Senin, 12 Maret 2012

HAJATAN HUJAN

jelang hajatan awan menebal menggumpal
mendung menggelayut menyaput cerah
tuan rumah henyak murung dibalut resah

bawang cabai ditusuki lidi di pojokan halaman
jadi tangkal supaya jangan turun hujan
sang pawang membentang selendang
menaruh tujuh rupa kembang dan ayam panggang
tiga kepal nasi lengkapi sesaji
selepas semedi pawang berdiri menari
mulut komat kamit memandangi langit
mempermain keris ingin menangkis gerimis
tubuh bergetar saat mantranya terdengar

“hoi penunggu penjuru alam
yang semayam di arakan awan
yang terpejam di dingin angin
yang mendekam di hati bumi
yang membenam di perut laut
hari ini kami hajatan
jangan, jangan biarkan diguyur hujan
nah… nah… puih!
nah… nah… puih!

hoi penjaga segala mayapada
penjaga pintu jendela segala cuaca
tutupi segala pintu segala jendela hujanmu
hujan di hari ini
jangan, jangan biarkan di sini
nah…nah…puih!
nah…nah…puih!”

saat hajatan digelar kilat sambar menyambar
petir menggelegar hingar
tuan rumah terhentak, sang pawang terpacak
hujan turun kian tak tertahan
bocah bocah telanjang dada main kejaran bermandikan hujan

“kuluk kuluk hujan turun
kuluk kuluk hujan deras
kuluk kuluk hujan turun
kuluk kuluk hujan deras
Horre…horre…horre!”

Minggu, 11 Maret 2012

NAHUM SITUMORANG Dahulu Dan Sekarang

Oleh Poltak Sinaga

Ungkapan bijak mengatakan, seseorang yang tengah berlindung dan berteduh di bawah suatu pohon rindang saat terik menyengat, wajar dia mengucapkan terimakasih pada si penanam pohon itu. Bila seseorang tengah menikmati alunan lagu-lagu yang mampu menyejukkan hati atau menghiburnya, wajar dia mengucapkan terimakasih pada komponisnya.
Nahum Situmorang (foto) banyak menanam pohon kesejukan yang menghasilkan buah-buah segar seiring karya musiknya yang tetap digemari. Di sisi lain banyak penyanyi pop dari kalangan etnik Batak maupun etnik lainnya yang meraup keuntungan, memetik buah-buah segar karya Nahum demi kekayaan pribadi. Namun ungkapan terimakasih dari sejumlah penyanyi dan musisi yang meraup banyak keuntungan materi itu, nyaris tak terdengar. Pusara Nahum Situmorang hingga kini masih tetap berada di balik debu dan deru suara hingar bingar kenderaan kota Medan. Keadaan ini menunjukkan suatu fenomena ketidakpedulian. Pada hal, Nahum senantiasa menanti jawaban atas harapan yang mengiinginkan pusaranya dipindahkan ke bonapasogit (kampung halaman) di Pulau Samosir sebagaimana terpatri di dalam lagu berjudul, Pulo Samosir..
“Molo marujungma muse ngolungku sarihonma, anggo bangkekku di si tanomonmu, di si udeanku, sarihonma”. (Artinya, jika nanti aku mati, camkanlah bahwa jasadku akan kau makamkan di Pulau Samosir, di sanalah pusaraku). Benarkah ?
Sejarah atau riwayat hidup orang penting cenderung menjadi bacaan yang sangat menarik, begitu pula halnya dengan biografi dan berbagai anekdot para komponis legendaris, menjadi sangat menarik karena popularitasnya. Hal ini dapat menjadi cerminan, dan menjadi suatu kontribusi yang sangat berarti terhadap perkembangan apresiasi musik, pemberi warna terhadap kepustakaan musik dunia. Ragam informasi tentang riwayat komponis dapat memberi penjelasan mengenai karya-karya kreatifnya yang meliputi berbagai fenomena sosiomusikologis pada masa tertentu, termasuk perkembangan teknik berkomposisi serta teknik bermain musik yang mencakup berbagai aspek yang merupakan bagian dari elemen musik.
Dari sejumlah komponis legendaris dari tanah Batak, salah satu di antaranya adalah Nahum Situmorang, lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan, 14 Pebruari 1908. Sejak kecil bakat musiknya telah terlihat. Tahun 1924 Nahum melanjutkan sekolahnya di Kweek School Jakarta, kemudian pindah ke Lembang, Bandung dan tamat tahun 1928.
Rasa kerinduan dan kecintaannya pada kampung halaman (bonapasogit), yakni kawasan danau Toba yang mengelilingi pulau Samosir dengan segala pesona keindahannya, serta siklus kehidupan keseharian masyarakatnya, menjadi sumber inspirasi yang tidak habis-habisnya bagi Nahum dalam berkarya. Lagu-lagu Nahum menjadi sangat populer baik di kalangan etnik Batak Toba, skala nasional, maupun mancanegara. Deretan judul lagu-lagu itu di antaranya, O Tao Toba, Lissoi, Pulo Samosir, Sitogol, Unang Sumolsol Dipudi, Molo Borngin Di Silindung, Beha Pandundung Bulung, Anakhonhido Hamoraon di Au, Huandung Ma Damang, Sai Tudia Ho Marhuta, Silindung Najolo, Sai Gabe Maho, Sapatani Napuran, Tumagon Nama Mate, Ala Dao, Molo Sautma Ho Lao tu Nadao, Holongni Rohamdo Sinta-sinta di Au, Ndada Tartangishon, Si Singamangaraja, Timbo Dolok Martimbang, Alani Ho, Manukni Silangge, Situmorang Nabonggal, dan masih banyak lagi hingga berkisar 120 lagu.
Ternyata aktivitas Nahum tidak terbatas pada kegiatan musik. Pada tahun 1928, Nahum ikut dalam barisan Perintis Kemerdekaan sebagai anggota pada Kongres Pemuda, dan pada tahun yang sama mengikuti Lomba Cipta Lagu Kebangsaan Indonesia yang pada masa itu dimenangkan oleh WR. Soepratman. Lagu karya Nahum berada di posisi runner up (urutan ke dua) dari sejumlah peserta lomba. Kemudian tahun 1929, Nahum pindah ke Sibolga, bekerja sebagai guru di Bataksche Studiefond hingga tahun 1932. Pada tahun yang sama Nahum pindah ke Tarutung dan mendirikan sekolah yang diberi nama, Wester Langer Onderwijs. Sekolah ini hanya bertahan hingga kedatangan tentara Jepang tahun 1942. Sepanjang hayatnya Nahum Situmorang tidak mau bekerja sebagai pegawai pada pemerintahan Belanda, kendati peluang untuk itu terbuka lebar. Nahum dikenal sebagai seorang yang berjiwa nasionalis dengan sikap kemandirian yang kuat.
Di sela-sela kehidupannya sebagai seorang guru, Nahum tetap kreatif menciptakan lagu-lagu dalam berbagai ragam irama. Tahun 1936, Nahum menjadi pemenang dalam Lomba Cipta Lagu, Sumatera Kerontjong Concours yang diselenggarakan di Medan. Tahun 1949, Nahum pindah ke Medan, di sini ia lebih leluasa untuk bernyanyi dan berkarya. Dalam pergaulan sehari-hari Nahum dikenal memiliki pribadi yang sangat luwes dan sangat digemari di lingkumgan pergaulannya karena didukung oleh kepiawaiannya bermain musik dan bernyanyi.
Lagu berjudul, Lissoi diciptakannya saat menikmati minuman tradisional Batak Toba (tuak) yaitu, minuman berkadar alkohol yang bersumber dari kelapa. Minuman tersebut setiap hari atau malam dihidangkan di Pakter Tuak (warung minuman tuak). Dalam situasi keramaian seperti itu, Nahun sanggup mengubah lagu berikut syair dengan kualitas komposisi yang sangat mengagumkan. Lagu Lissoi yang diciptakan dalam suasana keramaian diantara parmitu ( parminum tuak) yang berarti peminum tuak merupakan salah satu karya Nahum yang sangat populer hingga sekarang, bukan saja di kalangan masyarakat Batak, akan tetapi merambah keseluruh lapisan masyarakat bahkan ke manca negara.
Sekitar tahun 1950-an, Nahum Situmorang mendirikan grup musik yang disebutnya dengan Nahum’s Band. Grup ini pada umumnya membawakan lagu-lagu karya Nahum. Nahum’s Band sangat populer di kalangan masyarakat Batak. Pada masa itu mereka banyak mendapat tawaran untuk mengisi acara-acara hiburan di kalangan masyarakat maupun di berbagai instansi pemerintahan. Pada tahun 1960, Nahum’s Band mengadakan serangkaian pertunjukan musik di Jakarta. Dalam setiap pertunjukan mereka mendapat sambutan yang sangat meriah terutama dari kalangan komunitas Batak Toba yang bermukim di Jakarta. Nahum’s Band banyak mendapat pujian dan sanjungan dari para pejabat pemerintahan dan dari orang asing (anggota kedutaan) dari berbagai negara yang menyaksikan konser Nahum’s Band. Kendati orang-orang asing tersebut tidak mengetahui makna syair (teks) lagu, namun mereka sangat meresapi komposisi musiknya. Dari rangkaian konser tersebut, banyak tawaran agar Nahum’s Band mengadakan konser musik di berbagai negara, tetapi karena sesuatu hal tawaran itu tidak terlaksana.
Kehidupan Nahum Situmorang tidak sesukses lagu-lagunya. Nahum gagal dalam bercinta, sang kekasih yang sangat dicintainya jatuh kepelukan pria lain. Kegagalan ini menjadi beban berat dan menyakitkan bagi Nahum, ia bertekat untuk tidak bercinta lagi. Tragedi ini dilukiskan oleh Nahum dalam lagu berjudul, Sai Gabema Ho, Sapatani Napuran, Ala Dao, Molo Sautma Ho Lao Tu Nadao. Deretan lagu-lagu ini merupakan jeritan hati Nahum atau gambaran cintanya terhadap kekasih yang berpaling itu. Nahum tetap melajang di sepanjang hidupnya.
Lagu-lagu karya Nahum Situmorang tersebar luas ke seluruh penjuru tanah air bahkan ke mancanegara melalui penyiaran Radio Republik Indonesia (RRI), dari sejak awal kemerdekaan hingga tahun 1970-an. Volume penyiaran lagu-lagu Nahum mendapat porsi yang besar. Pada masa itu Nahum Situmorang telah merekam lagu-lagunya dalam bentuk Piringan Hitam (PH) di studio rekaman Locananta Indonesia dan studio rekaman Polydor Amerika Serikat, bahkan sebagian lagu-lagunya di terjemahkan dalam bahasa Jerman yang kemudian direkam dalam bentuk PH.
Kreativitas dan produktifitas Nahum dalam menciptakan lagu-lagu mendapat perhatian dari pemerintah Indonesia. Nahum mendapat penghargaan sebagai komponis nasional. Selain itu berbagai piagam penghargaan telah diterima Nahum Situmorang dan penghargaan terakhir yang diterimanya adalah Anugerah Seni dari pemerintah pada tanggal 17 Agustus 1969. Dua bulan kemudian, tepatnya tanggal 20 Oktober 1969 Nahum meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Karya-karya emasnya menjadi harta karun yang tiada habisnya, menjadi rebutan di kalangan penyanyi Batak.
Hampir seluruh album rekaman pop Batak, mulai dari penyanyi Eddy Silitonga, Victor Hutabarat, Rita Butarbutar, Emilia Contesa, Trio Lasidos, Jack Marpaung, Charles Simbolon, Trio Maduma dan sederetan penyanyi pop Batak lainnya selalu menyertakan karya Nahum Situmorang. Deretan penyanyi ini telah banyak meraup keuntungan yang sangat besar atas karya-karya besar Nahum. Namun tida terlintas di benak mereka akan keinginan Nahum semasa hidupnya yang jelas berkata, “Molo marujungma muse ngolungku sarihonma, anggo bangkekku di si tanomonmu, di si udeanku, sarihonma”.(FB)

Selasa, 28 Februari 2012

Sastra Medan Krisis Estetika

SELAIN pada kandungan nilai, karya sastra khususnya puisi juga terikat estetika. Bahkan tak sedikit di antaranya yang berhasil, karena semata-mata keanggunan estetisnya, baik bentuk maupun isinya. Estetika yang saya maksud di sini adalah kemampuan sastrawan mengeksplorasi imajinasinya untuk mengangkat makna melalui pilihan-pilihan kata yang terkesan eksperimentatif. Apa yang dilakukan Sutardji empat dekade lalu, termasuk salah satunya.
Sampai saat ini puisi-puisinya masih memiliki tempat tersendiri karena eksplorasi unik yang dia lakukan itu. Harus diakui, di Medan karya-karya semacam itu, agaknya tidak terlalu diminati. Wajar saja, mengingat watak sastrawan maupun pembaca sastra Medan cenderung lebih pragmatis. Karya sastra yang dibutuhkan di kota ini sepertinya lebih masih bersifat konvensional, yakni karya-karya yang alur dan ide ceritanya jelas. Boleh jadi karena keragaman kultur, masyarakatnya jadi membutuhkan semacam kesepahaman bersama dan mudah dimengerti.

Kesempatan untuk menonjolkan identitas tertentu dalam sebuah karya sastra, terutama puisi, sangat minim dan malah sering dianggap "gangguan" yang mengusik bahkan membebani pikiran pembacanya. Alhasil para para penulis puisi di Medan lebih memilih tunduk pada idiom-idiom yang berlaku universal.

Beda halnya dengan prosa, seperti cerita pendek ataupun novel. Karena ruang kreativitasnya yang luas dan fleksibel telah memberinya kesempatan yang lebih besar untuk bermain-main dalam tataran estetis. Pembaca tetap mampu mengikuti alur dan ide cerita meski diungkapkan dengan ciri khas identitas tertentu. Tidak seperti puisi. Selain karakteristiknya yang lebih padat, pengungkapannya juga sangat terbatas dibanding prosa. Keterbatasan itu tak jarang membuat sastrawan dan pembaca kita saling kehilangan, khususnya ketika dihadapkan dengan puisi yang khas identitas tertentu. Pada akhirnya, wilayah eksplorasi puisi menjadi kian sempit, miskin estetika dan dangkal.

Secara umum yang terjadi dalam dunia perpuisian di Medan dewasa ini adalah terjebak pada perulangan-perulangan dengan wilayah kreativitas yang sama dengan para penulis puisi terdahulu.

Puisi Dairy

Mari kita amati puisi-puisi yang terbit di koran-koran Medan yang terbit setiap hari Minggu. Rata-rata puisi itu mengisahkan tentang suasana hati dengan diksi yang itu-itu saja. Akibatnya puisi-puisi itu tampak seragam, baik dari pilihan kata maupun nilai yang ada padanya. Jarang sekali ditemukan puisi yang berangkat dari sebuah gagasan yang matang. Dari idenya, kebanyakan semangat yang mendasari penulis semata-mata sekedar memenuhi kebutuhan katarsis, tak ubahnya menulis sebuah diary.

Selain krisis estetika, secara umum sastra di Medan juga tumbuh tanpa identitas. Identitas yang saya maksud menyangkut gagasan dengan warna pengungkapan yang khas oleh sastrawannya. Apa jadinya jika sebuah produk kebudayaan, yang konon diolah melalui pengalaman batin dan impresi yang cukup dalam, dilahirkan tanpa arah tujuan. Tak heran jika puisi-puisi itu tampil dengan begitu "sederhana"nya.

Menurut saya, selain tuntutan pembaca Medan yang pragmatis, hal lain yang membuat puisi itu tampak "sederhana" karena penulis kita tak terbiasa dengan kerja eksperimentasi. Pertama, boleh jadi karena kemiskinan wacana penulisnya sendiri maupun pembatasan yang dilakukan oleh media massa. Tidak bisa dipungkiri media massa memiliki peran penting dalam hal ini. Media massa memiliki dua peran, baik sebagai "pencipta" iklim maupun sekedar "pemelihara".

Sebagai "pencipta" iklim media punya posisi penting untuk membentuk iklim baru dalam dunia sastra. Sebagai "pemelihara" iklim, kadang tanpa disadari, media sendiri yang membunuh daya kreativitas karena membiarkan karya-karya sastra itu tumbuh begitu saja, meski dengan apa adanya.

Kedua, motivasi menulis puisi belum dihayati sebagai cara penulis mewujudkan diri dalam kehidupan masyarakatnya. Rata-rata penulis Medan belum mampu melepaskan diri, sehingga tak merasa berkepentingan bagi orang banyak. Kepekaan penulis masih terbatas pada hal-hal yang menyangkut pribadinya. Boleh jadi hal ini disebabkan karena penulis kita tidak mengambil peran yang jelas dalam kehidupan bermasyarakat. Tak heran jika dalam kehidupannya ada jarak bahkan kontradiksi antara idealisme karyanya dengan perilaku keseharian. Pemurtadan terhadap karya inilah yang sering menjadikan sastrawan kehilangan keutuhan dirinya sendiri sekaligus berdampak buruk bagi iklim bersastra itu sendiri.

Mestinya, sentralisme yang ada pada seorang sastrawan dijadikan energi untuk kepentingan yang lebih besar, sehingga visi-misi itu selalu terlihat dalam karya-karyanya. Misi kemanusiaan yang memang belum populer di kalangan sastrawan kita ini, menurut saya juga hal penting yang sering diabaikan sastrawan. Sastra sebagai alat pencerahan masih belum dimaksimalkan dengan baik. Karenanya wajar jika karya sastra di Medan sering tak memuaskan kemanusiaan kita. Sepanjang sastrawan tak kembali pulang pada tugas "politik"nya itu, keragaman itu tak akan pernah tercipta.

Ketiga, dasar filsafat rata-rata penulis yang tak mapan. Bagaimanapun pendekatan filsafat dalam menulis puisi mutlak diperlukan.

Filsafat menjadikan puisi tak seperti menara gading, meski dengan kedalaman makna yang dia miliki. Kekuatan filsafat dalam puisi menjadikannya bernilai universal meski ditulis berdasarkan pengalaman empiris masing-masing pribadi yang beragam. Filsafat akan membantu seseorang mengapresiasi puisi yang ditulis dengan latar belakang psikologi dan budaya yang berbeda.

Dengan filsafat pula sebuah puisi bisa mengakomodir perasaan, persoalan dan kenyataan bersama yang dirasakan oleh orang-orang sekalipun dari berbagai belahan bumi. Pada akhirnya filsafat akan menjadikan seorang sastrawan tidak tercerabut dari kebudayaan global dengan lokalitas yang dimilikinya. Dalam kapasitas saya sebagai salah satu penjaga halaman sastra di salah satu koran Medan, saya sering mendapati puisi yang muatannya tak memiliki pijakan filsafat. Bagaimana mungkin ia akan berguna bagi orang lain?

Tak Mampu Beranalogi

Faktor lain yang membuat karya sastra Medan jadi seragam karena ketidakmampuan sastrawannya beranalogi yakni mengolah isu-isu dengan cara yang estetis. Harus diakui kegagalan para sastrawan Medan terutama terletak pada ketakberhasilan memindahkan realita ke dalam teks. Ditambah lagi dengan keengganan sastrawan Medan berkecimpung dalam dunia diskusi dan dialektika. Alhasil tak jarang suatu isu baru diangkat ketika sudah berlalu jauh. Dibanding dinamika sosial politik yang begitu progresif, karya sastra seakan tak mampu berbuat apa-apa. Isu-isu yang sedang berkembang seringkali luput dari apresiasi para sastrawan Medan. Ketika terjadi gejolak sosial di negeri ini, misalnya, para sastrawan Medan masih saja bicara soal "hujan" "malam" "airmata".

Jikapun ada yang menuliskan realita itu ke dalam bentuk puisi namun dengan analogi yang "terang-benderang". Sontak sastrawan kita kehilangan daya puitisnya. Berbeda ketika dia menulis puisi berdasarkan suasana hatinya itu.

Sudah waktunya sastrawan Medan kembali ke realita hidup masyarakatnya untuk mengungkap serta menjawab persoalan demi persoalan tidak hanya secara etis tapi juga bermakna.(Jones Gultom)

