpilih satu orang untuk menjadi ketua wadah seniman tersebut. Selesai? Ternyata tidak! Ujungnya timbul konflik (di luar forum tersebut) mempertanyakan kapasitas, kemampuan dan lainnya yang dimiliki ketua terpilih. Konflik meruncing, dan beberapa nama pada akhirnya melepaskan diri dari ikatan wadah tersebut.

Sekian waktu terdahulu, sejumlah penyair muda usia ‘ribut’, karena puisi mereka tidak disertakan dalam satu acara Baca Puisi. Satu tulisanpun muncul di surat kabar mempertanyakan sekaligus mengkritik kinerja penyelenggara yang membidangi dunia kesenian. Rapat mendadak kepanitiaan pun digelar. Ujung-ujungnya, puisi-puisi penyair tersebut diikutsertakan. Selesai persoalan? Tidak juga! Berbagai kritikan timbul.
Pertama, mereka tidak terima puisi-puisi mereka jadi sisipan (malah tercantum sebagai “Jilid II”) dalam satu antologi puisi bersama tersebut. Dan mereka tidak semuanya mendapat kesempatan membacakan puisinya. Honor puisi pun lebih kecil dari honor pembaca puisi. Artinya sebagai sebuah karya kurang dihargai. Lalu muncul pula kritikan dari yang menentang acara tersebut kepada penyair muda tersebut, “Lihat si anu, awalnya ribut. Setelah dapat duit, diam!”. Di samping itu, ada yang mempertanyakan, “Kenapa penyair muda perempuan tidak disertakan?”

Sejumlah seniman muda satu dalam satu komunitas sastra berkeinginan menerbitkan majalah sastra. Mereka prihatin karena sudah sekian lama daerah ini tidak mempunyai majalah khusus sastra. Berkali mereka bertemu membicarakan perihal tersebut.Susunan redaksional pun telah mereka sepakati, dan ada yang bersedia menyandang dana awal. Nyatanya tak jua terealisasi. Hanya persoalan apa nama majalah tersebut, membuat kesepakatan lain mentah kembali.
Sekian masa lalu, sejumlah seniman berlatar bidang seni mereka geluti berkumpul dan bersepakan membentuk satu organisasi seni. Niatan tersebut didukung sejumlah seniman senioran. Dari sekian kali pertemuan dan pembicaraan, terbentuklah organisasi tersebut. Apa yang telah diperbuat? Nihil sama sekali.baru sekian hari berjalan, sudah tak terdengar lagi kelanjutan organisasi tersebut.

Demikian pula halnya dengan satu ikatan seniman. Gembar-gembor bahwa ikatan tersebut akan mampu membawa nuansa baru dan suasana menggembirakan terhadap dunia kesenian di daerah ini, selalu dikumandangkan. Kesan kea rah itu kian tampak saat malam seremoni pelantikan kepengurusan dibarengi atraksi hiburan mempesona. Setelah itu bagaimana? Sama saja. Tinggal nama belaka.
Satu even lomba baca puisi digelar. Minat peserta dari kalangan pelajar membludak, karena hadiah yang ditawarkan lumayan besar. Usai penyelenggaraan acara, para pemenang pontang-panting mengurus hadiah hak mereka. Berkali mendatangi rumah ketua penyelenggara, yang ternyata tak punya cukup dana dan coba berspekulasi pada acara tersebut.

Merasa kondisi perteateran (khususnya teater di kampus) kurang menggembirakan, sejumlah seniman teater dan seniman seni lainnya berupaya membangun jaringan teater antarkampus. Kesepakatan tercapai, dan satu diskusi telah digelar. Hanya sekali itu dan semuanya berlalu, karena timbul curiga a
Satu pesta seni akan digelar. Sekian bulan panitia bekerja keras untuk dapat menggelar pesta tersebut. Lobi-lobi dan sejumlah proposal untuk mendapatkan dana telah dijalankan. Ternyata dana yang diharakan dari sponsor, donator, instansi terkait dan sumber lain yang diharapkan, sebegitu minim. Kendati demikian kepanitiaan tetap komit menggelar pesta seni tersebut, kendati dana kurang memadai. Pesta seni terselenggara, panitia pusing kepala. Terbetik berita, terutang pula.
Satu kegitan lomba beberapa bidang seni diselenggarakan. Dinas penyelenggara menyerahkan pada satu nama untuk pelaksanaannya (EO). Satu nama tersebut menyerahkan pelaksanaan kegiatan tersebut pada satu klompok. Oleh klompok tersebut acara mereka selenggarakan dengan kebijakan mereka. Termasuk juga menentukan siapa-siapa menjadi juri (dari kalangan mereka juga) dan teknis penjurian. Jadilah lomba perbidang seni dinilai 2 juri.

Berbagai gambaran (dan masih ada lainnya) di atas memperlihatkan betapa memprihatinkannya kondisi berkesenian di daerah ini. Hal ini berefek negatif dalam upaya membangun iklim berkesenian daerah ini yang kian jauh tertinggal dari sejumlah daerah lain.
Kendati suasana berkesenian di daerah ini masih tampak, dengan telah dan akan berlangsungnya sejumlah kegiatan, apa yang kita harapkan sulit tercapai. Jika masih saja gambaran keprihatinan tersebut terulang kembali. Satu kalimat bijak menyatakan, “Satu karya/ kerja nyata jauh lebih bernilai ketimbang berjuta kata dan kalimat cakap-cakap belaka.” Namun, selalu menceritakan apalagi membanggakan satu keberhasilan, selebihnya kegagalan-kegagalan bukanlah sikap bijak. Semoga kita saling menyadari.

Sampali

Tidak ada komentar: