Senin, 14 Mei 2012
DIARY KEMATIAN
Cerpen Hasudungan Rudy Yanto Sitohang pada 13 Mei 2012 pukul 23:58 ·
Ketika desau angin meluruhkan ranting-ranting kering ke tanah, menyisir tumbuhan yang menyemak liar, aku tetap berdiam dalam rintihan jiwa. Seperti daun-daun kamboja berguguran di antara makam-makam terbentang bisu. Tak berdaya menahan kepungan mentari pagi dan geliat suara langit memekakkan hati. Meliuk diam-diam di antara kebohongan yang tersimpan rapi.
Meskipun aku mampu menahan bara hingga kini, itu karena api yang menyala di dada belum sampai membakar habis hormatku padanya. Dengan sekuat tenaga, kujaga nyalanya supaya tidak berkobar-kobar menjadi raksasa api. Ya, pagi ini aku dan Ibu berziarah ke makam ayah. Kebiasaan yang kami lakukan dua tahun belakangan, setiap dua bulan sekali. Menaburkan mawar merah ke atas pusara ayah, yang Ibu petik sendiri dari kebun belakang rumah. Bunga-bunga yang beraroma busuk. “Jangan kotori pusara itu, Bu!” batinku teriak marah.
Di hadapan lelaki yang kini terbaring abadi di bawah gundukan tanah itu-yang pernah mencintainya setulus hati-kedua tangan Ibu begitu cekatan mencabuti rumput-rumput liar. Puihh…! Sungguh tak layak Ibu melakukan itu! Noda-noda hitam itu tak akan terhapus sebelum Ibu berucap ampun di kaki pusara ayah!
Sambil berjongkok, aku membersihkan sampah dan kotoran di celah gundukan batu-batu yang bersusun rapi. Meskipun debu-debu yang melekat begitu sulit kubersihkan. Andai Ibu tahu, bahwa hal ini kulakukan sekadar untuk menutupi rasa gundah dan amarahku yang membakar belakangan. Sudahlah, Bu, jangan berpura-pura padaku!
Begitulah, tanpa Ibu sadari ternyata aku telah masuk ke dalam bayang-bayang masa lalunya ketika membaca lembar demi lembar kisah cintanya dalam diary hitam itu. Tanpa sengaja, aku menemukannya di antara tumpukan buku-buku tua dan majalah bekas di gudang belakang. Ketika membaca halaman pertama, aku langsung tersentak. Ini adalah mimpi buruk. Apa yang kupikirkan tentang Ibu, perempuan yang telah melahirkan dan membesarkan aku hingga menikah dengan lelaki yang kucintai itu, sekarang berbalik. Aku marah! Aku kecewa! Ibu ternyata tak lebih dari perempuan jalang yang merayap di kesunyian malam di jalan-jalan kota.
Terhapus sudah rasa kagumku padanya. Padahal dengan mata hati, kusaksikan bagaimana Ibu merawat ayah dengan sabar selama sepuluh tahun terakhir akibat kecelakaan di tempatnya bekerja. Sebilah besi panjang jatuh dari tiang penahan jembatan menimpa ayah hingga membuat separuh tubuhnya lumpuh tanpa daya. Ah, tak seorangpun percaya bahwa Ibu, perempuan yang setia menemani ayah seharian di beranda depan, yang memandikannya setiap pagi dan sore, serta menyuapinya makan, ternyata bermain api dengan membagi cintanya pada bajingan itu.
“Kamu melamun lagi, Nisa?” Ibu membuatku kaget. Kupaksakan wajahku membalas pandangan matanya, menyembunyikan segala tanya yang melintas di kepala.
“Tidak apa-apa, Bu. Aku tidak melamun.”
Wajah Ibu penuh gurat-gurat api. Wajah penuh duri yang mencuat tajam, menyakitkan siapapun yang terkena ujungnya. Aku menunduk gelisah sambil mengelus-elus nisan itu. Kucoba mengirimkan ketenangan untuk mendinginkan hati ayah yang barangkali juga terbakar di bawah sana, dari tidur abadinya.
“Sudah selesai. Mari berdoa untuk ayahmu,” ucap Ibu bangkit berdiri.
Embusan angin di pekuburan ini semakin lama semakin kencang, menyisakan riak-riak yang kurasa tak mampu menahan lahirnya tunas-tunas dendam di hatiku. Amarah yang tumbuh untuk membunuh bajingan itu.
***
Handoko! Nama bajingan itu selalu menggangguku tanpa kutahu seperti apa sosoknya? Apa istimewanya dia sehingga namanya tetap tumbuh mekar di hati Ibu. Dan begitu hebatkah lelaki itu sampai-sampai Ibu tak mampu menghapus cintanya pada bajingan itu, bahkan saat ayah sudah berada di alam baka?
Bersama pendar lampu meja hias kamarku berwarna oranye, setiap untaian kata dalam lembar demi lembar diary itu kubaca perlahan dan hati-hati. Kucoba mencari rahasia dari kebohongan yang ditutupi selaput waktu. O…sungguh pandai Ibu menyembunyikan kebusukan di dalam ceruk hatinya. Luar biasa! Perempuan sederhana yang pendiam itu, ternyata mampu menyimpan bangkai yang pada akhirnya menguap ke permukaan.
Cinta. Kata-kata itu teruntai bermakna dalam cerita panjang lewat goresan indah di setiap lembarannya. Remuk redam tubuhku memahami ungkapan perasan ibu yang terang benderang menyiratkan kerinduan pada bajingan itu. Setiap halaman tertulis sajak-sajak penuh gairah dan letupan asmara. Ibu layaknya pujangga kesepian, mengharap kekasihnya kembali mengisi hatinya yang kering kerontang bertahun-tahun lamanya.
Kini kebencianku pada Ibu terbentang lebar. Segudang tanya menyergapku, melahirkan dendam yang harus kuselesaikan sendiri. Kehormatan ayah harus dikembalikan. Martabat keluarga harus kusucikan kembali. Aku tak perlu larut bertanya-tanya mengapa hal ini terjadi. Segala rencana harus kupersiapkan matang, kusimpan rapat-rapat sambil menantikan waktu yang tepat menghujamkan belati ke tubuh bajingan itu. Ingin kunikmati jeritannya setiap kali belati ini menembus jantungnya.
***
Tapi ke manakah akan kucari bajingan itu? Tak sebuah foto atau alamat pun yang kutemukan. Berulangkali kubolak-balik diary itu mencari jejaknya. Tetap saja tak ada. Aku seperti memegang debu di langit kelabu. Aku semakin putus asa. Ibu memang tak sesederhana yang kuduga. Ia ternyata pintar menyembunyikan keberadaan Handoko. Di mana kau, bajingan? Jangan bersembunyi lewat sajak-sajak dan puisi busuk itu! Tunjukkan dirimu!
Mungkin Handoko hanyalah seorang penyair lusuh, penulis roman picisan atau pemain sandiwara yang hidupnya tak karuan. Hanya namanya yang kutahu, dan umurnya yang mungkin kurang lebih sama dengan ibu. Berbekal petunjuk tak seberapa itu, kucari bajingan itu penuh dendam berkobar-kobar. Dendam seorang gadis untuk menegakkan tabut cinta sang ayah. Kutelusuri taman budaya tempat para seniman berkumpul, kujalani gedung-gedung pertunjukan di kota ini, siapa tahu aku mendapatkan dirinya sedang berada di atas panggung memainkan lakon cinta yang buruk.
Kutanyakan juga namanya pada perempuan-perempuan jalang di pinggir pekuburan jalan Gajah Mada dan lokalisasi Gagak Hitam. Mungkin salah satu dari mereka pernah menghabiskan malam penuh cumbuan liar yang menjijikkan bersama Handoko. Lelaki kesepian memang membutuhkan belaian cinta, bukan sekadar ungkapan kata-kata. Bajingan sejati tak mungkin hidup semata-mata hanya dengan cinta.
Kini malam semakin merangkak meninggalkan senja jauh di belakang. Lampu-lampu temaram menerangi langkahku menyusuri sudut-sudut maupun lorong kota yang sepi. Gedung-gedung tinggi tegak membisu. Di seberang bundaran air mancur, sebuah warung kopi dadakan penuh lelaki malam menatapku dengan senyum mesum dan pandangan berahi ketika aku melintas di depan mereka. Kupegang erat tas kecilku. Sebilah belati masih terasa dingin di sana, sedingin kedua kaki yang membawaku pulang.
Kutinggalkan jejak-jejak penasaran agar esok dan esoknya lagi, aku terus menapak ke empat penjuru angin, di mana bajingan itu berkeliaran seperti anjing malam.
“Dari mana kamu sampai tengah malam begini baru pulang, Nisa? Agus sampai gelisah menunggumu sejak sore tadi.” Ibu menegurku ketika melewati ruang tengah.
Aku mendengus tak karuan. Seketika rasa benciku keluar. Kutatap mata Ibu yang menyorot tajam. Mata yang gelisah. Mata penuh curiga.
“Apa itu penting bagi Ibu!”
“Ibu hanya bertanya. Ibu khawatir kamu kena apa-apa di luar. ”
“Kalau begitu Ibu tak usah bertanya!”
“Nisa…!” suara Ibu tertahan, “Sudah demikian jauhkah dirimu? Ibu tak mengerti kenapa akhir-akhir ini kamu terlihat berubah.”
Dada Ibu naik turun menahan emosi.
“Berubah? Apa Ibu pikir aku sama seperti jalang berdiri kesepian di jalan yang bersetia menunggu para lelaki sialan jatuh ke dalam pelukannya? Tuduhan Ibu sungguh kejam!” Mataku menatap tajam padanya.
“Ibu tidak menuduhmu.”
“Tak pantas Ibu bicara seperti itu. Harusnya Ibu bertanya pada hati yang suci, bukan masa lalumu penuh busuk itu.”
“Nisa…!” Ibu terperanjat. Kaget.
Tak kuhiraukan panggilannya. Aku masuk ke dalam kamarku sambil menutup pintu dengan keras. Di atas ranjang, kulihat Agus terlelap tidur, tubuhnya meringkuk di bawah selimut. Kuraba pelan belati di dalam tasku. Masih terasa dingin. Tubuhku bergetar ketika melihat wajahnya berubah seperti lelaki tua dalam pikiranku.
***
Tak ada malam yang mendatangkan sial selain malam ini. Ibu meneleponku barusan. Ia mengatakan bahwa dirinya benar-benar sayang padaku. Ia takut kehilangan perempuan permata hatinya. Puihh! Aku bukan gadis kecil yang bisa dibuai dengan dongeng-dongeng bodoh. Bukankah kami sama-sama perempuan dewasa yang diberi anugerah untuk berbicara dari hati ke hati? Tak perlu kata-kata memesona. Tak perlu sajak-sajak itu lagi. Andai Ibu tahu bahwa kesucian cinta pantang dinodai dengan kebohongan. Andai Ibu ingat bagaimana dulu ia mengajarkan arti kesucian kepadaku, agar aku selamat dari lendir-lendir hitam berbau busuk, dari lelaki serupa iblis di lorong kegelapan.
Lalu lalang mobil di depan kurasakan seperti bayangan iblis menyeringai tajam. O…tiba-tiba dari mobil-mobil itu keluar sosok menyerupai lelaki tua yang selama ini tercipta dalam pikiranku. Begitu banyak jumlahnya, wajahnya pun persis sama. Mereka tertawa keras sekali. Dadaku berdegup kencang. Aku segera berlari menerobos bayangan-bayangan itu, melewati orang-orang yang menatapku aneh. Aku ingin segera bebas dari pikiran yang membelengguku.
Setibanya di rumah, aku tak mendapati ibu yang biasanya menungguku pulang. Kulangkahkan kaki menuju kamar. Saat masuk, tiba-tiba kulihat lantai kamar penuh ceceran darah. Mataku membeliak, suaraku tercekik di tenggorokan menyaksikan Agus, suamiku itu, meregang nyawa di atas ranjang. Kedua tangannya memegang leher yang terus mengucurkan darah. Badannya bergerak-gerak tak karuan. Matanya mendelik. Lidahnya terjulur keluar. Di sampingnya kulihat Ibu duduk tenang di pinggir ranjang. Di tangan kirinya tergenggam sebilah belati yang masih meneteskan darah. Dan kulihat sebuah diary hitam tergeletak di pangkuannya.
Diary itu adalah milikku.
Perlahan aku berjalan menuju buku diaryku itu. Aku masih ingat lembar terakhir yang kutuliskan di sana. Curahan jiwaku ketika memergoki Agus selingkuh dengan teman sekantornya.
Kutatap wajah Ibu yang penuh percikan darah. Dari matanya terpancar rona kepuasan setelah menikmati jeritan lelaki malang itu.
Medan, Maret 2012
Selasa, 13 Maret 2012
SEPENGGAL KECEWA
Cerpen M. Yunus Rangkuti
Aku mengemudi mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Pengaruh minuman beralkohol memang kurasa, namun pikiranku masih normal. Kulirik arloji, hampir mendekati pukul satu dinihari. Jalan protokol yang kulalui begitu lengang. Hanya satu dua kenderaan melintas. Ruko-ruko telah pada bertutupan. Konsentrasiku masih terjaga. Aku meraih bungkus rokok di dash-board, hanya tersisa sebatang. Rokok kusulut, dan mengisapnya dengan tarikan lebih dalam. Kuturunkan sedikit kaca samping, angin malam menerpa wajahku dengan kencang. Aku merasa lebih nyaman.
Dari kejauhan, lampu pengatur lalulintas masih bewarna hijau. Pedal gas agak kutekan menambah kecepatan. Tiba-tiba saja dari sebalik kenderaan yang parkir, dua sosok berangkulan menyeberang. Aku tersentak. Klos kupijak dan menurunkan porsneling dan buru-buru memijak rem mencoba menurunkan kecepatan. Terlambat, mobilku menyambar satu dari mereka yang sempat reflek mendorong yang lainnya. Terdengar benturan dan jeritan. Aku sedemikian panik. Tak mampu mengendalikan laju kederaan. Mobilku meluncur menabrak trotoar, lalu terangkat menghantam tiang traffic light.
***
“Sudah, bung! Dari tadi Anda berdiri terus di situ. Lebih baik kita duduk-duduk di pojokan sana,” ajak seseorang membuyar ingatanku akan mimpi buruk itu. Tangannya berusaha melepaskan jemariku dari terali besi yang tak sadar kupegang erat. “Ayo bung!” Bahuku dirangkulnya. Tubuhku serasa lemah. Aku seakan kehilangan separuh tenaga.
“Nah, di sini kan lebih enak. Kita bisa ngobrol apa aja. Betulkan bung. Bah! hampir lupa, aku Tigor,” ujarnya menyodorkan tangan.
“Haris,” sambutku tanpa gairah.
“Oke, Bung Haris. Kalau boleh aku tau, apa yang jadi penyebab bung terdampar di sini? Maksudku, mengapa bung masuk penjara? ”.
“Aku telah membunuh seseorang,” jawabku datar. Lelaki di hadapanku tampak terkejut. “Kenapa terkejut, bung?”.
“Ah, tidak. Cuma, aku tak percaya itu. Aku lihat tampang bung bukan tipe seperti itu. Maksudku, tampang kriminal.”
“Terserah penilaian bung. Yang jelas aku telah membunuh seseorang.”
“Perkelahian? Bung terpaksa melakukannya? Lelaki itu masih tak percaya dengan apa yang telah kulakukan. Aku merasa lelaki itu sedikit bisa membaca tipe seseorang. Aku jadi ingin tau pula tentangnya. Apa yang menjadi penyebab dia masuk penjara.
“Bukan. Bukan perkelahian. Aku telah menabrak…”
“Bah! Betul dugaanku. Tak mungkin bung telah membunuh,” potongnya cepat.
“Ya. Tapi, sama saja itu. Sama-sama membunuh.”
“Jelas beda bung! Kategori bung pelanggaran, bukan pembunuhan.”
“Pendapat bung betul. Masalahnya, tuduhan yang dikenakan padaku tidak hanya sebatas pelanggaran, tetapi ditambah unsur kesengajaan. Jelasnya aku dituduh sengaja melanggar untuk membunuh.”
“Bah! Mengapa begitu? Apa dia musuh bung?”
“Hanya orang sinting yang membunuh musuhnya dengan cara melanggar, sementara dia sendiri nyaris mampus, Kawan.”
“Jelasnya dia bukan musuh bung. Lantas, mengapa tuduhannya berkembang seperti itu?”
“Ini gara-gara perempuan sial itu!”
“Amangoi! Apa pula hubungannya dengan perempuan?”
“Kejadiannya memang bermula dari perempuan itu. Mau bung mendengar ceritanya?”
“Teruskan bung. Aku jadi tertarik.”
***
Satu waktu ada relasi menghubungi dan mengajakku makan siang untuk membicarakan bisnis yang akan ditawarkannya. Kami memilih restoran yang terletak di sudut perempatan jalan. Seorang waitress menyerahkan daftar menu seraya menghadiahkan senyum teramat manis. Wajahnya tampak cantik di mataku. Tubuh serta cara dia melangkah membuatku terpesona. Sejak saat itu, tanpa harus diajak pun, aku selalu menyempatkan diri makan ke restoran itu.
Kami berkenalan dan berkembang menjalin hubungan akrab. Setiap ada kesempatan, aku menjemputnya. Mengajaknya jalan-jalan, menonton, berbelanja, dan apa saja untuk menyenangkan hatinya. Ini kulakukan, karena yakin dia telah jadi milikku. Kekasihku. Tak jarang pada beberapa kesempatan, kami menyewa penginapan dan telah berkali berhubungan intim. Layaknya suami isteri.
Hingga satu waktu aku mendengar kabar, perempuan itu sebenarnya isteri simpanan. Suaminya perwira kapal pesiar mancanegara. Dalam setahun hanya dua kali berlabuh ke sini. Awalnya aku tak yakin, namun setelah mendengar dari banyak orang, aku mulai goyah. Apalagi setelah melihatnya sedemikian mesra berangkulan di satu pusat perbelanjaan.
Melihat dan mendapatkan kenyataan itu, darahku sontak mendidih, namun aku masih sanggup menahan emosi untuk tidak membuat keributan. Saat kutanyakan tentang kabar miring yang kudengar, ia pun mengaku tentang status dirinya. Seraya berupaya menahan amarah, karena ditipu dan merasa dipermainkan, aku sempat melontar ancaman pada mereka.
Rasa kecewa kulampiaskan ke tempat-tempat hiburan. Hampir setiap malam aku berada di bar atau diskotik. Entah berapa banyak pelacur yang telah kugauli. Nyaris setengah dari gajiku kufoyakan untuk itu. Menjelang pagi baru kembali. Hingga malam kejadian itu, aku baru pulang dari satu diskotik di luar kota. Mobil yang kukenderai memang kupacu kencang. Tiba-tiba saja dua orang yang sedang berangkulan menyeberang seenaknya. Kegugupan seketika kurasa.
Semuanya berlangsung cepat. Aku menabrak satu dari mereka, mobilku meluncur menabrak trotoar, dan terhempas dengan deras menghantam tiang traffic light. Sesudah itu aku tak ingat apa-apa. Dua hari kemudian aku tersadar telah di rumah sakit. Hampir sebulan aku menjalani perawatan. Di sanalah baru aku tau orang yang kutabrak itu tewas seketika di tempat. Ternyata pria malang itu adalah si perwira kapal pesiar yang beristeri gelap si perempuan yang kuceritakan tersebut. Sementara perempuan itu sendiri selamat.
***
“Demikianlah Bung Tigor. Dari kejadian itulah timbul tuduhan aku sengaja hendak membunuh dengan cara menabrak, karena merasa sakit hati. Ditambah lagi perihal ancaman yang pernah aku lontarkan.”
“Bah! Betul-betul tragis apa yang bung alami. Namun, inilah kehidupan. Segalanya bisa bersebab-akibat. Kita tidak bisa memastikan realita apa yang akan kita hadapi, jalani, dan terima. Aku sendiri telah lima tahun menjalani hidup di penjara ini. Sebagai ganjaran dari pembunuhan yang kulakukan terhadap seorang yang tak bertanggung jawab setelah menghamili adikku.
Terlepas dari salah tak bersalah, sengaja atau tak disengaja, kita sedang menanggung akibat dari sebuah sebab. Ini realita yang tengah kita jalani dan terima. Satu hal pasti, kita terkadang harus membayar mahal untuk sekeping harga diri, bahkan sepenggal kecewa sekalipun. Mari Bung Haris, saatnya kita makan siang. Perutku sudah minta diisi.
Sampali
Aku mengemudi mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Pengaruh minuman beralkohol memang kurasa, namun pikiranku masih normal. Kulirik arloji, hampir mendekati pukul satu dinihari. Jalan protokol yang kulalui begitu lengang. Hanya satu dua kenderaan melintas. Ruko-ruko telah pada bertutupan. Konsentrasiku masih terjaga. Aku meraih bungkus rokok di dash-board, hanya tersisa sebatang. Rokok kusulut, dan mengisapnya dengan tarikan lebih dalam. Kuturunkan sedikit kaca samping, angin malam menerpa wajahku dengan kencang. Aku merasa lebih nyaman.
Dari kejauhan, lampu pengatur lalulintas masih bewarna hijau. Pedal gas agak kutekan menambah kecepatan. Tiba-tiba saja dari sebalik kenderaan yang parkir, dua sosok berangkulan menyeberang. Aku tersentak. Klos kupijak dan menurunkan porsneling dan buru-buru memijak rem mencoba menurunkan kecepatan. Terlambat, mobilku menyambar satu dari mereka yang sempat reflek mendorong yang lainnya. Terdengar benturan dan jeritan. Aku sedemikian panik. Tak mampu mengendalikan laju kederaan. Mobilku meluncur menabrak trotoar, lalu terangkat menghantam tiang traffic light.
***
“Sudah, bung! Dari tadi Anda berdiri terus di situ. Lebih baik kita duduk-duduk di pojokan sana,” ajak seseorang membuyar ingatanku akan mimpi buruk itu. Tangannya berusaha melepaskan jemariku dari terali besi yang tak sadar kupegang erat. “Ayo bung!” Bahuku dirangkulnya. Tubuhku serasa lemah. Aku seakan kehilangan separuh tenaga.
“Nah, di sini kan lebih enak. Kita bisa ngobrol apa aja. Betulkan bung. Bah! hampir lupa, aku Tigor,” ujarnya menyodorkan tangan.
“Haris,” sambutku tanpa gairah.
“Oke, Bung Haris. Kalau boleh aku tau, apa yang jadi penyebab bung terdampar di sini? Maksudku, mengapa bung masuk penjara? ”.
“Aku telah membunuh seseorang,” jawabku datar. Lelaki di hadapanku tampak terkejut. “Kenapa terkejut, bung?”.
“Ah, tidak. Cuma, aku tak percaya itu. Aku lihat tampang bung bukan tipe seperti itu. Maksudku, tampang kriminal.”
“Terserah penilaian bung. Yang jelas aku telah membunuh seseorang.”
“Perkelahian? Bung terpaksa melakukannya? Lelaki itu masih tak percaya dengan apa yang telah kulakukan. Aku merasa lelaki itu sedikit bisa membaca tipe seseorang. Aku jadi ingin tau pula tentangnya. Apa yang menjadi penyebab dia masuk penjara.
“Bukan. Bukan perkelahian. Aku telah menabrak…”
“Bah! Betul dugaanku. Tak mungkin bung telah membunuh,” potongnya cepat.
“Ya. Tapi, sama saja itu. Sama-sama membunuh.”
“Jelas beda bung! Kategori bung pelanggaran, bukan pembunuhan.”
“Pendapat bung betul. Masalahnya, tuduhan yang dikenakan padaku tidak hanya sebatas pelanggaran, tetapi ditambah unsur kesengajaan. Jelasnya aku dituduh sengaja melanggar untuk membunuh.”
“Bah! Mengapa begitu? Apa dia musuh bung?”
“Hanya orang sinting yang membunuh musuhnya dengan cara melanggar, sementara dia sendiri nyaris mampus, Kawan.”
“Jelasnya dia bukan musuh bung. Lantas, mengapa tuduhannya berkembang seperti itu?”
“Ini gara-gara perempuan sial itu!”
“Amangoi! Apa pula hubungannya dengan perempuan?”
“Kejadiannya memang bermula dari perempuan itu. Mau bung mendengar ceritanya?”
“Teruskan bung. Aku jadi tertarik.”
***
Satu waktu ada relasi menghubungi dan mengajakku makan siang untuk membicarakan bisnis yang akan ditawarkannya. Kami memilih restoran yang terletak di sudut perempatan jalan. Seorang waitress menyerahkan daftar menu seraya menghadiahkan senyum teramat manis. Wajahnya tampak cantik di mataku. Tubuh serta cara dia melangkah membuatku terpesona. Sejak saat itu, tanpa harus diajak pun, aku selalu menyempatkan diri makan ke restoran itu.
Kami berkenalan dan berkembang menjalin hubungan akrab. Setiap ada kesempatan, aku menjemputnya. Mengajaknya jalan-jalan, menonton, berbelanja, dan apa saja untuk menyenangkan hatinya. Ini kulakukan, karena yakin dia telah jadi milikku. Kekasihku. Tak jarang pada beberapa kesempatan, kami menyewa penginapan dan telah berkali berhubungan intim. Layaknya suami isteri.
Hingga satu waktu aku mendengar kabar, perempuan itu sebenarnya isteri simpanan. Suaminya perwira kapal pesiar mancanegara. Dalam setahun hanya dua kali berlabuh ke sini. Awalnya aku tak yakin, namun setelah mendengar dari banyak orang, aku mulai goyah. Apalagi setelah melihatnya sedemikian mesra berangkulan di satu pusat perbelanjaan.
Melihat dan mendapatkan kenyataan itu, darahku sontak mendidih, namun aku masih sanggup menahan emosi untuk tidak membuat keributan. Saat kutanyakan tentang kabar miring yang kudengar, ia pun mengaku tentang status dirinya. Seraya berupaya menahan amarah, karena ditipu dan merasa dipermainkan, aku sempat melontar ancaman pada mereka.
Rasa kecewa kulampiaskan ke tempat-tempat hiburan. Hampir setiap malam aku berada di bar atau diskotik. Entah berapa banyak pelacur yang telah kugauli. Nyaris setengah dari gajiku kufoyakan untuk itu. Menjelang pagi baru kembali. Hingga malam kejadian itu, aku baru pulang dari satu diskotik di luar kota. Mobil yang kukenderai memang kupacu kencang. Tiba-tiba saja dua orang yang sedang berangkulan menyeberang seenaknya. Kegugupan seketika kurasa.
Semuanya berlangsung cepat. Aku menabrak satu dari mereka, mobilku meluncur menabrak trotoar, dan terhempas dengan deras menghantam tiang traffic light. Sesudah itu aku tak ingat apa-apa. Dua hari kemudian aku tersadar telah di rumah sakit. Hampir sebulan aku menjalani perawatan. Di sanalah baru aku tau orang yang kutabrak itu tewas seketika di tempat. Ternyata pria malang itu adalah si perwira kapal pesiar yang beristeri gelap si perempuan yang kuceritakan tersebut. Sementara perempuan itu sendiri selamat.
***
“Demikianlah Bung Tigor. Dari kejadian itulah timbul tuduhan aku sengaja hendak membunuh dengan cara menabrak, karena merasa sakit hati. Ditambah lagi perihal ancaman yang pernah aku lontarkan.”
“Bah! Betul-betul tragis apa yang bung alami. Namun, inilah kehidupan. Segalanya bisa bersebab-akibat. Kita tidak bisa memastikan realita apa yang akan kita hadapi, jalani, dan terima. Aku sendiri telah lima tahun menjalani hidup di penjara ini. Sebagai ganjaran dari pembunuhan yang kulakukan terhadap seorang yang tak bertanggung jawab setelah menghamili adikku.
Terlepas dari salah tak bersalah, sengaja atau tak disengaja, kita sedang menanggung akibat dari sebuah sebab. Ini realita yang tengah kita jalani dan terima. Satu hal pasti, kita terkadang harus membayar mahal untuk sekeping harga diri, bahkan sepenggal kecewa sekalipun. Mari Bung Haris, saatnya kita makan siang. Perutku sudah minta diisi.
Sampali
Senin, 12 Maret 2012
HAJATAN HUJAN
jelang hajatan awan menebal menggumpal
mendung menggelayut menyaput cerah
tuan rumah henyak murung dibalut resah
bawang cabai ditusuki lidi di pojokan halaman
jadi tangkal supaya jangan turun hujan
sang pawang membentang selendang
menaruh tujuh rupa kembang dan ayam panggang
tiga kepal nasi lengkapi sesaji
selepas semedi pawang berdiri menari
mulut komat kamit memandangi langit
mempermain keris ingin menangkis gerimis
tubuh bergetar saat mantranya terdengar
“hoi penunggu penjuru alam
yang semayam di arakan awan
yang terpejam di dingin angin
yang mendekam di hati bumi
yang membenam di perut laut
hari ini kami hajatan
jangan, jangan biarkan diguyur hujan
nah… nah… puih!
nah… nah… puih!
hoi penjaga segala mayapada
penjaga pintu jendela segala cuaca
tutupi segala pintu segala jendela hujanmu
hujan di hari ini
jangan, jangan biarkan di sini
nah…nah…puih!
nah…nah…puih!”
saat hajatan digelar kilat sambar menyambar
petir menggelegar hingar
tuan rumah terhentak, sang pawang terpacak
hujan turun kian tak tertahan
bocah bocah telanjang dada main kejaran bermandikan hujan
“kuluk kuluk hujan turun
kuluk kuluk hujan deras
kuluk kuluk hujan turun
kuluk kuluk hujan deras
Horre…horre…horre!”
mendung menggelayut menyaput cerah
tuan rumah henyak murung dibalut resah
bawang cabai ditusuki lidi di pojokan halaman
jadi tangkal supaya jangan turun hujan
sang pawang membentang selendang
menaruh tujuh rupa kembang dan ayam panggang
tiga kepal nasi lengkapi sesaji
selepas semedi pawang berdiri menari
mulut komat kamit memandangi langit
mempermain keris ingin menangkis gerimis
tubuh bergetar saat mantranya terdengar
“hoi penunggu penjuru alam
yang semayam di arakan awan
yang terpejam di dingin angin
yang mendekam di hati bumi
yang membenam di perut laut
hari ini kami hajatan
jangan, jangan biarkan diguyur hujan
nah… nah… puih!
nah… nah… puih!
hoi penjaga segala mayapada
penjaga pintu jendela segala cuaca
tutupi segala pintu segala jendela hujanmu
hujan di hari ini
jangan, jangan biarkan di sini
nah…nah…puih!
nah…nah…puih!”
saat hajatan digelar kilat sambar menyambar
petir menggelegar hingar
tuan rumah terhentak, sang pawang terpacak
hujan turun kian tak tertahan
bocah bocah telanjang dada main kejaran bermandikan hujan
“kuluk kuluk hujan turun
kuluk kuluk hujan deras
kuluk kuluk hujan turun
kuluk kuluk hujan deras
Horre…horre…horre!”
Minggu, 11 Maret 2012
NAHUM SITUMORANG Dahulu Dan Sekarang
Oleh Poltak Sinaga
Ungkapan bijak mengatakan, seseorang yang tengah berlindung dan berteduh di bawah suatu pohon rindang saat terik menyengat, wajar dia mengucapkan terimakasih pada si penanam pohon itu. Bila seseorang tengah menikmati alunan lagu-lagu yang mampu menyejukkan hati atau menghiburnya, wajar dia mengucapkan terimakasih pada komponisnya.
Nahum Situmorang (foto) banyak menanam pohon kesejukan yang menghasilkan buah-buah segar seiring karya musiknya yang tetap digemari. Di sisi lain banyak penyanyi pop dari kalangan etnik Batak maupun etnik lainnya yang meraup keuntungan, memetik buah-buah segar karya Nahum demi kekayaan pribadi. Namun ungkapan terimakasih dari sejumlah penyanyi dan musisi yang meraup banyak keuntungan materi itu, nyaris tak terdengar. Pusara Nahum Situmorang hingga kini masih tetap berada di balik debu dan deru suara hingar bingar kenderaan kota Medan. Keadaan ini menunjukkan suatu fenomena ketidakpedulian. Pada hal, Nahum senantiasa menanti jawaban atas harapan yang mengiinginkan pusaranya dipindahkan ke bonapasogit (kampung halaman) di Pulau Samosir sebagaimana terpatri di dalam lagu berjudul, Pulo Samosir..
“Molo marujungma muse ngolungku sarihonma, anggo bangkekku di si tanomonmu, di si udeanku, sarihonma”. (Artinya, jika nanti aku mati, camkanlah bahwa jasadku akan kau makamkan di Pulau Samosir, di sanalah pusaraku). Benarkah ?
Sejarah atau riwayat hidup orang penting cenderung menjadi bacaan yang sangat menarik, begitu pula halnya dengan biografi dan berbagai anekdot para komponis legendaris, menjadi sangat menarik karena popularitasnya. Hal ini dapat menjadi cerminan, dan menjadi suatu kontribusi yang sangat berarti terhadap perkembangan apresiasi musik, pemberi warna terhadap kepustakaan musik dunia. Ragam informasi tentang riwayat komponis dapat memberi penjelasan mengenai karya-karya kreatifnya yang meliputi berbagai fenomena sosiomusikologis pada masa tertentu, termasuk perkembangan teknik berkomposisi serta teknik bermain musik yang mencakup berbagai aspek yang merupakan bagian dari elemen musik.
Dari sejumlah komponis legendaris dari tanah Batak, salah satu di antaranya adalah Nahum Situmorang, lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan, 14 Pebruari 1908. Sejak kecil bakat musiknya telah terlihat. Tahun 1924 Nahum melanjutkan sekolahnya di Kweek School Jakarta, kemudian pindah ke Lembang, Bandung dan tamat tahun 1928.
Rasa kerinduan dan kecintaannya pada kampung halaman (bonapasogit), yakni kawasan danau Toba yang mengelilingi pulau Samosir dengan segala pesona keindahannya, serta siklus kehidupan keseharian masyarakatnya, menjadi sumber inspirasi yang tidak habis-habisnya bagi Nahum dalam berkarya. Lagu-lagu Nahum menjadi sangat populer baik di kalangan etnik Batak Toba, skala nasional, maupun mancanegara. Deretan judul lagu-lagu itu di antaranya, O Tao Toba, Lissoi, Pulo Samosir, Sitogol, Unang Sumolsol Dipudi, Molo Borngin Di Silindung, Beha Pandundung Bulung, Anakhonhido Hamoraon di Au, Huandung Ma Damang, Sai Tudia Ho Marhuta, Silindung Najolo, Sai Gabe Maho, Sapatani Napuran, Tumagon Nama Mate, Ala Dao, Molo Sautma Ho Lao tu Nadao, Holongni Rohamdo Sinta-sinta di Au, Ndada Tartangishon, Si Singamangaraja, Timbo Dolok Martimbang, Alani Ho, Manukni Silangge, Situmorang Nabonggal, dan masih banyak lagi hingga berkisar 120 lagu.
Ternyata aktivitas Nahum tidak terbatas pada kegiatan musik. Pada tahun 1928, Nahum ikut dalam barisan Perintis Kemerdekaan sebagai anggota pada Kongres Pemuda, dan pada tahun yang sama mengikuti Lomba Cipta Lagu Kebangsaan Indonesia yang pada masa itu dimenangkan oleh WR. Soepratman. Lagu karya Nahum berada di posisi runner up (urutan ke dua) dari sejumlah peserta lomba. Kemudian tahun 1929, Nahum pindah ke Sibolga, bekerja sebagai guru di Bataksche Studiefond hingga tahun 1932. Pada tahun yang sama Nahum pindah ke Tarutung dan mendirikan sekolah yang diberi nama, Wester Langer Onderwijs. Sekolah ini hanya bertahan hingga kedatangan tentara Jepang tahun 1942. Sepanjang hayatnya Nahum Situmorang tidak mau bekerja sebagai pegawai pada pemerintahan Belanda, kendati peluang untuk itu terbuka lebar. Nahum dikenal sebagai seorang yang berjiwa nasionalis dengan sikap kemandirian yang kuat.
Di sela-sela kehidupannya sebagai seorang guru, Nahum tetap kreatif menciptakan lagu-lagu dalam berbagai ragam irama. Tahun 1936, Nahum menjadi pemenang dalam Lomba Cipta Lagu, Sumatera Kerontjong Concours yang diselenggarakan di Medan. Tahun 1949, Nahum pindah ke Medan, di sini ia lebih leluasa untuk bernyanyi dan berkarya. Dalam pergaulan sehari-hari Nahum dikenal memiliki pribadi yang sangat luwes dan sangat digemari di lingkumgan pergaulannya karena didukung oleh kepiawaiannya bermain musik dan bernyanyi.
Lagu berjudul, Lissoi diciptakannya saat menikmati minuman tradisional Batak Toba (tuak) yaitu, minuman berkadar alkohol yang bersumber dari kelapa. Minuman tersebut setiap hari atau malam dihidangkan di Pakter Tuak (warung minuman tuak). Dalam situasi keramaian seperti itu, Nahun sanggup mengubah lagu berikut syair dengan kualitas komposisi yang sangat mengagumkan. Lagu Lissoi yang diciptakan dalam suasana keramaian diantara parmitu ( parminum tuak) yang berarti peminum tuak merupakan salah satu karya Nahum yang sangat populer hingga sekarang, bukan saja di kalangan masyarakat Batak, akan tetapi merambah keseluruh lapisan masyarakat bahkan ke manca negara.
Sekitar tahun 1950-an, Nahum Situmorang mendirikan grup musik yang disebutnya dengan Nahum’s Band. Grup ini pada umumnya membawakan lagu-lagu karya Nahum. Nahum’s Band sangat populer di kalangan masyarakat Batak. Pada masa itu mereka banyak mendapat tawaran untuk mengisi acara-acara hiburan di kalangan masyarakat maupun di berbagai instansi pemerintahan. Pada tahun 1960, Nahum’s Band mengadakan serangkaian pertunjukan musik di Jakarta. Dalam setiap pertunjukan mereka mendapat sambutan yang sangat meriah terutama dari kalangan komunitas Batak Toba yang bermukim di Jakarta. Nahum’s Band banyak mendapat pujian dan sanjungan dari para pejabat pemerintahan dan dari orang asing (anggota kedutaan) dari berbagai negara yang menyaksikan konser Nahum’s Band. Kendati orang-orang asing tersebut tidak mengetahui makna syair (teks) lagu, namun mereka sangat meresapi komposisi musiknya. Dari rangkaian konser tersebut, banyak tawaran agar Nahum’s Band mengadakan konser musik di berbagai negara, tetapi karena sesuatu hal tawaran itu tidak terlaksana.
Kehidupan Nahum Situmorang tidak sesukses lagu-lagunya. Nahum gagal dalam bercinta, sang kekasih yang sangat dicintainya jatuh kepelukan pria lain. Kegagalan ini menjadi beban berat dan menyakitkan bagi Nahum, ia bertekat untuk tidak bercinta lagi. Tragedi ini dilukiskan oleh Nahum dalam lagu berjudul, Sai Gabema Ho, Sapatani Napuran, Ala Dao, Molo Sautma Ho Lao Tu Nadao. Deretan lagu-lagu ini merupakan jeritan hati Nahum atau gambaran cintanya terhadap kekasih yang berpaling itu. Nahum tetap melajang di sepanjang hidupnya.
Lagu-lagu karya Nahum Situmorang tersebar luas ke seluruh penjuru tanah air bahkan ke mancanegara melalui penyiaran Radio Republik Indonesia (RRI), dari sejak awal kemerdekaan hingga tahun 1970-an. Volume penyiaran lagu-lagu Nahum mendapat porsi yang besar. Pada masa itu Nahum Situmorang telah merekam lagu-lagunya dalam bentuk Piringan Hitam (PH) di studio rekaman Locananta Indonesia dan studio rekaman Polydor Amerika Serikat, bahkan sebagian lagu-lagunya di terjemahkan dalam bahasa Jerman yang kemudian direkam dalam bentuk PH.
Kreativitas dan produktifitas Nahum dalam menciptakan lagu-lagu mendapat perhatian dari pemerintah Indonesia. Nahum mendapat penghargaan sebagai komponis nasional. Selain itu berbagai piagam penghargaan telah diterima Nahum Situmorang dan penghargaan terakhir yang diterimanya adalah Anugerah Seni dari pemerintah pada tanggal 17 Agustus 1969. Dua bulan kemudian, tepatnya tanggal 20 Oktober 1969 Nahum meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Karya-karya emasnya menjadi harta karun yang tiada habisnya, menjadi rebutan di kalangan penyanyi Batak.
Hampir seluruh album rekaman pop Batak, mulai dari penyanyi Eddy Silitonga, Victor Hutabarat, Rita Butarbutar, Emilia Contesa, Trio Lasidos, Jack Marpaung, Charles Simbolon, Trio Maduma dan sederetan penyanyi pop Batak lainnya selalu menyertakan karya Nahum Situmorang. Deretan penyanyi ini telah banyak meraup keuntungan yang sangat besar atas karya-karya besar Nahum. Namun tida terlintas di benak mereka akan keinginan Nahum semasa hidupnya yang jelas berkata, “Molo marujungma muse ngolungku sarihonma, anggo bangkekku di si tanomonmu, di si udeanku, sarihonma”.(FB)
Ungkapan bijak mengatakan, seseorang yang tengah berlindung dan berteduh di bawah suatu pohon rindang saat terik menyengat, wajar dia mengucapkan terimakasih pada si penanam pohon itu. Bila seseorang tengah menikmati alunan lagu-lagu yang mampu menyejukkan hati atau menghiburnya, wajar dia mengucapkan terimakasih pada komponisnya.
Nahum Situmorang (foto) banyak menanam pohon kesejukan yang menghasilkan buah-buah segar seiring karya musiknya yang tetap digemari. Di sisi lain banyak penyanyi pop dari kalangan etnik Batak maupun etnik lainnya yang meraup keuntungan, memetik buah-buah segar karya Nahum demi kekayaan pribadi. Namun ungkapan terimakasih dari sejumlah penyanyi dan musisi yang meraup banyak keuntungan materi itu, nyaris tak terdengar. Pusara Nahum Situmorang hingga kini masih tetap berada di balik debu dan deru suara hingar bingar kenderaan kota Medan. Keadaan ini menunjukkan suatu fenomena ketidakpedulian. Pada hal, Nahum senantiasa menanti jawaban atas harapan yang mengiinginkan pusaranya dipindahkan ke bonapasogit (kampung halaman) di Pulau Samosir sebagaimana terpatri di dalam lagu berjudul, Pulo Samosir..
“Molo marujungma muse ngolungku sarihonma, anggo bangkekku di si tanomonmu, di si udeanku, sarihonma”. (Artinya, jika nanti aku mati, camkanlah bahwa jasadku akan kau makamkan di Pulau Samosir, di sanalah pusaraku). Benarkah ?
Sejarah atau riwayat hidup orang penting cenderung menjadi bacaan yang sangat menarik, begitu pula halnya dengan biografi dan berbagai anekdot para komponis legendaris, menjadi sangat menarik karena popularitasnya. Hal ini dapat menjadi cerminan, dan menjadi suatu kontribusi yang sangat berarti terhadap perkembangan apresiasi musik, pemberi warna terhadap kepustakaan musik dunia. Ragam informasi tentang riwayat komponis dapat memberi penjelasan mengenai karya-karya kreatifnya yang meliputi berbagai fenomena sosiomusikologis pada masa tertentu, termasuk perkembangan teknik berkomposisi serta teknik bermain musik yang mencakup berbagai aspek yang merupakan bagian dari elemen musik.
Dari sejumlah komponis legendaris dari tanah Batak, salah satu di antaranya adalah Nahum Situmorang, lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan, 14 Pebruari 1908. Sejak kecil bakat musiknya telah terlihat. Tahun 1924 Nahum melanjutkan sekolahnya di Kweek School Jakarta, kemudian pindah ke Lembang, Bandung dan tamat tahun 1928.
Rasa kerinduan dan kecintaannya pada kampung halaman (bonapasogit), yakni kawasan danau Toba yang mengelilingi pulau Samosir dengan segala pesona keindahannya, serta siklus kehidupan keseharian masyarakatnya, menjadi sumber inspirasi yang tidak habis-habisnya bagi Nahum dalam berkarya. Lagu-lagu Nahum menjadi sangat populer baik di kalangan etnik Batak Toba, skala nasional, maupun mancanegara. Deretan judul lagu-lagu itu di antaranya, O Tao Toba, Lissoi, Pulo Samosir, Sitogol, Unang Sumolsol Dipudi, Molo Borngin Di Silindung, Beha Pandundung Bulung, Anakhonhido Hamoraon di Au, Huandung Ma Damang, Sai Tudia Ho Marhuta, Silindung Najolo, Sai Gabe Maho, Sapatani Napuran, Tumagon Nama Mate, Ala Dao, Molo Sautma Ho Lao tu Nadao, Holongni Rohamdo Sinta-sinta di Au, Ndada Tartangishon, Si Singamangaraja, Timbo Dolok Martimbang, Alani Ho, Manukni Silangge, Situmorang Nabonggal, dan masih banyak lagi hingga berkisar 120 lagu.
Ternyata aktivitas Nahum tidak terbatas pada kegiatan musik. Pada tahun 1928, Nahum ikut dalam barisan Perintis Kemerdekaan sebagai anggota pada Kongres Pemuda, dan pada tahun yang sama mengikuti Lomba Cipta Lagu Kebangsaan Indonesia yang pada masa itu dimenangkan oleh WR. Soepratman. Lagu karya Nahum berada di posisi runner up (urutan ke dua) dari sejumlah peserta lomba. Kemudian tahun 1929, Nahum pindah ke Sibolga, bekerja sebagai guru di Bataksche Studiefond hingga tahun 1932. Pada tahun yang sama Nahum pindah ke Tarutung dan mendirikan sekolah yang diberi nama, Wester Langer Onderwijs. Sekolah ini hanya bertahan hingga kedatangan tentara Jepang tahun 1942. Sepanjang hayatnya Nahum Situmorang tidak mau bekerja sebagai pegawai pada pemerintahan Belanda, kendati peluang untuk itu terbuka lebar. Nahum dikenal sebagai seorang yang berjiwa nasionalis dengan sikap kemandirian yang kuat.
Di sela-sela kehidupannya sebagai seorang guru, Nahum tetap kreatif menciptakan lagu-lagu dalam berbagai ragam irama. Tahun 1936, Nahum menjadi pemenang dalam Lomba Cipta Lagu, Sumatera Kerontjong Concours yang diselenggarakan di Medan. Tahun 1949, Nahum pindah ke Medan, di sini ia lebih leluasa untuk bernyanyi dan berkarya. Dalam pergaulan sehari-hari Nahum dikenal memiliki pribadi yang sangat luwes dan sangat digemari di lingkumgan pergaulannya karena didukung oleh kepiawaiannya bermain musik dan bernyanyi.
Lagu berjudul, Lissoi diciptakannya saat menikmati minuman tradisional Batak Toba (tuak) yaitu, minuman berkadar alkohol yang bersumber dari kelapa. Minuman tersebut setiap hari atau malam dihidangkan di Pakter Tuak (warung minuman tuak). Dalam situasi keramaian seperti itu, Nahun sanggup mengubah lagu berikut syair dengan kualitas komposisi yang sangat mengagumkan. Lagu Lissoi yang diciptakan dalam suasana keramaian diantara parmitu ( parminum tuak) yang berarti peminum tuak merupakan salah satu karya Nahum yang sangat populer hingga sekarang, bukan saja di kalangan masyarakat Batak, akan tetapi merambah keseluruh lapisan masyarakat bahkan ke manca negara.
Sekitar tahun 1950-an, Nahum Situmorang mendirikan grup musik yang disebutnya dengan Nahum’s Band. Grup ini pada umumnya membawakan lagu-lagu karya Nahum. Nahum’s Band sangat populer di kalangan masyarakat Batak. Pada masa itu mereka banyak mendapat tawaran untuk mengisi acara-acara hiburan di kalangan masyarakat maupun di berbagai instansi pemerintahan. Pada tahun 1960, Nahum’s Band mengadakan serangkaian pertunjukan musik di Jakarta. Dalam setiap pertunjukan mereka mendapat sambutan yang sangat meriah terutama dari kalangan komunitas Batak Toba yang bermukim di Jakarta. Nahum’s Band banyak mendapat pujian dan sanjungan dari para pejabat pemerintahan dan dari orang asing (anggota kedutaan) dari berbagai negara yang menyaksikan konser Nahum’s Band. Kendati orang-orang asing tersebut tidak mengetahui makna syair (teks) lagu, namun mereka sangat meresapi komposisi musiknya. Dari rangkaian konser tersebut, banyak tawaran agar Nahum’s Band mengadakan konser musik di berbagai negara, tetapi karena sesuatu hal tawaran itu tidak terlaksana.
Kehidupan Nahum Situmorang tidak sesukses lagu-lagunya. Nahum gagal dalam bercinta, sang kekasih yang sangat dicintainya jatuh kepelukan pria lain. Kegagalan ini menjadi beban berat dan menyakitkan bagi Nahum, ia bertekat untuk tidak bercinta lagi. Tragedi ini dilukiskan oleh Nahum dalam lagu berjudul, Sai Gabema Ho, Sapatani Napuran, Ala Dao, Molo Sautma Ho Lao Tu Nadao. Deretan lagu-lagu ini merupakan jeritan hati Nahum atau gambaran cintanya terhadap kekasih yang berpaling itu. Nahum tetap melajang di sepanjang hidupnya.
Lagu-lagu karya Nahum Situmorang tersebar luas ke seluruh penjuru tanah air bahkan ke mancanegara melalui penyiaran Radio Republik Indonesia (RRI), dari sejak awal kemerdekaan hingga tahun 1970-an. Volume penyiaran lagu-lagu Nahum mendapat porsi yang besar. Pada masa itu Nahum Situmorang telah merekam lagu-lagunya dalam bentuk Piringan Hitam (PH) di studio rekaman Locananta Indonesia dan studio rekaman Polydor Amerika Serikat, bahkan sebagian lagu-lagunya di terjemahkan dalam bahasa Jerman yang kemudian direkam dalam bentuk PH.
Kreativitas dan produktifitas Nahum dalam menciptakan lagu-lagu mendapat perhatian dari pemerintah Indonesia. Nahum mendapat penghargaan sebagai komponis nasional. Selain itu berbagai piagam penghargaan telah diterima Nahum Situmorang dan penghargaan terakhir yang diterimanya adalah Anugerah Seni dari pemerintah pada tanggal 17 Agustus 1969. Dua bulan kemudian, tepatnya tanggal 20 Oktober 1969 Nahum meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Karya-karya emasnya menjadi harta karun yang tiada habisnya, menjadi rebutan di kalangan penyanyi Batak.
Hampir seluruh album rekaman pop Batak, mulai dari penyanyi Eddy Silitonga, Victor Hutabarat, Rita Butarbutar, Emilia Contesa, Trio Lasidos, Jack Marpaung, Charles Simbolon, Trio Maduma dan sederetan penyanyi pop Batak lainnya selalu menyertakan karya Nahum Situmorang. Deretan penyanyi ini telah banyak meraup keuntungan yang sangat besar atas karya-karya besar Nahum. Namun tida terlintas di benak mereka akan keinginan Nahum semasa hidupnya yang jelas berkata, “Molo marujungma muse ngolungku sarihonma, anggo bangkekku di si tanomonmu, di si udeanku, sarihonma”.(FB)
Selasa, 28 Februari 2012
Sastra Medan Krisis Estetika
SELAIN pada kandungan nilai, karya sastra khususnya puisi juga terikat estetika. Bahkan tak sedikit di antaranya yang berhasil, karena semata-mata keanggunan estetisnya, baik bentuk maupun isinya. Estetika yang saya maksud di sini adalah kemampuan sastrawan mengeksplorasi imajinasinya untuk mengangkat makna melalui pilihan-pilihan kata yang terkesan eksperimentatif. Apa yang dilakukan Sutardji empat dekade lalu, termasuk salah satunya.
Sampai saat ini puisi-puisinya masih memiliki tempat tersendiri karena eksplorasi unik yang dia lakukan itu. Harus diakui, di Medan karya-karya semacam itu, agaknya tidak terlalu diminati. Wajar saja, mengingat watak sastrawan maupun pembaca sastra Medan cenderung lebih pragmatis. Karya sastra yang dibutuhkan di kota ini sepertinya lebih masih bersifat konvensional, yakni karya-karya yang alur dan ide ceritanya jelas. Boleh jadi karena keragaman kultur, masyarakatnya jadi membutuhkan semacam kesepahaman bersama dan mudah dimengerti.
Kesempatan untuk menonjolkan identitas tertentu dalam sebuah karya sastra, terutama puisi, sangat minim dan malah sering dianggap "gangguan" yang mengusik bahkan membebani pikiran pembacanya. Alhasil para para penulis puisi di Medan lebih memilih tunduk pada idiom-idiom yang berlaku universal.
Beda halnya dengan prosa, seperti cerita pendek ataupun novel. Karena ruang kreativitasnya yang luas dan fleksibel telah memberinya kesempatan yang lebih besar untuk bermain-main dalam tataran estetis. Pembaca tetap mampu mengikuti alur dan ide cerita meski diungkapkan dengan ciri khas identitas tertentu. Tidak seperti puisi. Selain karakteristiknya yang lebih padat, pengungkapannya juga sangat terbatas dibanding prosa. Keterbatasan itu tak jarang membuat sastrawan dan pembaca kita saling kehilangan, khususnya ketika dihadapkan dengan puisi yang khas identitas tertentu. Pada akhirnya, wilayah eksplorasi puisi menjadi kian sempit, miskin estetika dan dangkal.
Secara umum yang terjadi dalam dunia perpuisian di Medan dewasa ini adalah terjebak pada perulangan-perulangan dengan wilayah kreativitas yang sama dengan para penulis puisi terdahulu.
Puisi Dairy
Mari kita amati puisi-puisi yang terbit di koran-koran Medan yang terbit setiap hari Minggu. Rata-rata puisi itu mengisahkan tentang suasana hati dengan diksi yang itu-itu saja. Akibatnya puisi-puisi itu tampak seragam, baik dari pilihan kata maupun nilai yang ada padanya. Jarang sekali ditemukan puisi yang berangkat dari sebuah gagasan yang matang. Dari idenya, kebanyakan semangat yang mendasari penulis semata-mata sekedar memenuhi kebutuhan katarsis, tak ubahnya menulis sebuah diary.
Selain krisis estetika, secara umum sastra di Medan juga tumbuh tanpa identitas. Identitas yang saya maksud menyangkut gagasan dengan warna pengungkapan yang khas oleh sastrawannya. Apa jadinya jika sebuah produk kebudayaan, yang konon diolah melalui pengalaman batin dan impresi yang cukup dalam, dilahirkan tanpa arah tujuan. Tak heran jika puisi-puisi itu tampil dengan begitu "sederhana"nya.
Menurut saya, selain tuntutan pembaca Medan yang pragmatis, hal lain yang membuat puisi itu tampak "sederhana" karena penulis kita tak terbiasa dengan kerja eksperimentasi. Pertama, boleh jadi karena kemiskinan wacana penulisnya sendiri maupun pembatasan yang dilakukan oleh media massa. Tidak bisa dipungkiri media massa memiliki peran penting dalam hal ini. Media massa memiliki dua peran, baik sebagai "pencipta" iklim maupun sekedar "pemelihara".
Sebagai "pencipta" iklim media punya posisi penting untuk membentuk iklim baru dalam dunia sastra. Sebagai "pemelihara" iklim, kadang tanpa disadari, media sendiri yang membunuh daya kreativitas karena membiarkan karya-karya sastra itu tumbuh begitu saja, meski dengan apa adanya.
Kedua, motivasi menulis puisi belum dihayati sebagai cara penulis mewujudkan diri dalam kehidupan masyarakatnya. Rata-rata penulis Medan belum mampu melepaskan diri, sehingga tak merasa berkepentingan bagi orang banyak. Kepekaan penulis masih terbatas pada hal-hal yang menyangkut pribadinya. Boleh jadi hal ini disebabkan karena penulis kita tidak mengambil peran yang jelas dalam kehidupan bermasyarakat. Tak heran jika dalam kehidupannya ada jarak bahkan kontradiksi antara idealisme karyanya dengan perilaku keseharian. Pemurtadan terhadap karya inilah yang sering menjadikan sastrawan kehilangan keutuhan dirinya sendiri sekaligus berdampak buruk bagi iklim bersastra itu sendiri.
Mestinya, sentralisme yang ada pada seorang sastrawan dijadikan energi untuk kepentingan yang lebih besar, sehingga visi-misi itu selalu terlihat dalam karya-karyanya. Misi kemanusiaan yang memang belum populer di kalangan sastrawan kita ini, menurut saya juga hal penting yang sering diabaikan sastrawan. Sastra sebagai alat pencerahan masih belum dimaksimalkan dengan baik. Karenanya wajar jika karya sastra di Medan sering tak memuaskan kemanusiaan kita. Sepanjang sastrawan tak kembali pulang pada tugas "politik"nya itu, keragaman itu tak akan pernah tercipta.
Ketiga, dasar filsafat rata-rata penulis yang tak mapan. Bagaimanapun pendekatan filsafat dalam menulis puisi mutlak diperlukan.
Filsafat menjadikan puisi tak seperti menara gading, meski dengan kedalaman makna yang dia miliki. Kekuatan filsafat dalam puisi menjadikannya bernilai universal meski ditulis berdasarkan pengalaman empiris masing-masing pribadi yang beragam. Filsafat akan membantu seseorang mengapresiasi puisi yang ditulis dengan latar belakang psikologi dan budaya yang berbeda.
Dengan filsafat pula sebuah puisi bisa mengakomodir perasaan, persoalan dan kenyataan bersama yang dirasakan oleh orang-orang sekalipun dari berbagai belahan bumi. Pada akhirnya filsafat akan menjadikan seorang sastrawan tidak tercerabut dari kebudayaan global dengan lokalitas yang dimilikinya. Dalam kapasitas saya sebagai salah satu penjaga halaman sastra di salah satu koran Medan, saya sering mendapati puisi yang muatannya tak memiliki pijakan filsafat. Bagaimana mungkin ia akan berguna bagi orang lain?
Tak Mampu Beranalogi
Faktor lain yang membuat karya sastra Medan jadi seragam karena ketidakmampuan sastrawannya beranalogi yakni mengolah isu-isu dengan cara yang estetis. Harus diakui kegagalan para sastrawan Medan terutama terletak pada ketakberhasilan memindahkan realita ke dalam teks. Ditambah lagi dengan keengganan sastrawan Medan berkecimpung dalam dunia diskusi dan dialektika. Alhasil tak jarang suatu isu baru diangkat ketika sudah berlalu jauh. Dibanding dinamika sosial politik yang begitu progresif, karya sastra seakan tak mampu berbuat apa-apa. Isu-isu yang sedang berkembang seringkali luput dari apresiasi para sastrawan Medan. Ketika terjadi gejolak sosial di negeri ini, misalnya, para sastrawan Medan masih saja bicara soal "hujan" "malam" "airmata".
Jikapun ada yang menuliskan realita itu ke dalam bentuk puisi namun dengan analogi yang "terang-benderang". Sontak sastrawan kita kehilangan daya puitisnya. Berbeda ketika dia menulis puisi berdasarkan suasana hatinya itu.
Sudah waktunya sastrawan Medan kembali ke realita hidup masyarakatnya untuk mengungkap serta menjawab persoalan demi persoalan tidak hanya secara etis tapi juga bermakna.(Jones Gultom)
Sampai saat ini puisi-puisinya masih memiliki tempat tersendiri karena eksplorasi unik yang dia lakukan itu. Harus diakui, di Medan karya-karya semacam itu, agaknya tidak terlalu diminati. Wajar saja, mengingat watak sastrawan maupun pembaca sastra Medan cenderung lebih pragmatis. Karya sastra yang dibutuhkan di kota ini sepertinya lebih masih bersifat konvensional, yakni karya-karya yang alur dan ide ceritanya jelas. Boleh jadi karena keragaman kultur, masyarakatnya jadi membutuhkan semacam kesepahaman bersama dan mudah dimengerti.
Kesempatan untuk menonjolkan identitas tertentu dalam sebuah karya sastra, terutama puisi, sangat minim dan malah sering dianggap "gangguan" yang mengusik bahkan membebani pikiran pembacanya. Alhasil para para penulis puisi di Medan lebih memilih tunduk pada idiom-idiom yang berlaku universal.
Beda halnya dengan prosa, seperti cerita pendek ataupun novel. Karena ruang kreativitasnya yang luas dan fleksibel telah memberinya kesempatan yang lebih besar untuk bermain-main dalam tataran estetis. Pembaca tetap mampu mengikuti alur dan ide cerita meski diungkapkan dengan ciri khas identitas tertentu. Tidak seperti puisi. Selain karakteristiknya yang lebih padat, pengungkapannya juga sangat terbatas dibanding prosa. Keterbatasan itu tak jarang membuat sastrawan dan pembaca kita saling kehilangan, khususnya ketika dihadapkan dengan puisi yang khas identitas tertentu. Pada akhirnya, wilayah eksplorasi puisi menjadi kian sempit, miskin estetika dan dangkal.
Secara umum yang terjadi dalam dunia perpuisian di Medan dewasa ini adalah terjebak pada perulangan-perulangan dengan wilayah kreativitas yang sama dengan para penulis puisi terdahulu.
Puisi Dairy
Mari kita amati puisi-puisi yang terbit di koran-koran Medan yang terbit setiap hari Minggu. Rata-rata puisi itu mengisahkan tentang suasana hati dengan diksi yang itu-itu saja. Akibatnya puisi-puisi itu tampak seragam, baik dari pilihan kata maupun nilai yang ada padanya. Jarang sekali ditemukan puisi yang berangkat dari sebuah gagasan yang matang. Dari idenya, kebanyakan semangat yang mendasari penulis semata-mata sekedar memenuhi kebutuhan katarsis, tak ubahnya menulis sebuah diary.
Selain krisis estetika, secara umum sastra di Medan juga tumbuh tanpa identitas. Identitas yang saya maksud menyangkut gagasan dengan warna pengungkapan yang khas oleh sastrawannya. Apa jadinya jika sebuah produk kebudayaan, yang konon diolah melalui pengalaman batin dan impresi yang cukup dalam, dilahirkan tanpa arah tujuan. Tak heran jika puisi-puisi itu tampil dengan begitu "sederhana"nya.
Menurut saya, selain tuntutan pembaca Medan yang pragmatis, hal lain yang membuat puisi itu tampak "sederhana" karena penulis kita tak terbiasa dengan kerja eksperimentasi. Pertama, boleh jadi karena kemiskinan wacana penulisnya sendiri maupun pembatasan yang dilakukan oleh media massa. Tidak bisa dipungkiri media massa memiliki peran penting dalam hal ini. Media massa memiliki dua peran, baik sebagai "pencipta" iklim maupun sekedar "pemelihara".
Sebagai "pencipta" iklim media punya posisi penting untuk membentuk iklim baru dalam dunia sastra. Sebagai "pemelihara" iklim, kadang tanpa disadari, media sendiri yang membunuh daya kreativitas karena membiarkan karya-karya sastra itu tumbuh begitu saja, meski dengan apa adanya.
Kedua, motivasi menulis puisi belum dihayati sebagai cara penulis mewujudkan diri dalam kehidupan masyarakatnya. Rata-rata penulis Medan belum mampu melepaskan diri, sehingga tak merasa berkepentingan bagi orang banyak. Kepekaan penulis masih terbatas pada hal-hal yang menyangkut pribadinya. Boleh jadi hal ini disebabkan karena penulis kita tidak mengambil peran yang jelas dalam kehidupan bermasyarakat. Tak heran jika dalam kehidupannya ada jarak bahkan kontradiksi antara idealisme karyanya dengan perilaku keseharian. Pemurtadan terhadap karya inilah yang sering menjadikan sastrawan kehilangan keutuhan dirinya sendiri sekaligus berdampak buruk bagi iklim bersastra itu sendiri.
Mestinya, sentralisme yang ada pada seorang sastrawan dijadikan energi untuk kepentingan yang lebih besar, sehingga visi-misi itu selalu terlihat dalam karya-karyanya. Misi kemanusiaan yang memang belum populer di kalangan sastrawan kita ini, menurut saya juga hal penting yang sering diabaikan sastrawan. Sastra sebagai alat pencerahan masih belum dimaksimalkan dengan baik. Karenanya wajar jika karya sastra di Medan sering tak memuaskan kemanusiaan kita. Sepanjang sastrawan tak kembali pulang pada tugas "politik"nya itu, keragaman itu tak akan pernah tercipta.
Ketiga, dasar filsafat rata-rata penulis yang tak mapan. Bagaimanapun pendekatan filsafat dalam menulis puisi mutlak diperlukan.
Filsafat menjadikan puisi tak seperti menara gading, meski dengan kedalaman makna yang dia miliki. Kekuatan filsafat dalam puisi menjadikannya bernilai universal meski ditulis berdasarkan pengalaman empiris masing-masing pribadi yang beragam. Filsafat akan membantu seseorang mengapresiasi puisi yang ditulis dengan latar belakang psikologi dan budaya yang berbeda.
Dengan filsafat pula sebuah puisi bisa mengakomodir perasaan, persoalan dan kenyataan bersama yang dirasakan oleh orang-orang sekalipun dari berbagai belahan bumi. Pada akhirnya filsafat akan menjadikan seorang sastrawan tidak tercerabut dari kebudayaan global dengan lokalitas yang dimilikinya. Dalam kapasitas saya sebagai salah satu penjaga halaman sastra di salah satu koran Medan, saya sering mendapati puisi yang muatannya tak memiliki pijakan filsafat. Bagaimana mungkin ia akan berguna bagi orang lain?
Tak Mampu Beranalogi
Faktor lain yang membuat karya sastra Medan jadi seragam karena ketidakmampuan sastrawannya beranalogi yakni mengolah isu-isu dengan cara yang estetis. Harus diakui kegagalan para sastrawan Medan terutama terletak pada ketakberhasilan memindahkan realita ke dalam teks. Ditambah lagi dengan keengganan sastrawan Medan berkecimpung dalam dunia diskusi dan dialektika. Alhasil tak jarang suatu isu baru diangkat ketika sudah berlalu jauh. Dibanding dinamika sosial politik yang begitu progresif, karya sastra seakan tak mampu berbuat apa-apa. Isu-isu yang sedang berkembang seringkali luput dari apresiasi para sastrawan Medan. Ketika terjadi gejolak sosial di negeri ini, misalnya, para sastrawan Medan masih saja bicara soal "hujan" "malam" "airmata".
Jikapun ada yang menuliskan realita itu ke dalam bentuk puisi namun dengan analogi yang "terang-benderang". Sontak sastrawan kita kehilangan daya puitisnya. Berbeda ketika dia menulis puisi berdasarkan suasana hatinya itu.
Sudah waktunya sastrawan Medan kembali ke realita hidup masyarakatnya untuk mengungkap serta menjawab persoalan demi persoalan tidak hanya secara etis tapi juga bermakna.(Jones Gultom)
Selasa, 21 Februari 2012
Cerpen: WAKTU
Aula tersebut masih penuh dan riuh saat kutinggalkan, sebab sejumlah acara pada Pentas Seni Siswa masih akan digelar. Arloji di tanganku menunjukkan waktu pukul duapuluhdua kurang tiga menit. Sepasang panitia mengantarku hingga ke parkiran. Yang gadis menyodorkan amplop seraya menyampaikan rasa terimakasih mereka atas kesediaanku sebagai pengisi acara. Aku mengangguk seraya menyelipkan amplop tersebut ke saku jaket, menyalami keduanya dan segera berlalu.
Di kamar, segera saja kurebahkan tubuh. Aku merasa keletihan yang sangat. Pembacaan sejumlah puisi dan dilanjutkan dialog interaktif seputar dunia puisi yang memakan waktu dua jam lebih, benar-benar menguras stamina. Ternyata mereka sedemikian antusias. Ini membuatku dilingkupi haru bahagia. Antusias yang kian langka di tengah tawaran dunia lain yang lebih menarik. Dunia yang jauh lebih menggiurkan dan menguntungkan. Aku pun merasa lega mendapatkan respon jujur mereka, manakala usai satu per satu puisi yang kubacakan. Padahal aku tau mereka masih kesulitan menangkap makna tersirat di puisi-puisi tersebut. Ini terlihat dari sejumlah pertanyaan yang mereka lontarkan. Toh bagiku itu tidaklah harus terlalu dipersoalkan. Untuk taraf awal yang utama adalah mereka punya respon dan perhatian. Itu saja!
Keletihan yang kurasa secara perlahan menghantarku larut di hening malam. Secara perlahan pula benda-benda di dalam kamar mengecil dari tatapanku. Rasa kantuk sedemikian memeluk. Hanya sekali dua menguap, semua isi kamar lesap dari tatap. Alam bawah sadar kumasuki.
***
Suasana malam benar-benar hening sepi. Udara semakin dingin. Aku merasakan suasana berbeda dari malam-malam sebelumnya. Akupun mencium aroma yang selama ini belum pernah kurasakan. Aroma yang serasa menghantarku ke alam berbeda. Alam dengan suasana serasa sebegitu religius. Hingga sesaat kemudian, aku mendengar sapaan salam, “Assalamu ‘alaikum.”
Aku menoleh ke arah suara. Kulihat sosok dalam busana serba putih sebegitu suci telah berada di hadapanku. Aku sedemikian terpana.
“Assalamu ‘alaikum warahmatullah, ya Hamid.” Sosok berbusana serba putih sebegitu suci itu kembali mengulang salamnya. Aku tidak tau apakah dia juga manusia seperti diriku.
“Waalaikum salam warahmatullah. Siapakah engkau?”
“Aku utusan Yang Mahaagung, ya Hamid.”
“Utusan Yang Mahaagung? Aku… aku tidak mengerti…”
“Ya. Aku utusan yang akan hadir pada sesorang dan setiap mahluk bernyawa lainnya yang telah ditentukan waktunya.”
“Aku… aku semakin tidak mengerti, hai utusan Yang Mahaagung.”
Tiba-tiba saja sosok berbusana serba putih serasa sebegitu suci semakin dekat, sehingga kami nyaris bersintuhan.
“Aku Izrail. Malaikat yang bertugas mencabut nyawamu, karena sesaat lagi waktumu kan tiba.”
Aku terkesiap dan sedemikian ketakutan. Sosok malaikat kini terlah hadir siap untuk menunaikan tugasnya. Dan itu berarti kematianku. Aku ingin menghindar, karena belum siap untuk itu. Aku tak mampu. Aku merasa sedemikian letih. Aku mulai mengeluh, mengapa waktuku sebegitu singkat? Aku masih muda. Usiaku setahun lagi genap tigapuluh. Tubuhku masih sehat. Ah, mengapa waktu kematian harus datang lebih dahulu padaku? Mengapa tidak pada si Mbah yang telah sekian waktu terbaring bersama sejumlah komplikasi penyakit. Mengapa tidak pada si “mata keranjang” tetangga sebelah rumah yang masih senang mengganggu gadis dan janda, padahal telah berbini tiga. Atau mengapa tidak pada mereka yang hampir separuh usianya selalu menebar tindak kejahatan.
Aku sebegitu sedih harus meninggalkan segalanya. Segala yang kulihat, kualami dan kurasa selama hidup yang ternyata hanya sesaat saja. Segala hal yang menjadi bahan perenungan dan ekspresi bathin. Segala hal yang menggairahkan imaji. Yang berkali kuuntai menjadi bait-bait puisi. Orang-orangpun menyebutku si-Penyair, meski aku merasa belum pantas menyandang gelar tersebut. Nyatanya banyak yang memintaku mengisi acara, walau terbatas pada kalangan muda.
Dan kini aku akan meninggalkan mereka. Meninggalkan dunia yang kugeluti. Meninggalkan segalanya. Apakah kelak mereka merasakan kehilangan? Entahlah! Di satu waktu, aku pernah berjanji pada mereka akan melahirkan satu kumpulan puisi. Apakah mereka masih ingat dengan janjiku itu? Yang jelas aku tengah mempersiapkan sejumlah puisi demi memenuhi janji tersebut. Sudah ada 29 puisi, hanya tinggal 1 puisi lagi. Untuk puisi yang satu ini aku sedikit kesulitan mendapatkan bahan perenungan yang sesuai. Puisi ini kumaksud sebagai puisi penutup. Penutup dari kumpulan puisi yang akan kuberi judul: Lalu Waktu Berlalu beku.
Aku sesunggukan membayangkan semuanya. Kutatap sosok berbusana serba putih sebegitu suci. “Ya Malaikat utusan Yang mahaagung, berilah aku waktu lebih lama lagi. Aku benar-benar belum siap untuk suatu kematian. Aku masih memiliki utang, karena janji yang belum mampu kupenuhi. Aku berupaya memenuhi janji itu, maka berilah aku sejenak waktu.”
“Tidak bisa ya Hamid. Segalanya telah ditentukan dan tidak bisa diubah lagi. Ini adalah takdirmu. Bersiaplah ya Hamid, karena sesaat lagi waktumu akan tiba.”
Aku menggigil mendengar dan membayangkannya. “Ya Malaikat utusan Yang Mahaagung, sebelum waktuku tiba, sebelum engkau memenuhi tugas mencabut nyawaku, satu permintaanku…”
“Sebutkanlah ya Hamid!”
“Beri aku waktu untuk menulis puisi akhir. Aku harus memenuhi janji. Aku tidak ingi mati dalam keadaan berutang.”
“Bagaimanapun, soal waktu tidak bisa ditawar lagi ya Hamid. Sesuai wahyu, selesai azan shubuh perintah tersebut harus segera kulaksanakan.”
Sayup-sayup aku mendengar lantun ayat suci mengalun.
“Karena masih tersedia waktu untukmu, segeralah penuhi janjimu.”
Bagai dituntun sesuatu, atau justru ketakutan mati dalam keadaan berutang, aku segera bangkit. Kuraih buku dari laci meja. Telah duapuluh Sembilan puisi tertulis di situ. Hanya satu halaman lagi tersisa. Segera kugoreskan pena menuliskan untaian kata dalam bait-bait puisi:
WAKTU
bila saatnya tiba kita berpisah
tidak ada yang perlu ditangisi. biarlah
biarkan aku melayang menembus awan awan
menuju alam pesemayaman jiwa. Sementara
kau terbaring berselimut bumi berbalut sepi
kelak tiba saatnya,
kupenuhi dirimu kembali
kita tersenyum bersama selamanya
Satu persatu bulir air mataku menetes bergulir membasahi halaman akhir. Untaian kata-kata dalam bait-bait puisi penutup, berkali kuulangi membacanya. Keharuan sebegitu menyergap kedalaman hati. Mataku memejam dalam-dalam.
Lamat-lamat azan shubuh sampai ke telingaku . Semakin jelas terdengar. Aku tersentak menyadari suasana. Secara perlahan segalanya kembali menjadi nyata dalam tatapan mata. Tidak ada yang berubah. Hanya sosok berbusana serba putih sebegitu suci tiada lagi. Akupun tiada lagi mencium aroma serasa sebegitu religius. Udara memang dingin, karena rinai gerimis mulai menitis.
Ah, hanya mimpi. Ternyata waktuku belum tiba. Namun, aku buru-buru bangkit dari pembaringan menyadari sesungguhnya waktu telah tiba dan akan segera berlalu. Yang Mahaagung telah menetapkan waktu untukku serta untuk saudara-saudaraku seiman segera menyembah padaNya. Bagaimanapun aku tidak ingin kehilangan waktu paling berharga di dunia.
Sampali, 2012
Di kamar, segera saja kurebahkan tubuh. Aku merasa keletihan yang sangat. Pembacaan sejumlah puisi dan dilanjutkan dialog interaktif seputar dunia puisi yang memakan waktu dua jam lebih, benar-benar menguras stamina. Ternyata mereka sedemikian antusias. Ini membuatku dilingkupi haru bahagia. Antusias yang kian langka di tengah tawaran dunia lain yang lebih menarik. Dunia yang jauh lebih menggiurkan dan menguntungkan. Aku pun merasa lega mendapatkan respon jujur mereka, manakala usai satu per satu puisi yang kubacakan. Padahal aku tau mereka masih kesulitan menangkap makna tersirat di puisi-puisi tersebut. Ini terlihat dari sejumlah pertanyaan yang mereka lontarkan. Toh bagiku itu tidaklah harus terlalu dipersoalkan. Untuk taraf awal yang utama adalah mereka punya respon dan perhatian. Itu saja!
Keletihan yang kurasa secara perlahan menghantarku larut di hening malam. Secara perlahan pula benda-benda di dalam kamar mengecil dari tatapanku. Rasa kantuk sedemikian memeluk. Hanya sekali dua menguap, semua isi kamar lesap dari tatap. Alam bawah sadar kumasuki.
***
Suasana malam benar-benar hening sepi. Udara semakin dingin. Aku merasakan suasana berbeda dari malam-malam sebelumnya. Akupun mencium aroma yang selama ini belum pernah kurasakan. Aroma yang serasa menghantarku ke alam berbeda. Alam dengan suasana serasa sebegitu religius. Hingga sesaat kemudian, aku mendengar sapaan salam, “Assalamu ‘alaikum.”
Aku menoleh ke arah suara. Kulihat sosok dalam busana serba putih sebegitu suci telah berada di hadapanku. Aku sedemikian terpana.
“Assalamu ‘alaikum warahmatullah, ya Hamid.” Sosok berbusana serba putih sebegitu suci itu kembali mengulang salamnya. Aku tidak tau apakah dia juga manusia seperti diriku.
“Waalaikum salam warahmatullah. Siapakah engkau?”
“Aku utusan Yang Mahaagung, ya Hamid.”
“Utusan Yang Mahaagung? Aku… aku tidak mengerti…”
“Ya. Aku utusan yang akan hadir pada sesorang dan setiap mahluk bernyawa lainnya yang telah ditentukan waktunya.”
“Aku… aku semakin tidak mengerti, hai utusan Yang Mahaagung.”
Tiba-tiba saja sosok berbusana serba putih serasa sebegitu suci semakin dekat, sehingga kami nyaris bersintuhan.
“Aku Izrail. Malaikat yang bertugas mencabut nyawamu, karena sesaat lagi waktumu kan tiba.”
Aku terkesiap dan sedemikian ketakutan. Sosok malaikat kini terlah hadir siap untuk menunaikan tugasnya. Dan itu berarti kematianku. Aku ingin menghindar, karena belum siap untuk itu. Aku tak mampu. Aku merasa sedemikian letih. Aku mulai mengeluh, mengapa waktuku sebegitu singkat? Aku masih muda. Usiaku setahun lagi genap tigapuluh. Tubuhku masih sehat. Ah, mengapa waktu kematian harus datang lebih dahulu padaku? Mengapa tidak pada si Mbah yang telah sekian waktu terbaring bersama sejumlah komplikasi penyakit. Mengapa tidak pada si “mata keranjang” tetangga sebelah rumah yang masih senang mengganggu gadis dan janda, padahal telah berbini tiga. Atau mengapa tidak pada mereka yang hampir separuh usianya selalu menebar tindak kejahatan.
Aku sebegitu sedih harus meninggalkan segalanya. Segala yang kulihat, kualami dan kurasa selama hidup yang ternyata hanya sesaat saja. Segala hal yang menjadi bahan perenungan dan ekspresi bathin. Segala hal yang menggairahkan imaji. Yang berkali kuuntai menjadi bait-bait puisi. Orang-orangpun menyebutku si-Penyair, meski aku merasa belum pantas menyandang gelar tersebut. Nyatanya banyak yang memintaku mengisi acara, walau terbatas pada kalangan muda.
Dan kini aku akan meninggalkan mereka. Meninggalkan dunia yang kugeluti. Meninggalkan segalanya. Apakah kelak mereka merasakan kehilangan? Entahlah! Di satu waktu, aku pernah berjanji pada mereka akan melahirkan satu kumpulan puisi. Apakah mereka masih ingat dengan janjiku itu? Yang jelas aku tengah mempersiapkan sejumlah puisi demi memenuhi janji tersebut. Sudah ada 29 puisi, hanya tinggal 1 puisi lagi. Untuk puisi yang satu ini aku sedikit kesulitan mendapatkan bahan perenungan yang sesuai. Puisi ini kumaksud sebagai puisi penutup. Penutup dari kumpulan puisi yang akan kuberi judul: Lalu Waktu Berlalu beku.
Aku sesunggukan membayangkan semuanya. Kutatap sosok berbusana serba putih sebegitu suci. “Ya Malaikat utusan Yang mahaagung, berilah aku waktu lebih lama lagi. Aku benar-benar belum siap untuk suatu kematian. Aku masih memiliki utang, karena janji yang belum mampu kupenuhi. Aku berupaya memenuhi janji itu, maka berilah aku sejenak waktu.”
“Tidak bisa ya Hamid. Segalanya telah ditentukan dan tidak bisa diubah lagi. Ini adalah takdirmu. Bersiaplah ya Hamid, karena sesaat lagi waktumu akan tiba.”
Aku menggigil mendengar dan membayangkannya. “Ya Malaikat utusan Yang Mahaagung, sebelum waktuku tiba, sebelum engkau memenuhi tugas mencabut nyawaku, satu permintaanku…”
“Sebutkanlah ya Hamid!”
“Beri aku waktu untuk menulis puisi akhir. Aku harus memenuhi janji. Aku tidak ingi mati dalam keadaan berutang.”
“Bagaimanapun, soal waktu tidak bisa ditawar lagi ya Hamid. Sesuai wahyu, selesai azan shubuh perintah tersebut harus segera kulaksanakan.”
Sayup-sayup aku mendengar lantun ayat suci mengalun.
“Karena masih tersedia waktu untukmu, segeralah penuhi janjimu.”
Bagai dituntun sesuatu, atau justru ketakutan mati dalam keadaan berutang, aku segera bangkit. Kuraih buku dari laci meja. Telah duapuluh Sembilan puisi tertulis di situ. Hanya satu halaman lagi tersisa. Segera kugoreskan pena menuliskan untaian kata dalam bait-bait puisi:
WAKTU
bila saatnya tiba kita berpisah
tidak ada yang perlu ditangisi. biarlah
biarkan aku melayang menembus awan awan
menuju alam pesemayaman jiwa. Sementara
kau terbaring berselimut bumi berbalut sepi
kelak tiba saatnya,
kupenuhi dirimu kembali
kita tersenyum bersama selamanya
Satu persatu bulir air mataku menetes bergulir membasahi halaman akhir. Untaian kata-kata dalam bait-bait puisi penutup, berkali kuulangi membacanya. Keharuan sebegitu menyergap kedalaman hati. Mataku memejam dalam-dalam.
Lamat-lamat azan shubuh sampai ke telingaku . Semakin jelas terdengar. Aku tersentak menyadari suasana. Secara perlahan segalanya kembali menjadi nyata dalam tatapan mata. Tidak ada yang berubah. Hanya sosok berbusana serba putih sebegitu suci tiada lagi. Akupun tiada lagi mencium aroma serasa sebegitu religius. Udara memang dingin, karena rinai gerimis mulai menitis.
Ah, hanya mimpi. Ternyata waktuku belum tiba. Namun, aku buru-buru bangkit dari pembaringan menyadari sesungguhnya waktu telah tiba dan akan segera berlalu. Yang Mahaagung telah menetapkan waktu untukku serta untuk saudara-saudaraku seiman segera menyembah padaNya. Bagaimanapun aku tidak ingin kehilangan waktu paling berharga di dunia.
Sampali, 2012
Cerpen: BUKIT KEMENANGAN
Bagi seluruh warga Desa Sumberejo, Mbah Karto sebegitu dihormati dan disegani. Beliau sesepuh desa. Selepas masa perjuangan beliau bersama pengikutnya membuka desa tersebut, Desa yang terletak di lembah Bukit Kemenangan. Nama bukit tersebut pun adalah petunjuk Mbah Karto. Bagi beliau dan pengikutnya, bukit tersebut menjadi markas mereka semasa perjuangan melawan penjajah, Berkali mereka mencegat konvoi pasukah penjajah dan menghancurkannya. Mereka pun berkali meraih kemenangan gemilang.
Pagi tiba di desa tersebut. Matahari belum sempurna terlihat. Udara terasa lebih dingin. Hujan rinai hingga dinihari membasahi permukaan desa. Jalan tanah membelah desa terlihat agak becek.
Aktifitas penduduk kembali dimulai. Anak-anak berseragam putih merah berkelompok menuju sekolah dasar terletak di ujung desa. Yang bersekolah di tingkat lanjutan, berjalan menuju jalan persimpangan desa menunggu angkutan ke kota kecamatan. Yang dewasa perempuan dan lelaki memulai rutinitas sehari-hari. Ke sawah, ke kebun, ke pasar, sungai, berkedai, dan sebagian lagi ke hutan Bukit Kemenangan mengumpuli kayu bakar. Satu dua terlihat menggiring ternaknya menuju hamparan rerumputan di utara desa.
Selepas shubuh Mbah Karto telah bersantai di serambi. Di meja tersedia secangkir teh kental dan beberapa potong singkong rebus. Setiap warga melintas depan rumahnya selalu menyapa memperlihatkan sikap hormat. Mbah Karto pun selalu membalasnya. Sesekali beliau beranjak ke tangga serambi menyongsong dan berbincang sesaat perihal kehidupan penduduk. Ini telah menjadi kebiasaan Mbah Karto setiap pagi sebelum berjalan mengitari desa.
Pagi ini belum sempat Mbah Karto turun, Parman menantunya yang diangkat warga menjadi lurah, tiba bersama dua tamu. Seorang bapak memakai tungkat di bahu kiri dan seorang pemuda sebaya Minah cucunya. Mbah Karto bergegas bangkit menyongsong.
“Assalamu ‘alaikum,” sapa Parman.
“Waalaikum salam, ada apa dan siapa mereka Parman?”
Belum sempat Parman menjawab, tamu yang bertungkat keburu merangkul Mbah Karto, sehingga keduanya nyaris terjajar jatuh. “Masih ingat denganku Pak?”
Mbah Karto tertegun bagai melamun. Ditatapnya seksama wajah di hadapannya, namun tak jua bisa memastikan siapa. Lelaki bertungkat itu tak ingin Mbah Karto berlama tertanya.
“Aku Marno, Pak!” lelaki itu mengguncang bagu Mbah karto. “Ini Anto putraku. Ayo Anto, beri hormat pada komandan bapak.”
Mbah karto terhenyak bak hilang gerak. Marno anak buahnya yang dijuluki “si-Penakut” itu kini di hadapannya. “Marno? Kaukah ini Marno? Massya Allah! Ke mana saja kau selama ini?” Mbah Karto mendekap erat tubuh Marno. Marno membenam diri dalam dekapan komandannya. Keduanya sesunggukan dan mata mereka berkaca-kaca.
“Panjang ceritanya Pak,” sahut Marno seraya membetulkan letak tungkat di bahu kirinya. Mbah Karto menuntun Marno menuju bangku.
“kecelakaan itu membuatku pingsan. Ketika tersadar, aku telah terbaring di balai pengobatan. Kata petugas palang merah, aku tidak sadar selama tiga hari. Saat sadar, aku ingat bapak dan teman-teman. Aku mencoba bangkit, namun kaki kiriku tak kuasa digerakkan. Menurut dokter, tulang pahaku remuk. Aku begitu sedih, berharap Bapak atau teman-teman datang, namun tak jua ada. Menurut informasi, penjajah telah memblokir jalan, memperketat pengepungan terhadap markas kita. Hingga kami diungsikan ke tempat lebih aman, aku tak pernah mengetahui khabar keberadaan Bapak dan teman-teman.”
“Seperti yang kau lihat Marno, komandanmu ini masih hidup. Penjajah tidak pernah mampu merebut markas kita. Meski persenjataan mereka jauh lebih lengkap, namun kita lebih kenal medan. Penjajah….” Mbah Karto tak melanjutkan ucapannya. Seketika terdiam. Seperti ada yang difikirkannya. Matanya terpejam dalam. Marno serta Anto anaknya heran melihat perubahan sikap Mbah Karto tersebut.
Rauangan sin-saw, mesin gergaji terdengar di kejauhan. Tak lama disertai suara derak pohon yang tumbang. Sesaat kemudian, sesungging senyum menghias di bibir Mbah Karto. Seakan beliau barusan mendengar alunan teramat indah.
“Ada apa Pak?” Marno tertanya.
Mbah karto tersentak, “Eh, ah tidak. Tidak apa. Bapak jadi teringat masa perjuangan kita dulu.”
Matahari mulai sepenggalahan. Bagi Mbah Karto saatnya untuk turun berjalan mengitari desa. Diajaknya Marno dan Anto mengikutinya.
“Jadi selama ini kau tinggal di mana Marno?”
“Semula kami tinggal di Desa Randu Alas. Hampir sepuluh tahun aku menetap di situ. Di situ pula aku bertemu dan menikah dengan Sri, ibunya Anto. Hingga satu ketika, kami dan seisi desa mengalami peristiwa tragis. Para pemberontak menjadikan desa kami sebagai sarang mereka. Banyak penduduk menjadi korban, termasuk istriku. Aku membawa Anto mengungsi dari satu tempat ke tempat lain.”
“Malang nasibmu Marno.” Mbah Karto terenyuh mendengar kisah anak buahnya.
Ketiganya kembali melangkah menyusuri jejalanan desa. Pak Marno terkagum melihat rumah-rumah penduduk. Seragam dan tertata rapi. Berdinding setengah tembok bata dan papan olahan.
Raungan sin-saw kembali terdengar. Beberapa saat kemudian diiringi suara derak pohon tumbang. Mbah Karto kembali tertegun sesaat, lalu sesungging senyum kembali menggores di bibirnya. Beberapa kali kejadian itu terulang. Pak Marno dan Anto makin penasaran.
“Aku tidak bisa mengerti mengapa Mbah selalu tertegun lalu tersenyum saat terdengar raungan mesin gergaji dan suara derak pohon yang tumbang?” Anto tertanya.
Mbah Karto menoleh memandangi Anto, kemudian melangkah menuju satu gundukan. “Tidakkah kalian bisa merasakan sesuatu yang merdu di pendengaran, disaat mendengar semuanya? Sesuatu bagai alunan nada indah mengguratkan kenangan mengesankan.”
“Nada merdu? Kenangan mengesankan? Maksud Bapak?” Pak Marno tampak dalam balutan kebingungan.
“Yah, sebegitu merdu dan indah. Bagai alunan irama mars menghentak di dada. Membangkitkan gairah. Ah, benar-benar mengesankan, Marno!”
Raungan sin-saw kemudian derak pohon tumbang kembali terdengar. “Kalian telah mendengar dan merasakan? Betapa suara itu mengalun indah di telinga, lalu menjalari seluruh tubuh. Mendengarnya, gairah di masa perjuanganku dulu kembali menjalari urat-urat nadi. Semangat kembali menyala-nyala. Semangat yang selalu menggelora, manakala konvoi penjajah yang kita intai segera tiba di depan mata. Semangat untuk meraih kemenangan demi kemenangan. Tak dapatkah kau merasakannya Marno?”
Pak Marno memandang kea rah Mbah Karto . Keningnya tergurat ketidakmengertian dan tanda tanya akan sikap dan ucapan Mbah Karto. “Justru suara derak pohon tumbang itu seakan menyayat di hatiku. Menggoreskan kekhawatiran akan…”
“Marno, kita dulu adalah pejuang penuh semangat dan aku tidak mau semangat itu melemah dan pudar. Aku selalu ingin mematri semangat itu, kendati kita telah tua. Di mana kini semangat perjuanganmu Marno?”
“Aku tetap memiliki semangat itu Pak. Tapi, aku tidak mengerti kaitannya dengan suara derak pohon tumbang.”
“Marno…Marno. Kau telah melupakan kisah perjuangan kita!”
“Tak pernah aku melupakan itu Pak! Bapak bisa menyaksikan kaki kiriku yang cacat ini. Bagaimana mungkin aku melupakannya.”
“Kenyataannya demikian! Secara sepintas aku merasakan semangat itu melemah di dadamu. Apalagi pada dasarnya kau kurang memiliki keberanian. Mendengar deru tank penjajah saja kau sudah gemetaran. Kau bergerak lari sebelum aku perintah, akibatnya satu pohon yang kita tumbangkan sempat menimpa dirimu.”
“Aku memang penakut Pak. Tapi aku punya semangat melawan penjajah, ketimbang mereka yang tak peduli akan nasib bangsa tertindas. Apalagi mereka yang menjadi antek penjajah. Pengkhianat bangsa!”
“Bagiku Marno, suara derak pohon tumbang selalu membuatku semangat. Semangat sebagai pejuang Tanah Air yang tak pernah pudar, hingga aku mati. Bagaiman dulunya kita bersemangat menghancurkan konvoi pasukan penjajah. Dari atas bukit kita mengintai dan menanti musuh. Ketika musuh telah tiba di depan mata, kita cegat di depan dan belakang mereka dengan pohon-pohon yang ditumbang. Bahkan pohon yang tumbang itu menimpa mereka. Di saat mereka kucar-kacir, kita serentak menyerang. Dan kemenangan gilang-gemilang selalu kita raih dengan taktik penyergapan demikian.”
Pak Marno dan Anto mulai mengerti apa kaitan antara suara derak pohon yang ditumbang dengan sikap aneh Mbah Karto. Keduanya diam dengan fikiran masing-masing. Raungan sin-saw disusul suara derak pohon tumbang kembali terdengar. Mbah Karto tertegun, sesungging senyum kembali hadir di bibirnya. Hutan Bukit Kemenangan terlihat lebat menghijau.
“Telah berpa lama kegiatan penebangan ini berlangsung Pak?” Tanya Marno
“Telah puluhan tahun. Tak lamasetelah desa ini kami buka. Sesorang dari kota datang memohon persetujuan padaku dan penduduk desa untuk mengelola hutan desa dan membuka kilang kayu.”
“Telah puluhan tahun? Dan selama itu tidakkah pernah timbul bencana?”
“Bencana? Bencana apa Marno?”
“Bencana banjir atau justru kekeringan Mbah.” Anto langsung menjawab.
“Benar Pak. Itu yang kumaksud”
Mbah Karto mengerti arah tujuan pertanyaan Pak Marno. Beliau tersenyum memegang bahu Pak Marno. “Seperti yang kalian saksikan, desa ini adem tenteram. Persawahan dan tanaman lain penduduk sebegitu subur. Aku tidak bodoh Marno. Sedikit banyak aku mengerti perihal akibat dari penebangan hutan. Kepada pengelola dan pemilik kilang kayu aku tetapkan persyaratan, aturan dan kewajiban.
Dan hal itu telah disepakati hingga kini. Hutan Bukit Kemenangan tetap terjaga. Penduduk juga dilibatkan sebagai pekerja untuk membiayai kebutuhan hidup mereka. Sarana desa dibangun. Bagi kami perusahaan kilang kayu ini sangat berarti meningkatkan taraf hidup. Kau dan anakmu pun boleh tinggal di desa ini Marno. Bagaimana?”
Pak Marno mengangguk setuju. Raungan sin-saw kembali terdengar diikuti suara derak pohon yang tumbang, mbah Karto kembali tersenyum. Kisah perjuangan di Bukit Kemenangan selalu jadi kenangan indah baginya.
Sampali, 2012
Pagi tiba di desa tersebut. Matahari belum sempurna terlihat. Udara terasa lebih dingin. Hujan rinai hingga dinihari membasahi permukaan desa. Jalan tanah membelah desa terlihat agak becek.
Aktifitas penduduk kembali dimulai. Anak-anak berseragam putih merah berkelompok menuju sekolah dasar terletak di ujung desa. Yang bersekolah di tingkat lanjutan, berjalan menuju jalan persimpangan desa menunggu angkutan ke kota kecamatan. Yang dewasa perempuan dan lelaki memulai rutinitas sehari-hari. Ke sawah, ke kebun, ke pasar, sungai, berkedai, dan sebagian lagi ke hutan Bukit Kemenangan mengumpuli kayu bakar. Satu dua terlihat menggiring ternaknya menuju hamparan rerumputan di utara desa.
Selepas shubuh Mbah Karto telah bersantai di serambi. Di meja tersedia secangkir teh kental dan beberapa potong singkong rebus. Setiap warga melintas depan rumahnya selalu menyapa memperlihatkan sikap hormat. Mbah Karto pun selalu membalasnya. Sesekali beliau beranjak ke tangga serambi menyongsong dan berbincang sesaat perihal kehidupan penduduk. Ini telah menjadi kebiasaan Mbah Karto setiap pagi sebelum berjalan mengitari desa.
Pagi ini belum sempat Mbah Karto turun, Parman menantunya yang diangkat warga menjadi lurah, tiba bersama dua tamu. Seorang bapak memakai tungkat di bahu kiri dan seorang pemuda sebaya Minah cucunya. Mbah Karto bergegas bangkit menyongsong.
“Assalamu ‘alaikum,” sapa Parman.
“Waalaikum salam, ada apa dan siapa mereka Parman?”
Belum sempat Parman menjawab, tamu yang bertungkat keburu merangkul Mbah Karto, sehingga keduanya nyaris terjajar jatuh. “Masih ingat denganku Pak?”
Mbah Karto tertegun bagai melamun. Ditatapnya seksama wajah di hadapannya, namun tak jua bisa memastikan siapa. Lelaki bertungkat itu tak ingin Mbah Karto berlama tertanya.
“Aku Marno, Pak!” lelaki itu mengguncang bagu Mbah karto. “Ini Anto putraku. Ayo Anto, beri hormat pada komandan bapak.”
Mbah karto terhenyak bak hilang gerak. Marno anak buahnya yang dijuluki “si-Penakut” itu kini di hadapannya. “Marno? Kaukah ini Marno? Massya Allah! Ke mana saja kau selama ini?” Mbah Karto mendekap erat tubuh Marno. Marno membenam diri dalam dekapan komandannya. Keduanya sesunggukan dan mata mereka berkaca-kaca.
“Panjang ceritanya Pak,” sahut Marno seraya membetulkan letak tungkat di bahu kirinya. Mbah Karto menuntun Marno menuju bangku.
“kecelakaan itu membuatku pingsan. Ketika tersadar, aku telah terbaring di balai pengobatan. Kata petugas palang merah, aku tidak sadar selama tiga hari. Saat sadar, aku ingat bapak dan teman-teman. Aku mencoba bangkit, namun kaki kiriku tak kuasa digerakkan. Menurut dokter, tulang pahaku remuk. Aku begitu sedih, berharap Bapak atau teman-teman datang, namun tak jua ada. Menurut informasi, penjajah telah memblokir jalan, memperketat pengepungan terhadap markas kita. Hingga kami diungsikan ke tempat lebih aman, aku tak pernah mengetahui khabar keberadaan Bapak dan teman-teman.”
“Seperti yang kau lihat Marno, komandanmu ini masih hidup. Penjajah tidak pernah mampu merebut markas kita. Meski persenjataan mereka jauh lebih lengkap, namun kita lebih kenal medan. Penjajah….” Mbah Karto tak melanjutkan ucapannya. Seketika terdiam. Seperti ada yang difikirkannya. Matanya terpejam dalam. Marno serta Anto anaknya heran melihat perubahan sikap Mbah Karto tersebut.
Rauangan sin-saw, mesin gergaji terdengar di kejauhan. Tak lama disertai suara derak pohon yang tumbang. Sesaat kemudian, sesungging senyum menghias di bibir Mbah Karto. Seakan beliau barusan mendengar alunan teramat indah.
“Ada apa Pak?” Marno tertanya.
Mbah karto tersentak, “Eh, ah tidak. Tidak apa. Bapak jadi teringat masa perjuangan kita dulu.”
Matahari mulai sepenggalahan. Bagi Mbah Karto saatnya untuk turun berjalan mengitari desa. Diajaknya Marno dan Anto mengikutinya.
“Jadi selama ini kau tinggal di mana Marno?”
“Semula kami tinggal di Desa Randu Alas. Hampir sepuluh tahun aku menetap di situ. Di situ pula aku bertemu dan menikah dengan Sri, ibunya Anto. Hingga satu ketika, kami dan seisi desa mengalami peristiwa tragis. Para pemberontak menjadikan desa kami sebagai sarang mereka. Banyak penduduk menjadi korban, termasuk istriku. Aku membawa Anto mengungsi dari satu tempat ke tempat lain.”
“Malang nasibmu Marno.” Mbah Karto terenyuh mendengar kisah anak buahnya.
Ketiganya kembali melangkah menyusuri jejalanan desa. Pak Marno terkagum melihat rumah-rumah penduduk. Seragam dan tertata rapi. Berdinding setengah tembok bata dan papan olahan.
Raungan sin-saw kembali terdengar. Beberapa saat kemudian diiringi suara derak pohon tumbang. Mbah Karto kembali tertegun sesaat, lalu sesungging senyum kembali menggores di bibirnya. Beberapa kali kejadian itu terulang. Pak Marno dan Anto makin penasaran.
“Aku tidak bisa mengerti mengapa Mbah selalu tertegun lalu tersenyum saat terdengar raungan mesin gergaji dan suara derak pohon yang tumbang?” Anto tertanya.
Mbah Karto menoleh memandangi Anto, kemudian melangkah menuju satu gundukan. “Tidakkah kalian bisa merasakan sesuatu yang merdu di pendengaran, disaat mendengar semuanya? Sesuatu bagai alunan nada indah mengguratkan kenangan mengesankan.”
“Nada merdu? Kenangan mengesankan? Maksud Bapak?” Pak Marno tampak dalam balutan kebingungan.
“Yah, sebegitu merdu dan indah. Bagai alunan irama mars menghentak di dada. Membangkitkan gairah. Ah, benar-benar mengesankan, Marno!”
Raungan sin-saw kemudian derak pohon tumbang kembali terdengar. “Kalian telah mendengar dan merasakan? Betapa suara itu mengalun indah di telinga, lalu menjalari seluruh tubuh. Mendengarnya, gairah di masa perjuanganku dulu kembali menjalari urat-urat nadi. Semangat kembali menyala-nyala. Semangat yang selalu menggelora, manakala konvoi penjajah yang kita intai segera tiba di depan mata. Semangat untuk meraih kemenangan demi kemenangan. Tak dapatkah kau merasakannya Marno?”
Pak Marno memandang kea rah Mbah Karto . Keningnya tergurat ketidakmengertian dan tanda tanya akan sikap dan ucapan Mbah Karto. “Justru suara derak pohon tumbang itu seakan menyayat di hatiku. Menggoreskan kekhawatiran akan…”
“Marno, kita dulu adalah pejuang penuh semangat dan aku tidak mau semangat itu melemah dan pudar. Aku selalu ingin mematri semangat itu, kendati kita telah tua. Di mana kini semangat perjuanganmu Marno?”
“Aku tetap memiliki semangat itu Pak. Tapi, aku tidak mengerti kaitannya dengan suara derak pohon tumbang.”
“Marno…Marno. Kau telah melupakan kisah perjuangan kita!”
“Tak pernah aku melupakan itu Pak! Bapak bisa menyaksikan kaki kiriku yang cacat ini. Bagaimana mungkin aku melupakannya.”
“Kenyataannya demikian! Secara sepintas aku merasakan semangat itu melemah di dadamu. Apalagi pada dasarnya kau kurang memiliki keberanian. Mendengar deru tank penjajah saja kau sudah gemetaran. Kau bergerak lari sebelum aku perintah, akibatnya satu pohon yang kita tumbangkan sempat menimpa dirimu.”
“Aku memang penakut Pak. Tapi aku punya semangat melawan penjajah, ketimbang mereka yang tak peduli akan nasib bangsa tertindas. Apalagi mereka yang menjadi antek penjajah. Pengkhianat bangsa!”
“Bagiku Marno, suara derak pohon tumbang selalu membuatku semangat. Semangat sebagai pejuang Tanah Air yang tak pernah pudar, hingga aku mati. Bagaiman dulunya kita bersemangat menghancurkan konvoi pasukan penjajah. Dari atas bukit kita mengintai dan menanti musuh. Ketika musuh telah tiba di depan mata, kita cegat di depan dan belakang mereka dengan pohon-pohon yang ditumbang. Bahkan pohon yang tumbang itu menimpa mereka. Di saat mereka kucar-kacir, kita serentak menyerang. Dan kemenangan gilang-gemilang selalu kita raih dengan taktik penyergapan demikian.”
Pak Marno dan Anto mulai mengerti apa kaitan antara suara derak pohon yang ditumbang dengan sikap aneh Mbah Karto. Keduanya diam dengan fikiran masing-masing. Raungan sin-saw disusul suara derak pohon tumbang kembali terdengar. Mbah Karto tertegun, sesungging senyum kembali hadir di bibirnya. Hutan Bukit Kemenangan terlihat lebat menghijau.
“Telah berpa lama kegiatan penebangan ini berlangsung Pak?” Tanya Marno
“Telah puluhan tahun. Tak lamasetelah desa ini kami buka. Sesorang dari kota datang memohon persetujuan padaku dan penduduk desa untuk mengelola hutan desa dan membuka kilang kayu.”
“Telah puluhan tahun? Dan selama itu tidakkah pernah timbul bencana?”
“Bencana? Bencana apa Marno?”
“Bencana banjir atau justru kekeringan Mbah.” Anto langsung menjawab.
“Benar Pak. Itu yang kumaksud”
Mbah Karto mengerti arah tujuan pertanyaan Pak Marno. Beliau tersenyum memegang bahu Pak Marno. “Seperti yang kalian saksikan, desa ini adem tenteram. Persawahan dan tanaman lain penduduk sebegitu subur. Aku tidak bodoh Marno. Sedikit banyak aku mengerti perihal akibat dari penebangan hutan. Kepada pengelola dan pemilik kilang kayu aku tetapkan persyaratan, aturan dan kewajiban.
Dan hal itu telah disepakati hingga kini. Hutan Bukit Kemenangan tetap terjaga. Penduduk juga dilibatkan sebagai pekerja untuk membiayai kebutuhan hidup mereka. Sarana desa dibangun. Bagi kami perusahaan kilang kayu ini sangat berarti meningkatkan taraf hidup. Kau dan anakmu pun boleh tinggal di desa ini Marno. Bagaimana?”
Pak Marno mengangguk setuju. Raungan sin-saw kembali terdengar diikuti suara derak pohon yang tumbang, mbah Karto kembali tersenyum. Kisah perjuangan di Bukit Kemenangan selalu jadi kenangan indah baginya.
Sampali, 2012
Langganan:
Postingan (Atom)