Kamis, 22 Desember 2011

PUISI-PUISI SARTIKA SARI

September Yang Telah Usai

barangkali ini hanya penggalan kisah
yang kemarin kita lakoni
"aku akan tumpas bersama lidah ombak
yang menjilat wajah batu."katamu
sontak nyiur meronta,
tak suka dengan pergelaran kita
namun kau memilih bungkam
menerawang angin di wajah lautan
menimpali mataku masih beku
meraba senja tempat kita merapal temu
aku tahu,
ada gerimis yang tersembunyi
di balik jilbab merah
dan beberapa kali,
kutangkap punggung tanganmu
basah oleh air mata
tapi kau masih saja mengelak,
tak ada jawaban hingga mentari
tepat pada persimpangan malam
kau masih menguliti rindu
dengan senyum sendu itu
dan padanya aku mengaku kalah
lalu kita diam.
membelakangi pantai
bernegosasi dengan petang
aku telah tenggelam dalam september
bersama segala kenangan yang
sempat kita simpan
esok, jika kau berkenan
jenguklah kami meski almanak
telah usang

medan | sketsa Kontan

Sebab Aku Telah Pergi

berikutnya aku hanya termangu
memandangi burung dan tangkai bunga
yang mencoraki dinding rumah
"aku harus pergi."katamu
wajah daun tertunduk lesu
membungkam terang
hingga tiarap pada air mata
aku akan selalu merindu
ketukan embun,
dan kepakan sayap merpati,
yang kerap menjiwai parasmu
barangkali ini rasa yang telah menua
diantara rumput dan pohon yang masih belia
dan denting waktu dalam tiap angka
"berhentilah merindu.
sebab aku akan terluka
dengan semua kata yang
tercipta karenanya."
aku akan berpisah dengan rindu
sebab sebelum ia menelisik telingamu
aku telah pergi
memendam segala di balik tanah merah

| sketsa Kontan

Karena Rindu

hanya malam yang tahu
kapan pembicaraan ini usai
sebab rindu masih menggerutu
kita masih saling beku
lewat kata yang terpisah tempuh
kau masih dalam peraduanmu
sedang aku telah tualang dalam waktu
aku ingin dengar
ritme angin di dinding pintu
gelak tawa di ruang tamu
dan tatap sendu
di tiap fajar hingga petang
ah,ini malam aku berkarib awan hitam
yang sesaat lagi akan gerimis
lalu badai dan guntur melintang
karena rindu.

| sketsa Kontan

Meski Tanpa Nadi

masih saja ada semburat luka yang menganga
bersatu bau dengan hujan
dan gelegar petir dalam badai
teringat kala itu
kita beku dalam tatap yang sendu
"aku ingin mengairi hatimu dengan cinta,
seperti nil yang tak pernah kering."
tapi
segalanya hanya bertekuk pada kata
kita terpisah dalam kisah yang mereka ubah
ah,
mungkinkah takdir itu bisa ku belah?
sebab aku masih ingin
menata senja,
melukis kedip matahari,
lidah ombak dan pasir putih
tempat kita mengikat rasa
aku akan kembali
dalam alur yang sempat kita ulur
meski tanpa nadi

| sketsa Kontan

Tidak ada komentar: