Selasa, 13 Maret 2012

SEPENGGAL KECEWA

Cerpen M. Yunus Rangkuti

Aku mengemudi mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Pengaruh minuman beralkohol memang kurasa, namun pikiranku masih normal. Kulirik arloji, hampir mendekati pukul satu dinihari. Jalan protokol yang kulalui begitu lengang. Hanya satu dua kenderaan melintas. Ruko-ruko telah pada bertutupan. Konsentrasiku masih terjaga. Aku meraih bungkus rokok di dash-board, hanya tersisa sebatang. Rokok kusulut, dan mengisapnya dengan tarikan lebih dalam. Kuturunkan sedikit kaca samping, angin malam menerpa wajahku dengan kencang. Aku merasa lebih nyaman.
Dari kejauhan, lampu pengatur lalulintas masih bewarna hijau. Pedal gas agak kutekan menambah kecepatan. Tiba-tiba saja dari sebalik kenderaan yang parkir, dua sosok berangkulan menyeberang. Aku tersentak. Klos kupijak dan menurunkan porsneling dan buru-buru memijak rem mencoba menurunkan kecepatan. Terlambat, mobilku menyambar satu dari mereka yang sempat reflek mendorong yang lainnya. Terdengar benturan dan jeritan. Aku sedemikian panik. Tak mampu mengendalikan laju kederaan. Mobilku meluncur menabrak trotoar, lalu terangkat menghantam tiang traffic light.

***
“Sudah, bung! Dari tadi Anda berdiri terus di situ. Lebih baik kita duduk-duduk di pojokan sana,” ajak seseorang membuyar ingatanku akan mimpi buruk itu. Tangannya berusaha melepaskan jemariku dari terali besi yang tak sadar kupegang erat. “Ayo bung!” Bahuku dirangkulnya. Tubuhku serasa lemah. Aku seakan kehilangan separuh tenaga.
“Nah, di sini kan lebih enak. Kita bisa ngobrol apa aja. Betulkan bung. Bah! hampir lupa, aku Tigor,” ujarnya menyodorkan tangan.
“Haris,” sambutku tanpa gairah.
“Oke, Bung Haris. Kalau boleh aku tau, apa yang jadi penyebab bung terdampar di sini? Maksudku, mengapa bung masuk penjara? ”.
“Aku telah membunuh seseorang,” jawabku datar. Lelaki di hadapanku tampak terkejut. “Kenapa terkejut, bung?”.
“Ah, tidak. Cuma, aku tak percaya itu. Aku lihat tampang bung bukan tipe seperti itu. Maksudku, tampang kriminal.”
“Terserah penilaian bung. Yang jelas aku telah membunuh seseorang.”
“Perkelahian? Bung terpaksa melakukannya? Lelaki itu masih tak percaya dengan apa yang telah kulakukan. Aku merasa lelaki itu sedikit bisa membaca tipe seseorang. Aku jadi ingin tau pula tentangnya. Apa yang menjadi penyebab dia masuk penjara.
“Bukan. Bukan perkelahian. Aku telah menabrak…”
“Bah! Betul dugaanku. Tak mungkin bung telah membunuh,” potongnya cepat.
“Ya. Tapi, sama saja itu. Sama-sama membunuh.”
“Jelas beda bung! Kategori bung pelanggaran, bukan pembunuhan.”
“Pendapat bung betul. Masalahnya, tuduhan yang dikenakan padaku tidak hanya sebatas pelanggaran, tetapi ditambah unsur kesengajaan. Jelasnya aku dituduh sengaja melanggar untuk membunuh.”
“Bah! Mengapa begitu? Apa dia musuh bung?”
“Hanya orang sinting yang membunuh musuhnya dengan cara melanggar, sementara dia sendiri nyaris mampus, Kawan.”
“Jelasnya dia bukan musuh bung. Lantas, mengapa tuduhannya berkembang seperti itu?”
“Ini gara-gara perempuan sial itu!”
“Amangoi! Apa pula hubungannya dengan perempuan?”
“Kejadiannya memang bermula dari perempuan itu. Mau bung mendengar ceritanya?”
“Teruskan bung. Aku jadi tertarik.”

***
Satu waktu ada relasi menghubungi dan mengajakku makan siang untuk membicarakan bisnis yang akan ditawarkannya. Kami memilih restoran yang terletak di sudut perempatan jalan. Seorang waitress menyerahkan daftar menu seraya menghadiahkan senyum teramat manis. Wajahnya tampak cantik di mataku. Tubuh serta cara dia melangkah membuatku terpesona. Sejak saat itu, tanpa harus diajak pun, aku selalu menyempatkan diri makan ke restoran itu.
Kami berkenalan dan berkembang menjalin hubungan akrab. Setiap ada kesempatan, aku menjemputnya. Mengajaknya jalan-jalan, menonton, berbelanja, dan apa saja untuk menyenangkan hatinya. Ini kulakukan, karena yakin dia telah jadi milikku. Kekasihku. Tak jarang pada beberapa kesempatan, kami menyewa penginapan dan telah berkali berhubungan intim. Layaknya suami isteri.
Hingga satu waktu aku mendengar kabar, perempuan itu sebenarnya isteri simpanan. Suaminya perwira kapal pesiar mancanegara. Dalam setahun hanya dua kali berlabuh ke sini. Awalnya aku tak yakin, namun setelah mendengar dari banyak orang, aku mulai goyah. Apalagi setelah melihatnya sedemikian mesra berangkulan di satu pusat perbelanjaan.
Melihat dan mendapatkan kenyataan itu, darahku sontak mendidih, namun aku masih sanggup menahan emosi untuk tidak membuat keributan. Saat kutanyakan tentang kabar miring yang kudengar, ia pun mengaku tentang status dirinya. Seraya berupaya menahan amarah, karena ditipu dan merasa dipermainkan, aku sempat melontar ancaman pada mereka.
Rasa kecewa kulampiaskan ke tempat-tempat hiburan. Hampir setiap malam aku berada di bar atau diskotik. Entah berapa banyak pelacur yang telah kugauli. Nyaris setengah dari gajiku kufoyakan untuk itu. Menjelang pagi baru kembali. Hingga malam kejadian itu, aku baru pulang dari satu diskotik di luar kota. Mobil yang kukenderai memang kupacu kencang. Tiba-tiba saja dua orang yang sedang berangkulan menyeberang seenaknya. Kegugupan seketika kurasa.
Semuanya berlangsung cepat. Aku menabrak satu dari mereka, mobilku meluncur menabrak trotoar, dan terhempas dengan deras menghantam tiang traffic light. Sesudah itu aku tak ingat apa-apa. Dua hari kemudian aku tersadar telah di rumah sakit. Hampir sebulan aku menjalani perawatan. Di sanalah baru aku tau orang yang kutabrak itu tewas seketika di tempat. Ternyata pria malang itu adalah si perwira kapal pesiar yang beristeri gelap si perempuan yang kuceritakan tersebut. Sementara perempuan itu sendiri selamat.

***
“Demikianlah Bung Tigor. Dari kejadian itulah timbul tuduhan aku sengaja hendak membunuh dengan cara menabrak, karena merasa sakit hati. Ditambah lagi perihal ancaman yang pernah aku lontarkan.”
“Bah! Betul-betul tragis apa yang bung alami. Namun, inilah kehidupan. Segalanya bisa bersebab-akibat. Kita tidak bisa memastikan realita apa yang akan kita hadapi, jalani, dan terima. Aku sendiri telah lima tahun menjalani hidup di penjara ini. Sebagai ganjaran dari pembunuhan yang kulakukan terhadap seorang yang tak bertanggung jawab setelah menghamili adikku.
Terlepas dari salah tak bersalah, sengaja atau tak disengaja, kita sedang menanggung akibat dari sebuah sebab. Ini realita yang tengah kita jalani dan terima. Satu hal pasti, kita terkadang harus membayar mahal untuk sekeping harga diri, bahkan sepenggal kecewa sekalipun. Mari Bung Haris, saatnya kita makan siang. Perutku sudah minta diisi.

Sampali

Senin, 12 Maret 2012

HAJATAN HUJAN

jelang hajatan awan menebal menggumpal
mendung menggelayut menyaput cerah
tuan rumah henyak murung dibalut resah

bawang cabai ditusuki lidi di pojokan halaman
jadi tangkal supaya jangan turun hujan
sang pawang membentang selendang
menaruh tujuh rupa kembang dan ayam panggang
tiga kepal nasi lengkapi sesaji
selepas semedi pawang berdiri menari
mulut komat kamit memandangi langit
mempermain keris ingin menangkis gerimis
tubuh bergetar saat mantranya terdengar

“hoi penunggu penjuru alam
yang semayam di arakan awan
yang terpejam di dingin angin
yang mendekam di hati bumi
yang membenam di perut laut
hari ini kami hajatan
jangan, jangan biarkan diguyur hujan
nah… nah… puih!
nah… nah… puih!

hoi penjaga segala mayapada
penjaga pintu jendela segala cuaca
tutupi segala pintu segala jendela hujanmu
hujan di hari ini
jangan, jangan biarkan di sini
nah…nah…puih!
nah…nah…puih!”

saat hajatan digelar kilat sambar menyambar
petir menggelegar hingar
tuan rumah terhentak, sang pawang terpacak
hujan turun kian tak tertahan
bocah bocah telanjang dada main kejaran bermandikan hujan

“kuluk kuluk hujan turun
kuluk kuluk hujan deras
kuluk kuluk hujan turun
kuluk kuluk hujan deras
Horre…horre…horre!”

Minggu, 11 Maret 2012

NAHUM SITUMORANG Dahulu Dan Sekarang

Oleh Poltak Sinaga

Ungkapan bijak mengatakan, seseorang yang tengah berlindung dan berteduh di bawah suatu pohon rindang saat terik menyengat, wajar dia mengucapkan terimakasih pada si penanam pohon itu. Bila seseorang tengah menikmati alunan lagu-lagu yang mampu menyejukkan hati atau menghiburnya, wajar dia mengucapkan terimakasih pada komponisnya.
Nahum Situmorang (foto) banyak menanam pohon kesejukan yang menghasilkan buah-buah segar seiring karya musiknya yang tetap digemari. Di sisi lain banyak penyanyi pop dari kalangan etnik Batak maupun etnik lainnya yang meraup keuntungan, memetik buah-buah segar karya Nahum demi kekayaan pribadi. Namun ungkapan terimakasih dari sejumlah penyanyi dan musisi yang meraup banyak keuntungan materi itu, nyaris tak terdengar. Pusara Nahum Situmorang hingga kini masih tetap berada di balik debu dan deru suara hingar bingar kenderaan kota Medan. Keadaan ini menunjukkan suatu fenomena ketidakpedulian. Pada hal, Nahum senantiasa menanti jawaban atas harapan yang mengiinginkan pusaranya dipindahkan ke bonapasogit (kampung halaman) di Pulau Samosir sebagaimana terpatri di dalam lagu berjudul, Pulo Samosir..
“Molo marujungma muse ngolungku sarihonma, anggo bangkekku di si tanomonmu, di si udeanku, sarihonma”. (Artinya, jika nanti aku mati, camkanlah bahwa jasadku akan kau makamkan di Pulau Samosir, di sanalah pusaraku). Benarkah ?
Sejarah atau riwayat hidup orang penting cenderung menjadi bacaan yang sangat menarik, begitu pula halnya dengan biografi dan berbagai anekdot para komponis legendaris, menjadi sangat menarik karena popularitasnya. Hal ini dapat menjadi cerminan, dan menjadi suatu kontribusi yang sangat berarti terhadap perkembangan apresiasi musik, pemberi warna terhadap kepustakaan musik dunia. Ragam informasi tentang riwayat komponis dapat memberi penjelasan mengenai karya-karya kreatifnya yang meliputi berbagai fenomena sosiomusikologis pada masa tertentu, termasuk perkembangan teknik berkomposisi serta teknik bermain musik yang mencakup berbagai aspek yang merupakan bagian dari elemen musik.
Dari sejumlah komponis legendaris dari tanah Batak, salah satu di antaranya adalah Nahum Situmorang, lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan, 14 Pebruari 1908. Sejak kecil bakat musiknya telah terlihat. Tahun 1924 Nahum melanjutkan sekolahnya di Kweek School Jakarta, kemudian pindah ke Lembang, Bandung dan tamat tahun 1928.
Rasa kerinduan dan kecintaannya pada kampung halaman (bonapasogit), yakni kawasan danau Toba yang mengelilingi pulau Samosir dengan segala pesona keindahannya, serta siklus kehidupan keseharian masyarakatnya, menjadi sumber inspirasi yang tidak habis-habisnya bagi Nahum dalam berkarya. Lagu-lagu Nahum menjadi sangat populer baik di kalangan etnik Batak Toba, skala nasional, maupun mancanegara. Deretan judul lagu-lagu itu di antaranya, O Tao Toba, Lissoi, Pulo Samosir, Sitogol, Unang Sumolsol Dipudi, Molo Borngin Di Silindung, Beha Pandundung Bulung, Anakhonhido Hamoraon di Au, Huandung Ma Damang, Sai Tudia Ho Marhuta, Silindung Najolo, Sai Gabe Maho, Sapatani Napuran, Tumagon Nama Mate, Ala Dao, Molo Sautma Ho Lao tu Nadao, Holongni Rohamdo Sinta-sinta di Au, Ndada Tartangishon, Si Singamangaraja, Timbo Dolok Martimbang, Alani Ho, Manukni Silangge, Situmorang Nabonggal, dan masih banyak lagi hingga berkisar 120 lagu.
Ternyata aktivitas Nahum tidak terbatas pada kegiatan musik. Pada tahun 1928, Nahum ikut dalam barisan Perintis Kemerdekaan sebagai anggota pada Kongres Pemuda, dan pada tahun yang sama mengikuti Lomba Cipta Lagu Kebangsaan Indonesia yang pada masa itu dimenangkan oleh WR. Soepratman. Lagu karya Nahum berada di posisi runner up (urutan ke dua) dari sejumlah peserta lomba. Kemudian tahun 1929, Nahum pindah ke Sibolga, bekerja sebagai guru di Bataksche Studiefond hingga tahun 1932. Pada tahun yang sama Nahum pindah ke Tarutung dan mendirikan sekolah yang diberi nama, Wester Langer Onderwijs. Sekolah ini hanya bertahan hingga kedatangan tentara Jepang tahun 1942. Sepanjang hayatnya Nahum Situmorang tidak mau bekerja sebagai pegawai pada pemerintahan Belanda, kendati peluang untuk itu terbuka lebar. Nahum dikenal sebagai seorang yang berjiwa nasionalis dengan sikap kemandirian yang kuat.
Di sela-sela kehidupannya sebagai seorang guru, Nahum tetap kreatif menciptakan lagu-lagu dalam berbagai ragam irama. Tahun 1936, Nahum menjadi pemenang dalam Lomba Cipta Lagu, Sumatera Kerontjong Concours yang diselenggarakan di Medan. Tahun 1949, Nahum pindah ke Medan, di sini ia lebih leluasa untuk bernyanyi dan berkarya. Dalam pergaulan sehari-hari Nahum dikenal memiliki pribadi yang sangat luwes dan sangat digemari di lingkumgan pergaulannya karena didukung oleh kepiawaiannya bermain musik dan bernyanyi.
Lagu berjudul, Lissoi diciptakannya saat menikmati minuman tradisional Batak Toba (tuak) yaitu, minuman berkadar alkohol yang bersumber dari kelapa. Minuman tersebut setiap hari atau malam dihidangkan di Pakter Tuak (warung minuman tuak). Dalam situasi keramaian seperti itu, Nahun sanggup mengubah lagu berikut syair dengan kualitas komposisi yang sangat mengagumkan. Lagu Lissoi yang diciptakan dalam suasana keramaian diantara parmitu ( parminum tuak) yang berarti peminum tuak merupakan salah satu karya Nahum yang sangat populer hingga sekarang, bukan saja di kalangan masyarakat Batak, akan tetapi merambah keseluruh lapisan masyarakat bahkan ke manca negara.
Sekitar tahun 1950-an, Nahum Situmorang mendirikan grup musik yang disebutnya dengan Nahum’s Band. Grup ini pada umumnya membawakan lagu-lagu karya Nahum. Nahum’s Band sangat populer di kalangan masyarakat Batak. Pada masa itu mereka banyak mendapat tawaran untuk mengisi acara-acara hiburan di kalangan masyarakat maupun di berbagai instansi pemerintahan. Pada tahun 1960, Nahum’s Band mengadakan serangkaian pertunjukan musik di Jakarta. Dalam setiap pertunjukan mereka mendapat sambutan yang sangat meriah terutama dari kalangan komunitas Batak Toba yang bermukim di Jakarta. Nahum’s Band banyak mendapat pujian dan sanjungan dari para pejabat pemerintahan dan dari orang asing (anggota kedutaan) dari berbagai negara yang menyaksikan konser Nahum’s Band. Kendati orang-orang asing tersebut tidak mengetahui makna syair (teks) lagu, namun mereka sangat meresapi komposisi musiknya. Dari rangkaian konser tersebut, banyak tawaran agar Nahum’s Band mengadakan konser musik di berbagai negara, tetapi karena sesuatu hal tawaran itu tidak terlaksana.
Kehidupan Nahum Situmorang tidak sesukses lagu-lagunya. Nahum gagal dalam bercinta, sang kekasih yang sangat dicintainya jatuh kepelukan pria lain. Kegagalan ini menjadi beban berat dan menyakitkan bagi Nahum, ia bertekat untuk tidak bercinta lagi. Tragedi ini dilukiskan oleh Nahum dalam lagu berjudul, Sai Gabema Ho, Sapatani Napuran, Ala Dao, Molo Sautma Ho Lao Tu Nadao. Deretan lagu-lagu ini merupakan jeritan hati Nahum atau gambaran cintanya terhadap kekasih yang berpaling itu. Nahum tetap melajang di sepanjang hidupnya.
Lagu-lagu karya Nahum Situmorang tersebar luas ke seluruh penjuru tanah air bahkan ke mancanegara melalui penyiaran Radio Republik Indonesia (RRI), dari sejak awal kemerdekaan hingga tahun 1970-an. Volume penyiaran lagu-lagu Nahum mendapat porsi yang besar. Pada masa itu Nahum Situmorang telah merekam lagu-lagunya dalam bentuk Piringan Hitam (PH) di studio rekaman Locananta Indonesia dan studio rekaman Polydor Amerika Serikat, bahkan sebagian lagu-lagunya di terjemahkan dalam bahasa Jerman yang kemudian direkam dalam bentuk PH.
Kreativitas dan produktifitas Nahum dalam menciptakan lagu-lagu mendapat perhatian dari pemerintah Indonesia. Nahum mendapat penghargaan sebagai komponis nasional. Selain itu berbagai piagam penghargaan telah diterima Nahum Situmorang dan penghargaan terakhir yang diterimanya adalah Anugerah Seni dari pemerintah pada tanggal 17 Agustus 1969. Dua bulan kemudian, tepatnya tanggal 20 Oktober 1969 Nahum meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Karya-karya emasnya menjadi harta karun yang tiada habisnya, menjadi rebutan di kalangan penyanyi Batak.
Hampir seluruh album rekaman pop Batak, mulai dari penyanyi Eddy Silitonga, Victor Hutabarat, Rita Butarbutar, Emilia Contesa, Trio Lasidos, Jack Marpaung, Charles Simbolon, Trio Maduma dan sederetan penyanyi pop Batak lainnya selalu menyertakan karya Nahum Situmorang. Deretan penyanyi ini telah banyak meraup keuntungan yang sangat besar atas karya-karya besar Nahum. Namun tida terlintas di benak mereka akan keinginan Nahum semasa hidupnya yang jelas berkata, “Molo marujungma muse ngolungku sarihonma, anggo bangkekku di si tanomonmu, di si udeanku, sarihonma”.(FB)