Rabu, 24 Oktober 2012

NILAI DAN FUNGSI SASTRA

Sastra = Pertunjukan kata-kata Sastra ialah karya tulis yang, jika dibandingkan dengan karya tulis yang lain, memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keorisinalan, keartistikan, serta keindahan dalam isi dan ungkapannya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar istilah sastra atau karya sastra : prosa atau puisi. Dengan membaca karya sastra, kita akan memeroleh ”sesuatu” yang dapat memerkaya wawasan dan/atat meningkatkan harkat hidup. Dengan kata lain, dalam karya sastra ada sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan. Robert Frost menyebutkan, sastra ialah pertunjukan dalam kata. Ini berkaitan dengan seni. Jadi, dapat pula dikatakan bahwa sastra itu pada hakikatnya adalah pertunjukan dalam kata-kata. Dengan pertunjukan ini, sastra memiliki kekuatan untuk menghibur. Dengan adanya kata-kata yang menjadi komponen pentingnya, sastra juga memiliki potensi untuk mengajar. Pengajaran tidak mungkin berlangsung tanpa kata-kata meskipun pendidikan lebih efektif disampaikan melalui tindakan. Hakikat sastra sebagai seni pertunjukan dalam kata dapat diterapkan kepada segala jenis sastra. Sastralah lagu rakyat yang dinyanyikan dan memberikan rasa senang kepada kita. Sastralah pada daun lontar yang ”mempertunjukkan” dan ”mengabadikan” buah pikiran dan renungan Mpu Kanwa tentang keagungan Raja Airlangga. Demikian pula sastralah yang mempertunjukkan seorang gadis Minang yang malang bernama Sitti Nurbaya. Sastralah yang menampilkan sosok seorang manusia yang terobsesi semangat mau hidup seribu tahun lagi dalam ”Aku” karangan Chairil Anwar. Sebagai seni pertunjukan, sastra paling praktis jika dibandingkan dengan seni pertunjukan lainnya. Teks sastra yang ditulis ratusan, bahkan ribuan tahun lalu, dapat ”dipertunjukkan” kapan dan di mana pun. Seni-seni lain tidak sepraktis sastra. Untuk menikmati seni tari, misalnya, diperlukan ruang khusus, waktu khusus, dan orang-orang khusus pula. Untuk menghibur diri dengan seni musik, kita memerlukan persiapan berikut manusia yang memainkan peralatan musik tersebut dalam waktu dan tempat tertentu. Lalu, kenapa sastra harus menghibur? Menghibur bukan berarti membuat pembaca terpingkal-pingkal karena tak dapat menahan tawanya. Namun lebih kepada kepuasan batin ketika mengikuti alur cerita. Herman J. Waluyo (2006) memberikan istilah katarsis, yaitu pencerahan jiwa atau penyadaran jiwa terhadap lingkungan masyarakat atau terhadap keterbatasan individu yang sering kali melabrak posisi Tuhan. Memang, ada pengarang yang merepresentasikan karyanya sebagai hiburan dalam artian membuat pembaca hanyut dalam tawanya. Seperti cerita “Kambing Jantan” (2006) misalnya (maaf saya lupa nama pengarangnya) yang penuh dengan kekonyolan-kekonyolan. Namun entah kenapa karya-karya seperti ini sering dianaktirikan sebagai bukan karya sastra tetapi karya teenlit atau sastra prematur. Jelaslah, sastra itu seni yang paling praktis bagi kita. Namun, seni yang paling praktis itu sering terabaikan. Apresiasi sastra kita terhadap sastra demikian rendahnya. Mengapa? Inilah yang perlu dicari jalan keluarnya. Nilai Sastra Ada tiga aspek yang harus ada dalam sastra, yaitu keindahan, kejujuran, dan kebenaran. Kalau ada sastra yang mengorbankan salah satu aspek ini, misalnya karena alasan komersial, maka sastra itu kurang baik. Karya sastra (yang baik) senantiasa mengandung nilai (value). Nilai itu dikemas dalam wujud struktur karya sastra, yang secara implisit terdapat dalam alur, latar, tokoh, tema, dan amanat atau di dalam larik, kuplet, rima, dan irama. Nilai yang terkandung dalam karya sastra itu, antara lain adalah sebagai berikut: (1) nilai hedonik (hedonic value), yaitu nilai yang dapat memberikan kesenangan secara langsung kepada pembaca; (2) nilai artistik (artistic value), yaitu nilai yang dapat memanifestasikan suatu seni atau keterampilan dalam melaksanakan suatu pekerjaan; (3) nilai kultural (cultural value), yaitu nilai yang dapat memberikan atau mengandung hubungan yang mendalam dengan suatu masyarakat, peradaban, atau kebudayaan; (4) nilai etis, moral, dan agama (ethical, moral, relligion value), yaitu nilai yang dapat memberikan atau memancarkan petuah atau ajaran yang berkaitan dengan etika, moral, atau agama; (5) nilai praktis (practical value), yaitu nilai yang mengandung hal-hal praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Fungsi Sastra Abdul Wachid B.S. secara eksplisit mengemukakan dalam buku kumpulan esai sastranya berjudul “Sastra Pencerahan” (2005) bahwa sastra berfungsi sebagai media perlawanan terhadap slogan omong-kosong tentang sosial kemasyarakatan. Sapardi (1979) mengemukakan tiga hal yang harus diperhatikan yaitu: a) Sudut pandangan ekstrim kaum Romantik misalnya menganggap bahwa sastra sama derajatnya dengan karya pendeta atau nabi; dalam anggapan ini tercakup juga pendirian bahwa sastra harus berfungsi sebagai pembaharu dan perombak. b) Dari sudut lain dikatakan bahwa sastra bertugas sebagai penghibur belaka; dalam hal ini, gagasan “seni untuk seni” tak ada bedanya dengan praktik melariskan dagangan untuk mencapai best seller. c) Semacam kompromi dapat dicapai dengan meminjam sebuah slogan klasik: sastra harus mengajarkan sesuatu dengan cara menghibur. Lantas apa fungsi sastra sebenarnya? Tidak terlalu susah namun dikatakan mudah pun juga tidak dalam menentukan fungsi sastra. Namun, pendapat Sapardi di atas adalah pendapat umum tentang fungsi sastra. Kenapa sastra berfungsi sebagai pembaharu? Seperti yang sudah disebutkan jauh di atas, sastra adalah ruang dinamis yang terus bergerak. Akan ada sesuatu yang baru dalam dunia kesastraan. Pendapat yang baru merupakan penyusunan kembali pendapat lama. Kadang-kadang menjadi inspirasi tiada tara. Keadaan yang dinamis ini tentunya tidak akan menciptakan kondisi yang adem ayem saja, tetapi karena sastra itu bergerak dan berpikir, maka polemik, kritik sana-kritik sini adalah hal yang lumrah. Dari uraian di atas, fungsi sastra dapat dibagi pada beberapa hal. 1. Sastra sebagai pembentuk Wawasan Baru Dalam membaca sastra, baik puisi maupun prosa, kita sebenarnya membentuk wawasan baru yang selama ini tidak muncul di dalam jiwa kita. Bagaimana sikap ibu yang baik, umpamanya, dapat kita lihat dalam sastra. Pada suatu saat sosok seorang ibu yang bijaksana kita baca di dalam sebuah novel karena kebijaksanaannya itu menyentuh batin kita. Pada saat lain, kebijaksanaan yang menyentuh itu tidak dapat kita terima lantaran kita telah membaca sebuah novel dengan sosok ibu yang lain yang sebenarnya lebih menyentuh daripada sosok ibu yang pertama. Keberadaan sastra seperti itulah yang dimaksudkan sebagai sarana pembentuk wawasan baru bagi kita. Bandingkan konsep ibu dalam sajak Surat dari Ibu (Asrul Sani) dengan cerita Malin Kundang (anonim), dan roman Salah Asuhan (Abdoel Moeis). 2. Sastra sebagai pembentuk Kepribadian Bangsa Apa yang dapat ditarik dari sebuah karya sastra dalam hal pembentuk kepribadian bangsa? Banyak sekali yang dapat ditarik dan diambil. Tidak hanya pada sastra Indonesia Modern, pada sastra Indonesia lama pun kita mendapatkan nilai kepribadian kita itu. Nilai kesetiaan seorang istri kepada suami nyata dapat kita lihat pada banyak sastra kita. Nama Puti Subang Bagalang dalam sastra Minangkabau adalah nama tokoh mitos atau tokoh legenda yang dihubungkan dengan kesetiaan. Tunangan Puti Subang Bagalang yang bernama Magek Manandin dituduh mencuri sapi sehingga harus dibuang ke lurah dalam. Magek Manandin itu tidak pernah diharapkan untuk kembali oleh siapa pun. Akan tetapi, Puti Subang Bagalang tetap menanti kedatangannya itu walaupun dia sudah tahu bahwa Magek Manandin tidak akan pernah datang. Ni Nogati dalam Setahun di Bedahulu (Armijn Pane) tidak mau menjadi orang yang tidak berguna. Kalau dia sekali dapat mengalihkan cintanya, tentu dia dapat mengalihkan cintanya untuk kedua kali, ketiga kali, dan seterusnya. Hal sama dapat terlihat pada kesetiaan Widuri terhadap suaminya walaupun dia tidak mencintai suaminya dalam Kugapai Cintamu (Ashadi Siregar). Bagaimana dengan kamu? 3. Sastra sebagai sarana Fatwa dan Nasihat Sastra banyak memberikan fatwa kepada pembaca baik secara langsung maupun tidak langsung. Fatwa yang ada itu dapat dipetik oleh pembaca sebagai pengetahuan yang baru. Akan tetapi, fatwa tersebut dapat pula dipandang sebagai penggugah, peremaja, peningkat, atau penyistem pengetahuan pembacanya. Fatwa dapat diserap pembaca setelah selesai membaca novel yang isinya dapat disimpulkan oleh pembaca sendiri. Fatwa dapat pula disimak dari peristiwa yang disampaikan tokoh-tokohnya. 4. Sastra sebagai Kritik Sosial Masyarakat Kritik sosial dalam sastra dapat dilakukan dengan berbagai cara. Sastra itu memang mengungkapkan kebobrokan masyarakat dan ketidakpuasan masyarakat terhadap apa-apa yang sudah dimilikinya. Jika manusia mendapat satu macam, mereka inginnya dua macam. Jika sudah mendapat dua macam, mereka ingin tiga macam. Begitulah terus-menerus ketidakpuasan itu terjadi pada diri manusia. 5. Sastra sebagai Catatan Warisan Kultural Sekolah dan universitas memberikan pelajaran dan pengetahuan orang tentang Indonesia. Karya sastra mempunyai fungsi untuk itu secara tidak langsung. Kalau kita membaca karya sastra yang terbit pada tahun-tahun terdahulu, kita akan mengetahui tentang corak budaya pada masa novel itu ditulis. Novel Sitti Nurbaya yang terbit pada 1922 menyuarakan suatu kebudayaan, yang kebudayaan ”kawin paksa”. Pada tahun 1922 kebudayaan kawin paksa masih berlangsung. Pada tahun 1922 kebudayaan ”seorang penghulu atau pemuka masyarakat mempunyai istri lebih dari satu orang” hadir di tengah masyarakat. Bagaimana pula dengan novel Salah Asuhan-nya Abdoel Moeis (1928), Jalan Tak Ada Ujung Mochtar Lubis (1945), Hulubalang Raja Nur Sutan Iskandar (Balai Pustaka), Saman Ayu Utami, Laskar Pelangi Andrea Hirata atau Ayat-ayat Cinta Habiburrahman El Sirazy (2000)? 6. Sastra sebagai Pengalaman Perwakilan Sastra, walaupun suatu karya fiktif, dapat memberikan informasi kepada kita tentang tempat-tempat yang kita belum tahu. Karya sastra juga akan memberi informasi tentang apa yang ada di suatu tempat yang tempat itu tidak sempat dikunjungi oleh pembaca. Pengalaman sastrawan tentang suatu tempat atau keadaan itu ditularkan kepada pembaca dengan karyanya, baik berupa sajak maupun novel. Melalui informasi yang ada di dalam sebuah sajak atau novel, kita mengetahui tempat-tempat penting atau keadaan-keadaan penting, situasi penting, dan sebagainya. Melalui pembacaan sajak yang termuat dalam buku Deru Campur Debu karya Chairil Anwar, kita mengetahui bahwa daerah Karet adalah tempat pemakaman umum di Jakarta. Upacara karya Korri Layun Rampan merupakan sebuah novel yang bercerita tentang adat istiadat bermasyarakat atau cara bermasyarakat di Kalimantan, yaitu suku Dayak. 7. Sastra sebagai Manivestasi Kompleks Tertekan Tidak sedikit karya sastra lahir dari suatu luapan perasaan yang paling dalam. Karya sastra menjadi suatu sublimasi dari ketertekanan sehingga bahasa, imaji, serta teknik penceritaannya menjadi meluap-luap. Oleh sebab itu, karya sastra jenis ini perlu dipahami karena di dalamnya terdapat ide atau gagasan yang ide dan gagasan itu tidak dapat muncul di alam sadar. Sajak ”Kembalikan Indonesiaku Padaku” karya Taufik Ismail merupakan salah satu sajak yang bersifat melampiaskan apa yang tidak dapat dikatakan melalui dunia biasa, alam sadar, atau alam normal. Hal sama dialami Iwan Simatupang. Dia melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Indonesia sudah kehilangan pribadi. Kecemasan dan kegelisahannya diungkapkannya dalam novel Kooong (1975). Dalam novel ini, Iwan mengkhawatirkan Indonesia yang penuh dengan kehidupan glamour ala Barat, padahal Indonesia mempunyai kehidupan tenang, dengan kokok ayam yang menyamankan hati, nyanyian burung yang merdu pada setiap tempat. 8. Sastra sebagai Manivestasi Keindahan Sastra sebenarnya tulisan yang indah. Oleh sebab itu, sastra dapat memunculkan kenangan bagi pembacanya. Kesenangan itu disebabkan oleh kehadiran pengalaman baru bagi pembaca. Pembaca dapat mengembangkan imajinasinya untuk mengenal daerah atau tempat yang asing, yang belum dikunjunginya, atau yang tak mungkin dapat diungkapkan lewat sastra. Bentuk-bentuk baru yang dimunculkan oleh Sutardji Calzoum Bachri dengan sajaknya yang aneh, membuat kita merasa senang karena kita menemukan yang baru, membaca hal baru, dapat memberikan nuansa indah baik tentang makna maupun bentuknya. Cara penceritaan Supernova (2001) karya Dewi Lestari juga memiliki kebaruan, yakni seperti silang antara gelang cerita dan inti cerita. Pada gelang cerita hadir Ruben dan Dhimas. Pada inti cerita hadir Ferre, Rara, dan Diva. Akan tetapi, pada suatu saat Diva dapat muncul pada gelang cerita.

PUISI-PUISI LOMBA BACA PUISI RUMAH KATA 2012



Sketsa Anak Harapan
Karya  : Nasib TS

Serombongan anak yang kemarin kita lepas
dari gerbang almamater tidak sekadar membebaskan beban
dari pundak Ki Hajar Dewantara
yang kini bertahta di setiap puncak menara gading akademis
menjunjung tinggi amanah falsafah TUT WURI HANDAYANI

Serombongan anak yang kemarin kita lepaskan
dari tuntutan akademis menambah jubelan
di luar gerbang almamater
Mereka berjalan dengan langkah melayang dikoyak angin
Pusaran waktu dan zaman memusingkan kepala


Sebab, antara program dan kemungkinan lain
lebih dari sekadar matematika atau data statistika
dan hidup memang bukan teka-teki silang!


(Diam.
Ruangan itu sudah lama ditinggalkan.
Bangku-bangku sepi kosong tinggal kenangan...)

“Bukan kemerdekaan namanya kalau orang tak bebas menuntut apa yang menjadi hak. Dan kamu  telah berangan-angan. Demikian enakkah? Kamu bukan tukang mimpi. Harapan milikmu. Dan ini bukan janji tanpa karsa, perjuangan dan kerja keras…”

Demi sebuah kesempatan,
serombongan anak yang kemarin kita lepaskan
dari gerbang almamater
menuntut ramai ke jalanan resmi
di desa maupun kota

Sebab namaku juang anak ibu pertiwi
Rindu pulang pada harapan






KAU-lah PAHLAWAN
Karya  : Helmy Fenisia

Setelah kujejak langkah
Meninggalkan waktu yang kian melaju
Bersama asa dan cita – cita
Kini kuberdiri di atas jaya

Namun kusadar
Semua tak mungkin datang begitu saja
Teringat saat kueja kata pertama
Semua itu karena dirimu

Ketika kau tuang ilmu
Pada gelas kehidupanku
Kuteguk dan tak kusisakan haus

Kuingat pada pahlawan tanpa jasa
Yang membimbingku untuk melangkah

Saat ini setelah masa merenggut jumpa
Kita berdiri di sini merenda cerita
Beda..tentu saja…sebab waktu memisah sekian lama
Namun kau tetap pahlawan
Yang membawaku menang
Meraih masa depan




Tentang Rasa
Karya : Idris Siregar

Sepeninggal surat ini
Jangan pernah kita ceritakan lagi kisah
pada malam malam memutih
saat bulan dan bintang sembunyi
di balik dua hati yang berseri

lalu jam berdetak  menuakan musim
silampun berganti antri menuju masa
tak kala pagi itu
terlanjur kau dan aku membenci perasaan
yang semkian tak tercatat dalam almanak

maka, biarkan aku yang memilih
mencari  ruang lain buat senyum ini
maka biar aku yang berlari
mencari  ruang lain buat batin ini

sepeninggal surat ini
jangan pernah merasa!



Daun – Daun Gugur
Karya : M.Raudah  Jambak

Daun daun gugur berterbangan ditiup angin
Menari sendiri dengan
Musiknya senidri
Tariannnya membatasi musim-musim pada kemarau
Hati yang jatuh di permukaan tanah yang kerontang
Tersentuh olehku elusan kematian
Riuh rendah di antara nafas-nafas resah, perhiasan di ruang ventilasi hidup, yang gelisah dalam bentang waktu yang pengap, Burung pun tak ingin lagi bernyanyi, menari dengan musiknya sendiri atau apa saja yang menghiasi cinta hari ini


Di pekarangan rumah, seperti pasukan pemburu melepaskan anak-anak panah pada mangsanya.
Memenuhi zona perjuangan tanpa melempangkan ruang sasaran, ruang peperangan. Anak- anak yang bermain tetap pada kekanakannya, berlari, meloncat, berteriak, menangis, tertawa, minum, dan makan di suapan kasih sayang ibunya setelah lelah atas segalanya dalam kesenangan dan kesedihan. Dan digurat-gurat wajah tak ada kesan yang menjanjikan . Dipenjelajahan belukar  yang kutembus hanya daun-daun gugur, jalan telah kubuka untuk kau lewati




Nyanyian Anak Kecil
Karya Suyadi San

Pak, Belikan aku permen mainan
Biar aku senang punya banyak kawan
Pak, Belikan aku bulan mainan
Biar kusuruh ombak bergurauan
Pak, Nantikan aku di ujung zaman
Biar  aku selamat di tempat tujuan
Pak, Songsongkan aku nyanyian malam
Biar kutangisi baju silamku
Pak,Tolong tanyakan pada sang awan
Apakah aku bisa bertanya
Mengapa bintang tak lagi berwarna


Pak, aku ingin kemerdekaan
Tanpa kawan dan ancaman
Pak, Jangan biarkan berteman
Nanti aku kehilangan marwah yang diselipkan ibu dalam pangkuan
Pak, Biar kupanah saja kemajuan zaman
Biar kupanah saja kemajuan zaman

Pak, Kan kutanya lagi ke mana dikau
Rindu kenangan masa silam
Tertatih-tatih aku ,
menyelusuri ombak
Dipermainkan mabuk kemudharatan
Tak kan kutanya lagi ke mana dikau
Sebab aku sudah cukup senang keterasingan


MEDAN BUKAN MESAWANG
Karya : Hidayat Banjar

Gurupatimpus tiba dan membuka lahan
didapatnya air sebening kaca,
hewan dan pepohonan tak bercuriga
lalu ia bersorak ke angkasa: Madan
orang-orang pun berdatangan
tempat itu bukan mesawang

beratus tahun kemudian, Guru membatu
jadi tugu tak berjiwa

Medan, rumah besar kita
dalam keniscayaan sejarah, berubah
keluarga besar kita
dalam keniscayaan sejarah, berubah
rumah dan keluarga besar kita
dalam keniscayaan sejarah, melapuk
pundamen yang didirikan Patimpus tergerus

di sini tidak ada lagi kepala kampung 
yang berperan  sebagai ayah pengasih
berganti Bapak yang membentak
ketika anak-anak keliru melangkah

di sini tidak ada lagi tetes embun menyejukkan
berganti air mendidih melepuhkan
tidak ada lagi mentari hangat
berganti terik menyiksa

kita senantiasa menajamkan ujung penjarum
untuk saling tusuk mengokohkan pendulum
anak-anak yang tak punya dahan bergantung
tercerai berai ditiup angin peradaban urban
akankah kita biarkan Medan jadi mesawang? 

Bapak, berperanlah sebagai ayah, tatalah kota
dengan bahasa rakyat yang adalah anak-anakmu jua
janganlah terus-menerus menggusur pedagang kaki lima
dan orang-orang jalanan atas nama keteraturan
Bapak, sesekali bukalah baju kekuasaanmu
berbaurlah dengan rakyat agar kau paham
pedagang kaki lima, asongan dan lainnya
adalah anak-anakmu jua
penyangga kaki-kaki perdaban urban

ayo lepaskan bujumu sesekali saja
agar Patimpus dapat berteriak ke mana-mana
: Medan bukan mesawang



*Mesawang, kosakata Batakkaro yang artinya kira-kira sunyi, lapangan yang luas, berada di tempat yang tinggi sehingga membuat gamang (takut atau menakutkan). Kata kesawan boleh jadi berasal dari mesawang


Rum 1965
Karya  : Jones Gultom


Tidurlah Rum, besok pagi-pagi sekali kau harus bergegas
perang ini terlalu dingin untukmu
kau masih terlalu muda untuk sebuah kepala
ini bukan kali yang pertama
ibu paham betul baunya; angin yang kaku, langit yang rapuh
dan semesta yang beku

setelah itu kepala-kepala, darah-darah,
menempel di daun pintu.
tak perlu lagi kau menangis
kita telah kehabisan airmata
tugasmu cukup menuliskan sejarah

Tidurlah, biar ibu yang menunggu
kau belum pantas memilih; mati atau mati!
tak perlu kau meninggalkan tempat tidurmu
hanya karena kami yang salah membangun rumah sendiri

Tidurlah langit mulai menghitam
telah kusembunyikan bulan untukmu
kira-kira tujuh langkah dari tempat bapakmu dulu dihabisi

kelak bila kau dewasa
tanamlah sebatang pohon di sana

dan bila kau rindu, panjatlah rantingnya
lihatlah ke langit, di sana bapak-ibumu ibu sudah menunggu.

Tidurlah Rum... tidurlah
meski hari ini tak ada nasi yang mengenyangkan perutmu!


Seminar Nasional Bahasa & Sastra Berkarakter Lokal Bertindak Global

Pembicaraan kekinian bahasa tidak terlepas dari peran bahasa itu dalam perjalanan masa lalu sampai kini. Bahasa memainkan peran dalam konsolidasi organisasi - Terutama sejak kebangkitan kebangsaan 1908 (Boedi Utoemo) dan memainkan peran dalam pencerdasan kehidupan masyarakat. Bahasa Indonesia bukan sekedar sarana/ alat berkomunikasi, namun mampu menjadi media ekspresi. Bahasa Indonesia sebagai media ekspresi terbukti jelas pada tercetusnya Sumpah pemuda (1928), dan Proklamasi kemerdekaan (1945). Terkait dengan peran kebahasaan tersebut, Balai Bahasa Medan mengadakan Seminar Nasional Kebahasaan & Kesasteraan, Senin (22/10) di Santika Premiere Dyandra Hotel, Jalan Kapten Maulana Lubis, Medan. Seminar bertema “Bahasa dan Sastra Berkarakter Lokal Bertindak Global” menghadirkan 4 pembicara: Dendy Sugondo (Peneliti Badan Bahasa Depdikbud RI), Prof Amrin saragih (Unimed), Prof Robert Sibarani (Guru Besar USU ), dan Prof Ikhwanuddin Nasution (USU). Bertindak sebagai pemandu seminar T Syarfina M. Hum dan Rosliani M. Hum. Kepala Balai Bahasa medan T Syarfina M. Hum dalam sambutannya menyatakan, seminar yang diselenggarakan merupakan kegiatan Ilmiah tahunan dalam rangka Bulan Bahasa dan Sastra. Seminar ini diharapkan mampu merumuskan persoalan bahasa Indonesia di tengah arus global. Di samping itu, kita tidak melupakan karya-karya sastra kita yang merupakan khazanah kekayaan budaya kita. Dendy Sugono menyatakan Budaya asing (termasuk bahasa asing) telah sedemikian jauh merambah ranah kita. Tatanan baru kehidupan dunia dan perkembangan ilmu pengetahuan teknologi informasi dalam era globalisasi, telah menempatkan bahasa asing pada posisi strategis. Bahasa asing merambah memasuki sendi kehidupan bangsa dan mempengaruhi perkembangan bahasa Indonesia. Hal ini membawa perubahan gaya hidup dan prilaku masyarakat dalam berbahasa. Dalam dunia pendidikan, penggunaan bahasa asing sebagai bahasa pengantar pendidikan mulai meresahkan masyarakat. Sejumlah sekolah bertaraf internasional (SBI) dan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) menempatkan bahasa asing sebagai bahasa pengantar. Hal ini jelas-jelas bertentangan dengan Pasal 36 UUD 1945 yang menyatakan bahasa resmi Negara ialah bahasa Indonesia. Pasal 33 UU No. 20 Tahun 2003 juga secara jelas menyatakan bahwa bahasa pengantar pendidikan nasional ialah bahasa Indonesia. Amrin Saragih berpendapat, bahasa memegang peran utama dalam membentuk jati diri dan karakter bangsa. Jati diri yang didayagunakan secara operasional dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi, merupakan karakter bangsa. Kemajuan suatu bangsa bersumber pada jati diri bangsa dan kemampuannya mendayagunakan karakter yang terealisasi oleh dan menyatu dengan bahasa. Prof Robert Sibarani berpendapat bahwa tradisi lisan adalah kegiatan budaya tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Pengumpulan informasi tentang kelisanan sangat penting. Bersastra lisan adalah bagian dari tradisi yang berkembang di tengah masyarakat yang menggunakan bahasa lokal sebagai media utamanya. Dengan demikian pemahaman terhadap kearifan lokal sebagai nilai-nilai budaya luhur bangsa kita dapat dimamfaatkan sebagai pembentukan karakter bangsa Masyarakat tidak bisa mengelak dari era globalisasi. Namun, gejala globalisasi di segala bidang harusnya disikapi dengan arif bijaksana. Globalisasi itu sendiri sangat diperlukan dan dimamfaatkan untuk kemajuan. Akan tetapi jangan terbuai dengan hal-hal negative dari globalisasi tersebut. Oleh karenanya nilai-nilai budaya dan kearifan lokal harus dijaga, dan direvitalisasi menjadi bagian karakter bangsa. Dengan kata lain, karakter lokal itu dapat dipergunakan untuk bertindak dalam era globalisasi. Menurut Ikhwanuddin Nasution, budaya lokal belum membumi Untuk itu Ikhwanuddin Nasution berharap para sastrawan khususnya di Sumatera Utara menggali nilai-nilai budaya lokal dalam berkarya. MYR

Senin, 14 Mei 2012

DIARY KEMATIAN

Cerpen Hasudungan Rudy Yanto Sitohang pada 13 Mei 2012 pukul 23:58 · Ketika desau angin meluruhkan ranting-ranting kering ke tanah, menyisir tumbuhan yang menyemak liar, aku tetap berdiam dalam rintihan jiwa. Seperti daun-daun kamboja berguguran di antara makam-makam terbentang bisu. Tak berdaya menahan kepungan mentari pagi dan geliat suara langit memekakkan hati. Meliuk diam-diam di antara kebohongan yang tersimpan rapi. Meskipun aku mampu menahan bara hingga kini, itu karena api yang menyala di dada belum sampai membakar habis hormatku padanya. Dengan sekuat tenaga, kujaga nyalanya supaya tidak berkobar-kobar menjadi raksasa api. Ya, pagi ini aku dan Ibu berziarah ke makam ayah. Kebiasaan yang kami lakukan dua tahun belakangan, setiap dua bulan sekali. Menaburkan mawar merah ke atas pusara ayah, yang Ibu petik sendiri dari kebun belakang rumah. Bunga-bunga yang beraroma busuk. “Jangan kotori pusara itu, Bu!” batinku teriak marah. Di hadapan lelaki yang kini terbaring abadi di bawah gundukan tanah itu-yang pernah mencintainya setulus hati-kedua tangan Ibu begitu cekatan mencabuti rumput-rumput liar. Puihh…! Sungguh tak layak Ibu melakukan itu! Noda-noda hitam itu tak akan terhapus sebelum Ibu berucap ampun di kaki pusara ayah! Sambil berjongkok, aku membersihkan sampah dan kotoran di celah gundukan batu-batu yang bersusun rapi. Meskipun debu-debu yang melekat begitu sulit kubersihkan. Andai Ibu tahu, bahwa hal ini kulakukan sekadar untuk menutupi rasa gundah dan amarahku yang membakar belakangan. Sudahlah, Bu, jangan berpura-pura padaku! Begitulah, tanpa Ibu sadari ternyata aku telah masuk ke dalam bayang-bayang masa lalunya ketika membaca lembar demi lembar kisah cintanya dalam diary hitam itu. Tanpa sengaja, aku menemukannya di antara tumpukan buku-buku tua dan majalah bekas di gudang belakang. Ketika membaca halaman pertama, aku langsung tersentak. Ini adalah mimpi buruk. Apa yang kupikirkan tentang Ibu, perempuan yang telah melahirkan dan membesarkan aku hingga menikah dengan lelaki yang kucintai itu, sekarang berbalik. Aku marah! Aku kecewa! Ibu ternyata tak lebih dari perempuan jalang yang merayap di kesunyian malam di jalan-jalan kota. Terhapus sudah rasa kagumku padanya. Padahal dengan mata hati, kusaksikan bagaimana Ibu merawat ayah dengan sabar selama sepuluh tahun terakhir akibat kecelakaan di tempatnya bekerja. Sebilah besi panjang jatuh dari tiang penahan jembatan menimpa ayah hingga membuat separuh tubuhnya lumpuh tanpa daya. Ah, tak seorangpun percaya bahwa Ibu, perempuan yang setia menemani ayah seharian di beranda depan, yang memandikannya setiap pagi dan sore, serta menyuapinya makan, ternyata bermain api dengan membagi cintanya pada bajingan itu. “Kamu melamun lagi, Nisa?” Ibu membuatku kaget. Kupaksakan wajahku membalas pandangan matanya, menyembunyikan segala tanya yang melintas di kepala. “Tidak apa-apa, Bu. Aku tidak melamun.” Wajah Ibu penuh gurat-gurat api. Wajah penuh duri yang mencuat tajam, menyakitkan siapapun yang terkena ujungnya. Aku menunduk gelisah sambil mengelus-elus nisan itu. Kucoba mengirimkan ketenangan untuk mendinginkan hati ayah yang barangkali juga terbakar di bawah sana, dari tidur abadinya. “Sudah selesai. Mari berdoa untuk ayahmu,” ucap Ibu bangkit berdiri. Embusan angin di pekuburan ini semakin lama semakin kencang, menyisakan riak-riak yang kurasa tak mampu menahan lahirnya tunas-tunas dendam di hatiku. Amarah yang tumbuh untuk membunuh bajingan itu. *** Handoko! Nama bajingan itu selalu menggangguku tanpa kutahu seperti apa sosoknya? Apa istimewanya dia sehingga namanya tetap tumbuh mekar di hati Ibu. Dan begitu hebatkah lelaki itu sampai-sampai Ibu tak mampu menghapus cintanya pada bajingan itu, bahkan saat ayah sudah berada di alam baka? Bersama pendar lampu meja hias kamarku berwarna oranye, setiap untaian kata dalam lembar demi lembar diary itu kubaca perlahan dan hati-hati. Kucoba mencari rahasia dari kebohongan yang ditutupi selaput waktu. O…sungguh pandai Ibu menyembunyikan kebusukan di dalam ceruk hatinya. Luar biasa! Perempuan sederhana yang pendiam itu, ternyata mampu menyimpan bangkai yang pada akhirnya menguap ke permukaan. Cinta. Kata-kata itu teruntai bermakna dalam cerita panjang lewat goresan indah di setiap lembarannya. Remuk redam tubuhku memahami ungkapan perasan ibu yang terang benderang menyiratkan kerinduan pada bajingan itu. Setiap halaman tertulis sajak-sajak penuh gairah dan letupan asmara. Ibu layaknya pujangga kesepian, mengharap kekasihnya kembali mengisi hatinya yang kering kerontang bertahun-tahun lamanya. Kini kebencianku pada Ibu terbentang lebar. Segudang tanya menyergapku, melahirkan dendam yang harus kuselesaikan sendiri. Kehormatan ayah harus dikembalikan. Martabat keluarga harus kusucikan kembali. Aku tak perlu larut bertanya-tanya mengapa hal ini terjadi. Segala rencana harus kupersiapkan matang, kusimpan rapat-rapat sambil menantikan waktu yang tepat menghujamkan belati ke tubuh bajingan itu. Ingin kunikmati jeritannya setiap kali belati ini menembus jantungnya. *** Tapi ke manakah akan kucari bajingan itu? Tak sebuah foto atau alamat pun yang kutemukan. Berulangkali kubolak-balik diary itu mencari jejaknya. Tetap saja tak ada. Aku seperti memegang debu di langit kelabu. Aku semakin putus asa. Ibu memang tak sesederhana yang kuduga. Ia ternyata pintar menyembunyikan keberadaan Handoko. Di mana kau, bajingan? Jangan bersembunyi lewat sajak-sajak dan puisi busuk itu! Tunjukkan dirimu! Mungkin Handoko hanyalah seorang penyair lusuh, penulis roman picisan atau pemain sandiwara yang hidupnya tak karuan. Hanya namanya yang kutahu, dan umurnya yang mungkin kurang lebih sama dengan ibu. Berbekal petunjuk tak seberapa itu, kucari bajingan itu penuh dendam berkobar-kobar. Dendam seorang gadis untuk menegakkan tabut cinta sang ayah. Kutelusuri taman budaya tempat para seniman berkumpul, kujalani gedung-gedung pertunjukan di kota ini, siapa tahu aku mendapatkan dirinya sedang berada di atas panggung memainkan lakon cinta yang buruk. Kutanyakan juga namanya pada perempuan-perempuan jalang di pinggir pekuburan jalan Gajah Mada dan lokalisasi Gagak Hitam. Mungkin salah satu dari mereka pernah menghabiskan malam penuh cumbuan liar yang menjijikkan bersama Handoko. Lelaki kesepian memang membutuhkan belaian cinta, bukan sekadar ungkapan kata-kata. Bajingan sejati tak mungkin hidup semata-mata hanya dengan cinta. Kini malam semakin merangkak meninggalkan senja jauh di belakang. Lampu-lampu temaram menerangi langkahku menyusuri sudut-sudut maupun lorong kota yang sepi. Gedung-gedung tinggi tegak membisu. Di seberang bundaran air mancur, sebuah warung kopi dadakan penuh lelaki malam menatapku dengan senyum mesum dan pandangan berahi ketika aku melintas di depan mereka. Kupegang erat tas kecilku. Sebilah belati masih terasa dingin di sana, sedingin kedua kaki yang membawaku pulang. Kutinggalkan jejak-jejak penasaran agar esok dan esoknya lagi, aku terus menapak ke empat penjuru angin, di mana bajingan itu berkeliaran seperti anjing malam. “Dari mana kamu sampai tengah malam begini baru pulang, Nisa? Agus sampai gelisah menunggumu sejak sore tadi.” Ibu menegurku ketika melewati ruang tengah. Aku mendengus tak karuan. Seketika rasa benciku keluar. Kutatap mata Ibu yang menyorot tajam. Mata yang gelisah. Mata penuh curiga. “Apa itu penting bagi Ibu!” “Ibu hanya bertanya. Ibu khawatir kamu kena apa-apa di luar. ” “Kalau begitu Ibu tak usah bertanya!” “Nisa…!” suara Ibu tertahan, “Sudah demikian jauhkah dirimu? Ibu tak mengerti kenapa akhir-akhir ini kamu terlihat berubah.” Dada Ibu naik turun menahan emosi. “Berubah? Apa Ibu pikir aku sama seperti jalang berdiri kesepian di jalan yang bersetia menunggu para lelaki sialan jatuh ke dalam pelukannya? Tuduhan Ibu sungguh kejam!” Mataku menatap tajam padanya. “Ibu tidak menuduhmu.” “Tak pantas Ibu bicara seperti itu. Harusnya Ibu bertanya pada hati yang suci, bukan masa lalumu penuh busuk itu.” “Nisa…!” Ibu terperanjat. Kaget. Tak kuhiraukan panggilannya. Aku masuk ke dalam kamarku sambil menutup pintu dengan keras. Di atas ranjang, kulihat Agus terlelap tidur, tubuhnya meringkuk di bawah selimut. Kuraba pelan belati di dalam tasku. Masih terasa dingin. Tubuhku bergetar ketika melihat wajahnya berubah seperti lelaki tua dalam pikiranku. *** Tak ada malam yang mendatangkan sial selain malam ini. Ibu meneleponku barusan. Ia mengatakan bahwa dirinya benar-benar sayang padaku. Ia takut kehilangan perempuan permata hatinya. Puihh! Aku bukan gadis kecil yang bisa dibuai dengan dongeng-dongeng bodoh. Bukankah kami sama-sama perempuan dewasa yang diberi anugerah untuk berbicara dari hati ke hati? Tak perlu kata-kata memesona. Tak perlu sajak-sajak itu lagi. Andai Ibu tahu bahwa kesucian cinta pantang dinodai dengan kebohongan. Andai Ibu ingat bagaimana dulu ia mengajarkan arti kesucian kepadaku, agar aku selamat dari lendir-lendir hitam berbau busuk, dari lelaki serupa iblis di lorong kegelapan. Lalu lalang mobil di depan kurasakan seperti bayangan iblis menyeringai tajam. O…tiba-tiba dari mobil-mobil itu keluar sosok menyerupai lelaki tua yang selama ini tercipta dalam pikiranku. Begitu banyak jumlahnya, wajahnya pun persis sama. Mereka tertawa keras sekali. Dadaku berdegup kencang. Aku segera berlari menerobos bayangan-bayangan itu, melewati orang-orang yang menatapku aneh. Aku ingin segera bebas dari pikiran yang membelengguku. Setibanya di rumah, aku tak mendapati ibu yang biasanya menungguku pulang. Kulangkahkan kaki menuju kamar. Saat masuk, tiba-tiba kulihat lantai kamar penuh ceceran darah. Mataku membeliak, suaraku tercekik di tenggorokan menyaksikan Agus, suamiku itu, meregang nyawa di atas ranjang. Kedua tangannya memegang leher yang terus mengucurkan darah. Badannya bergerak-gerak tak karuan. Matanya mendelik. Lidahnya terjulur keluar. Di sampingnya kulihat Ibu duduk tenang di pinggir ranjang. Di tangan kirinya tergenggam sebilah belati yang masih meneteskan darah. Dan kulihat sebuah diary hitam tergeletak di pangkuannya. Diary itu adalah milikku. Perlahan aku berjalan menuju buku diaryku itu. Aku masih ingat lembar terakhir yang kutuliskan di sana. Curahan jiwaku ketika memergoki Agus selingkuh dengan teman sekantornya. Kutatap wajah Ibu yang penuh percikan darah. Dari matanya terpancar rona kepuasan setelah menikmati jeritan lelaki malang itu. Medan, Maret 2012

Selasa, 13 Maret 2012

SEPENGGAL KECEWA

Cerpen M. Yunus Rangkuti

Aku mengemudi mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Pengaruh minuman beralkohol memang kurasa, namun pikiranku masih normal. Kulirik arloji, hampir mendekati pukul satu dinihari. Jalan protokol yang kulalui begitu lengang. Hanya satu dua kenderaan melintas. Ruko-ruko telah pada bertutupan. Konsentrasiku masih terjaga. Aku meraih bungkus rokok di dash-board, hanya tersisa sebatang. Rokok kusulut, dan mengisapnya dengan tarikan lebih dalam. Kuturunkan sedikit kaca samping, angin malam menerpa wajahku dengan kencang. Aku merasa lebih nyaman.
Dari kejauhan, lampu pengatur lalulintas masih bewarna hijau. Pedal gas agak kutekan menambah kecepatan. Tiba-tiba saja dari sebalik kenderaan yang parkir, dua sosok berangkulan menyeberang. Aku tersentak. Klos kupijak dan menurunkan porsneling dan buru-buru memijak rem mencoba menurunkan kecepatan. Terlambat, mobilku menyambar satu dari mereka yang sempat reflek mendorong yang lainnya. Terdengar benturan dan jeritan. Aku sedemikian panik. Tak mampu mengendalikan laju kederaan. Mobilku meluncur menabrak trotoar, lalu terangkat menghantam tiang traffic light.

***
“Sudah, bung! Dari tadi Anda berdiri terus di situ. Lebih baik kita duduk-duduk di pojokan sana,” ajak seseorang membuyar ingatanku akan mimpi buruk itu. Tangannya berusaha melepaskan jemariku dari terali besi yang tak sadar kupegang erat. “Ayo bung!” Bahuku dirangkulnya. Tubuhku serasa lemah. Aku seakan kehilangan separuh tenaga.
“Nah, di sini kan lebih enak. Kita bisa ngobrol apa aja. Betulkan bung. Bah! hampir lupa, aku Tigor,” ujarnya menyodorkan tangan.
“Haris,” sambutku tanpa gairah.
“Oke, Bung Haris. Kalau boleh aku tau, apa yang jadi penyebab bung terdampar di sini? Maksudku, mengapa bung masuk penjara? ”.
“Aku telah membunuh seseorang,” jawabku datar. Lelaki di hadapanku tampak terkejut. “Kenapa terkejut, bung?”.
“Ah, tidak. Cuma, aku tak percaya itu. Aku lihat tampang bung bukan tipe seperti itu. Maksudku, tampang kriminal.”
“Terserah penilaian bung. Yang jelas aku telah membunuh seseorang.”
“Perkelahian? Bung terpaksa melakukannya? Lelaki itu masih tak percaya dengan apa yang telah kulakukan. Aku merasa lelaki itu sedikit bisa membaca tipe seseorang. Aku jadi ingin tau pula tentangnya. Apa yang menjadi penyebab dia masuk penjara.
“Bukan. Bukan perkelahian. Aku telah menabrak…”
“Bah! Betul dugaanku. Tak mungkin bung telah membunuh,” potongnya cepat.
“Ya. Tapi, sama saja itu. Sama-sama membunuh.”
“Jelas beda bung! Kategori bung pelanggaran, bukan pembunuhan.”
“Pendapat bung betul. Masalahnya, tuduhan yang dikenakan padaku tidak hanya sebatas pelanggaran, tetapi ditambah unsur kesengajaan. Jelasnya aku dituduh sengaja melanggar untuk membunuh.”
“Bah! Mengapa begitu? Apa dia musuh bung?”
“Hanya orang sinting yang membunuh musuhnya dengan cara melanggar, sementara dia sendiri nyaris mampus, Kawan.”
“Jelasnya dia bukan musuh bung. Lantas, mengapa tuduhannya berkembang seperti itu?”
“Ini gara-gara perempuan sial itu!”
“Amangoi! Apa pula hubungannya dengan perempuan?”
“Kejadiannya memang bermula dari perempuan itu. Mau bung mendengar ceritanya?”
“Teruskan bung. Aku jadi tertarik.”

***
Satu waktu ada relasi menghubungi dan mengajakku makan siang untuk membicarakan bisnis yang akan ditawarkannya. Kami memilih restoran yang terletak di sudut perempatan jalan. Seorang waitress menyerahkan daftar menu seraya menghadiahkan senyum teramat manis. Wajahnya tampak cantik di mataku. Tubuh serta cara dia melangkah membuatku terpesona. Sejak saat itu, tanpa harus diajak pun, aku selalu menyempatkan diri makan ke restoran itu.
Kami berkenalan dan berkembang menjalin hubungan akrab. Setiap ada kesempatan, aku menjemputnya. Mengajaknya jalan-jalan, menonton, berbelanja, dan apa saja untuk menyenangkan hatinya. Ini kulakukan, karena yakin dia telah jadi milikku. Kekasihku. Tak jarang pada beberapa kesempatan, kami menyewa penginapan dan telah berkali berhubungan intim. Layaknya suami isteri.
Hingga satu waktu aku mendengar kabar, perempuan itu sebenarnya isteri simpanan. Suaminya perwira kapal pesiar mancanegara. Dalam setahun hanya dua kali berlabuh ke sini. Awalnya aku tak yakin, namun setelah mendengar dari banyak orang, aku mulai goyah. Apalagi setelah melihatnya sedemikian mesra berangkulan di satu pusat perbelanjaan.
Melihat dan mendapatkan kenyataan itu, darahku sontak mendidih, namun aku masih sanggup menahan emosi untuk tidak membuat keributan. Saat kutanyakan tentang kabar miring yang kudengar, ia pun mengaku tentang status dirinya. Seraya berupaya menahan amarah, karena ditipu dan merasa dipermainkan, aku sempat melontar ancaman pada mereka.
Rasa kecewa kulampiaskan ke tempat-tempat hiburan. Hampir setiap malam aku berada di bar atau diskotik. Entah berapa banyak pelacur yang telah kugauli. Nyaris setengah dari gajiku kufoyakan untuk itu. Menjelang pagi baru kembali. Hingga malam kejadian itu, aku baru pulang dari satu diskotik di luar kota. Mobil yang kukenderai memang kupacu kencang. Tiba-tiba saja dua orang yang sedang berangkulan menyeberang seenaknya. Kegugupan seketika kurasa.
Semuanya berlangsung cepat. Aku menabrak satu dari mereka, mobilku meluncur menabrak trotoar, dan terhempas dengan deras menghantam tiang traffic light. Sesudah itu aku tak ingat apa-apa. Dua hari kemudian aku tersadar telah di rumah sakit. Hampir sebulan aku menjalani perawatan. Di sanalah baru aku tau orang yang kutabrak itu tewas seketika di tempat. Ternyata pria malang itu adalah si perwira kapal pesiar yang beristeri gelap si perempuan yang kuceritakan tersebut. Sementara perempuan itu sendiri selamat.

***
“Demikianlah Bung Tigor. Dari kejadian itulah timbul tuduhan aku sengaja hendak membunuh dengan cara menabrak, karena merasa sakit hati. Ditambah lagi perihal ancaman yang pernah aku lontarkan.”
“Bah! Betul-betul tragis apa yang bung alami. Namun, inilah kehidupan. Segalanya bisa bersebab-akibat. Kita tidak bisa memastikan realita apa yang akan kita hadapi, jalani, dan terima. Aku sendiri telah lima tahun menjalani hidup di penjara ini. Sebagai ganjaran dari pembunuhan yang kulakukan terhadap seorang yang tak bertanggung jawab setelah menghamili adikku.
Terlepas dari salah tak bersalah, sengaja atau tak disengaja, kita sedang menanggung akibat dari sebuah sebab. Ini realita yang tengah kita jalani dan terima. Satu hal pasti, kita terkadang harus membayar mahal untuk sekeping harga diri, bahkan sepenggal kecewa sekalipun. Mari Bung Haris, saatnya kita makan siang. Perutku sudah minta diisi.

Sampali

Senin, 12 Maret 2012

HAJATAN HUJAN

jelang hajatan awan menebal menggumpal
mendung menggelayut menyaput cerah
tuan rumah henyak murung dibalut resah

bawang cabai ditusuki lidi di pojokan halaman
jadi tangkal supaya jangan turun hujan
sang pawang membentang selendang
menaruh tujuh rupa kembang dan ayam panggang
tiga kepal nasi lengkapi sesaji
selepas semedi pawang berdiri menari
mulut komat kamit memandangi langit
mempermain keris ingin menangkis gerimis
tubuh bergetar saat mantranya terdengar

“hoi penunggu penjuru alam
yang semayam di arakan awan
yang terpejam di dingin angin
yang mendekam di hati bumi
yang membenam di perut laut
hari ini kami hajatan
jangan, jangan biarkan diguyur hujan
nah… nah… puih!
nah… nah… puih!

hoi penjaga segala mayapada
penjaga pintu jendela segala cuaca
tutupi segala pintu segala jendela hujanmu
hujan di hari ini
jangan, jangan biarkan di sini
nah…nah…puih!
nah…nah…puih!”

saat hajatan digelar kilat sambar menyambar
petir menggelegar hingar
tuan rumah terhentak, sang pawang terpacak
hujan turun kian tak tertahan
bocah bocah telanjang dada main kejaran bermandikan hujan

“kuluk kuluk hujan turun
kuluk kuluk hujan deras
kuluk kuluk hujan turun
kuluk kuluk hujan deras
Horre…horre…horre!”

Minggu, 11 Maret 2012

NAHUM SITUMORANG Dahulu Dan Sekarang

Oleh Poltak Sinaga

Ungkapan bijak mengatakan, seseorang yang tengah berlindung dan berteduh di bawah suatu pohon rindang saat terik menyengat, wajar dia mengucapkan terimakasih pada si penanam pohon itu. Bila seseorang tengah menikmati alunan lagu-lagu yang mampu menyejukkan hati atau menghiburnya, wajar dia mengucapkan terimakasih pada komponisnya.
Nahum Situmorang (foto) banyak menanam pohon kesejukan yang menghasilkan buah-buah segar seiring karya musiknya yang tetap digemari. Di sisi lain banyak penyanyi pop dari kalangan etnik Batak maupun etnik lainnya yang meraup keuntungan, memetik buah-buah segar karya Nahum demi kekayaan pribadi. Namun ungkapan terimakasih dari sejumlah penyanyi dan musisi yang meraup banyak keuntungan materi itu, nyaris tak terdengar. Pusara Nahum Situmorang hingga kini masih tetap berada di balik debu dan deru suara hingar bingar kenderaan kota Medan. Keadaan ini menunjukkan suatu fenomena ketidakpedulian. Pada hal, Nahum senantiasa menanti jawaban atas harapan yang mengiinginkan pusaranya dipindahkan ke bonapasogit (kampung halaman) di Pulau Samosir sebagaimana terpatri di dalam lagu berjudul, Pulo Samosir..
“Molo marujungma muse ngolungku sarihonma, anggo bangkekku di si tanomonmu, di si udeanku, sarihonma”. (Artinya, jika nanti aku mati, camkanlah bahwa jasadku akan kau makamkan di Pulau Samosir, di sanalah pusaraku). Benarkah ?
Sejarah atau riwayat hidup orang penting cenderung menjadi bacaan yang sangat menarik, begitu pula halnya dengan biografi dan berbagai anekdot para komponis legendaris, menjadi sangat menarik karena popularitasnya. Hal ini dapat menjadi cerminan, dan menjadi suatu kontribusi yang sangat berarti terhadap perkembangan apresiasi musik, pemberi warna terhadap kepustakaan musik dunia. Ragam informasi tentang riwayat komponis dapat memberi penjelasan mengenai karya-karya kreatifnya yang meliputi berbagai fenomena sosiomusikologis pada masa tertentu, termasuk perkembangan teknik berkomposisi serta teknik bermain musik yang mencakup berbagai aspek yang merupakan bagian dari elemen musik.
Dari sejumlah komponis legendaris dari tanah Batak, salah satu di antaranya adalah Nahum Situmorang, lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan, 14 Pebruari 1908. Sejak kecil bakat musiknya telah terlihat. Tahun 1924 Nahum melanjutkan sekolahnya di Kweek School Jakarta, kemudian pindah ke Lembang, Bandung dan tamat tahun 1928.
Rasa kerinduan dan kecintaannya pada kampung halaman (bonapasogit), yakni kawasan danau Toba yang mengelilingi pulau Samosir dengan segala pesona keindahannya, serta siklus kehidupan keseharian masyarakatnya, menjadi sumber inspirasi yang tidak habis-habisnya bagi Nahum dalam berkarya. Lagu-lagu Nahum menjadi sangat populer baik di kalangan etnik Batak Toba, skala nasional, maupun mancanegara. Deretan judul lagu-lagu itu di antaranya, O Tao Toba, Lissoi, Pulo Samosir, Sitogol, Unang Sumolsol Dipudi, Molo Borngin Di Silindung, Beha Pandundung Bulung, Anakhonhido Hamoraon di Au, Huandung Ma Damang, Sai Tudia Ho Marhuta, Silindung Najolo, Sai Gabe Maho, Sapatani Napuran, Tumagon Nama Mate, Ala Dao, Molo Sautma Ho Lao tu Nadao, Holongni Rohamdo Sinta-sinta di Au, Ndada Tartangishon, Si Singamangaraja, Timbo Dolok Martimbang, Alani Ho, Manukni Silangge, Situmorang Nabonggal, dan masih banyak lagi hingga berkisar 120 lagu.
Ternyata aktivitas Nahum tidak terbatas pada kegiatan musik. Pada tahun 1928, Nahum ikut dalam barisan Perintis Kemerdekaan sebagai anggota pada Kongres Pemuda, dan pada tahun yang sama mengikuti Lomba Cipta Lagu Kebangsaan Indonesia yang pada masa itu dimenangkan oleh WR. Soepratman. Lagu karya Nahum berada di posisi runner up (urutan ke dua) dari sejumlah peserta lomba. Kemudian tahun 1929, Nahum pindah ke Sibolga, bekerja sebagai guru di Bataksche Studiefond hingga tahun 1932. Pada tahun yang sama Nahum pindah ke Tarutung dan mendirikan sekolah yang diberi nama, Wester Langer Onderwijs. Sekolah ini hanya bertahan hingga kedatangan tentara Jepang tahun 1942. Sepanjang hayatnya Nahum Situmorang tidak mau bekerja sebagai pegawai pada pemerintahan Belanda, kendati peluang untuk itu terbuka lebar. Nahum dikenal sebagai seorang yang berjiwa nasionalis dengan sikap kemandirian yang kuat.
Di sela-sela kehidupannya sebagai seorang guru, Nahum tetap kreatif menciptakan lagu-lagu dalam berbagai ragam irama. Tahun 1936, Nahum menjadi pemenang dalam Lomba Cipta Lagu, Sumatera Kerontjong Concours yang diselenggarakan di Medan. Tahun 1949, Nahum pindah ke Medan, di sini ia lebih leluasa untuk bernyanyi dan berkarya. Dalam pergaulan sehari-hari Nahum dikenal memiliki pribadi yang sangat luwes dan sangat digemari di lingkumgan pergaulannya karena didukung oleh kepiawaiannya bermain musik dan bernyanyi.
Lagu berjudul, Lissoi diciptakannya saat menikmati minuman tradisional Batak Toba (tuak) yaitu, minuman berkadar alkohol yang bersumber dari kelapa. Minuman tersebut setiap hari atau malam dihidangkan di Pakter Tuak (warung minuman tuak). Dalam situasi keramaian seperti itu, Nahun sanggup mengubah lagu berikut syair dengan kualitas komposisi yang sangat mengagumkan. Lagu Lissoi yang diciptakan dalam suasana keramaian diantara parmitu ( parminum tuak) yang berarti peminum tuak merupakan salah satu karya Nahum yang sangat populer hingga sekarang, bukan saja di kalangan masyarakat Batak, akan tetapi merambah keseluruh lapisan masyarakat bahkan ke manca negara.
Sekitar tahun 1950-an, Nahum Situmorang mendirikan grup musik yang disebutnya dengan Nahum’s Band. Grup ini pada umumnya membawakan lagu-lagu karya Nahum. Nahum’s Band sangat populer di kalangan masyarakat Batak. Pada masa itu mereka banyak mendapat tawaran untuk mengisi acara-acara hiburan di kalangan masyarakat maupun di berbagai instansi pemerintahan. Pada tahun 1960, Nahum’s Band mengadakan serangkaian pertunjukan musik di Jakarta. Dalam setiap pertunjukan mereka mendapat sambutan yang sangat meriah terutama dari kalangan komunitas Batak Toba yang bermukim di Jakarta. Nahum’s Band banyak mendapat pujian dan sanjungan dari para pejabat pemerintahan dan dari orang asing (anggota kedutaan) dari berbagai negara yang menyaksikan konser Nahum’s Band. Kendati orang-orang asing tersebut tidak mengetahui makna syair (teks) lagu, namun mereka sangat meresapi komposisi musiknya. Dari rangkaian konser tersebut, banyak tawaran agar Nahum’s Band mengadakan konser musik di berbagai negara, tetapi karena sesuatu hal tawaran itu tidak terlaksana.
Kehidupan Nahum Situmorang tidak sesukses lagu-lagunya. Nahum gagal dalam bercinta, sang kekasih yang sangat dicintainya jatuh kepelukan pria lain. Kegagalan ini menjadi beban berat dan menyakitkan bagi Nahum, ia bertekat untuk tidak bercinta lagi. Tragedi ini dilukiskan oleh Nahum dalam lagu berjudul, Sai Gabema Ho, Sapatani Napuran, Ala Dao, Molo Sautma Ho Lao Tu Nadao. Deretan lagu-lagu ini merupakan jeritan hati Nahum atau gambaran cintanya terhadap kekasih yang berpaling itu. Nahum tetap melajang di sepanjang hidupnya.
Lagu-lagu karya Nahum Situmorang tersebar luas ke seluruh penjuru tanah air bahkan ke mancanegara melalui penyiaran Radio Republik Indonesia (RRI), dari sejak awal kemerdekaan hingga tahun 1970-an. Volume penyiaran lagu-lagu Nahum mendapat porsi yang besar. Pada masa itu Nahum Situmorang telah merekam lagu-lagunya dalam bentuk Piringan Hitam (PH) di studio rekaman Locananta Indonesia dan studio rekaman Polydor Amerika Serikat, bahkan sebagian lagu-lagunya di terjemahkan dalam bahasa Jerman yang kemudian direkam dalam bentuk PH.
Kreativitas dan produktifitas Nahum dalam menciptakan lagu-lagu mendapat perhatian dari pemerintah Indonesia. Nahum mendapat penghargaan sebagai komponis nasional. Selain itu berbagai piagam penghargaan telah diterima Nahum Situmorang dan penghargaan terakhir yang diterimanya adalah Anugerah Seni dari pemerintah pada tanggal 17 Agustus 1969. Dua bulan kemudian, tepatnya tanggal 20 Oktober 1969 Nahum meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Karya-karya emasnya menjadi harta karun yang tiada habisnya, menjadi rebutan di kalangan penyanyi Batak.
Hampir seluruh album rekaman pop Batak, mulai dari penyanyi Eddy Silitonga, Victor Hutabarat, Rita Butarbutar, Emilia Contesa, Trio Lasidos, Jack Marpaung, Charles Simbolon, Trio Maduma dan sederetan penyanyi pop Batak lainnya selalu menyertakan karya Nahum Situmorang. Deretan penyanyi ini telah banyak meraup keuntungan yang sangat besar atas karya-karya besar Nahum. Namun tida terlintas di benak mereka akan keinginan Nahum semasa hidupnya yang jelas berkata, “Molo marujungma muse ngolungku sarihonma, anggo bangkekku di si tanomonmu, di si udeanku, sarihonma”.(FB)