Selasa, 21 Februari 2012

Cerpen: WAKTU

Aula tersebut masih penuh dan riuh saat kutinggalkan, sebab sejumlah acara pada Pentas Seni Siswa masih akan digelar. Arloji di tanganku menunjukkan waktu pukul duapuluhdua kurang tiga menit. Sepasang panitia mengantarku hingga ke parkiran. Yang gadis menyodorkan amplop seraya menyampaikan rasa terimakasih mereka atas kesediaanku sebagai pengisi acara. Aku mengangguk seraya menyelipkan amplop tersebut ke saku jaket, menyalami keduanya dan segera berlalu.
Di kamar, segera saja kurebahkan tubuh. Aku merasa keletihan yang sangat. Pembacaan sejumlah puisi dan dilanjutkan dialog interaktif seputar dunia puisi yang memakan waktu dua jam lebih, benar-benar menguras stamina. Ternyata mereka sedemikian antusias. Ini membuatku dilingkupi haru bahagia. Antusias yang kian langka di tengah tawaran dunia lain yang lebih menarik. Dunia yang jauh lebih menggiurkan dan menguntungkan. Aku pun merasa lega mendapatkan respon jujur mereka, manakala usai satu per satu puisi yang kubacakan. Padahal aku tau mereka masih kesulitan menangkap makna tersirat di puisi-puisi tersebut. Ini terlihat dari sejumlah pertanyaan yang mereka lontarkan. Toh bagiku itu tidaklah harus terlalu dipersoalkan. Untuk taraf awal yang utama adalah mereka punya respon dan perhatian. Itu saja!
Keletihan yang kurasa secara perlahan menghantarku larut di hening malam. Secara perlahan pula benda-benda di dalam kamar mengecil dari tatapanku. Rasa kantuk sedemikian memeluk. Hanya sekali dua menguap, semua isi kamar lesap dari tatap. Alam bawah sadar kumasuki.
***
Suasana malam benar-benar hening sepi. Udara semakin dingin. Aku merasakan suasana berbeda dari malam-malam sebelumnya. Akupun mencium aroma yang selama ini belum pernah kurasakan. Aroma yang serasa menghantarku ke alam berbeda. Alam dengan suasana serasa sebegitu religius. Hingga sesaat kemudian, aku mendengar sapaan salam, “Assalamu ‘alaikum.”
Aku menoleh ke arah suara. Kulihat sosok dalam busana serba putih sebegitu suci telah berada di hadapanku. Aku sedemikian terpana.
“Assalamu ‘alaikum warahmatullah, ya Hamid.” Sosok berbusana serba putih sebegitu suci itu kembali mengulang salamnya. Aku tidak tau apakah dia juga manusia seperti diriku.
“Waalaikum salam warahmatullah. Siapakah engkau?”
“Aku utusan Yang Mahaagung, ya Hamid.”
“Utusan Yang Mahaagung? Aku… aku tidak mengerti…”
“Ya. Aku utusan yang akan hadir pada sesorang dan setiap mahluk bernyawa lainnya yang telah ditentukan waktunya.”
“Aku… aku semakin tidak mengerti, hai utusan Yang Mahaagung.”
Tiba-tiba saja sosok berbusana serba putih serasa sebegitu suci semakin dekat, sehingga kami nyaris bersintuhan.
“Aku Izrail. Malaikat yang bertugas mencabut nyawamu, karena sesaat lagi waktumu kan tiba.”
Aku terkesiap dan sedemikian ketakutan. Sosok malaikat kini terlah hadir siap untuk menunaikan tugasnya. Dan itu berarti kematianku. Aku ingin menghindar, karena belum siap untuk itu. Aku tak mampu. Aku merasa sedemikian letih. Aku mulai mengeluh, mengapa waktuku sebegitu singkat? Aku masih muda. Usiaku setahun lagi genap tigapuluh. Tubuhku masih sehat. Ah, mengapa waktu kematian harus datang lebih dahulu padaku? Mengapa tidak pada si Mbah yang telah sekian waktu terbaring bersama sejumlah komplikasi penyakit. Mengapa tidak pada si “mata keranjang” tetangga sebelah rumah yang masih senang mengganggu gadis dan janda, padahal telah berbini tiga. Atau mengapa tidak pada mereka yang hampir separuh usianya selalu menebar tindak kejahatan.
Aku sebegitu sedih harus meninggalkan segalanya. Segala yang kulihat, kualami dan kurasa selama hidup yang ternyata hanya sesaat saja. Segala hal yang menjadi bahan perenungan dan ekspresi bathin. Segala hal yang menggairahkan imaji. Yang berkali kuuntai menjadi bait-bait puisi. Orang-orangpun menyebutku si-Penyair, meski aku merasa belum pantas menyandang gelar tersebut. Nyatanya banyak yang memintaku mengisi acara, walau terbatas pada kalangan muda.
Dan kini aku akan meninggalkan mereka. Meninggalkan dunia yang kugeluti. Meninggalkan segalanya. Apakah kelak mereka merasakan kehilangan? Entahlah! Di satu waktu, aku pernah berjanji pada mereka akan melahirkan satu kumpulan puisi. Apakah mereka masih ingat dengan janjiku itu? Yang jelas aku tengah mempersiapkan sejumlah puisi demi memenuhi janji tersebut. Sudah ada 29 puisi, hanya tinggal 1 puisi lagi. Untuk puisi yang satu ini aku sedikit kesulitan mendapatkan bahan perenungan yang sesuai. Puisi ini kumaksud sebagai puisi penutup. Penutup dari kumpulan puisi yang akan kuberi judul: Lalu Waktu Berlalu beku.
Aku sesunggukan membayangkan semuanya. Kutatap sosok berbusana serba putih sebegitu suci. “Ya Malaikat utusan Yang mahaagung, berilah aku waktu lebih lama lagi. Aku benar-benar belum siap untuk suatu kematian. Aku masih memiliki utang, karena janji yang belum mampu kupenuhi. Aku berupaya memenuhi janji itu, maka berilah aku sejenak waktu.”
“Tidak bisa ya Hamid. Segalanya telah ditentukan dan tidak bisa diubah lagi. Ini adalah takdirmu. Bersiaplah ya Hamid, karena sesaat lagi waktumu akan tiba.”
Aku menggigil mendengar dan membayangkannya. “Ya Malaikat utusan Yang Mahaagung, sebelum waktuku tiba, sebelum engkau memenuhi tugas mencabut nyawaku, satu permintaanku…”
“Sebutkanlah ya Hamid!”
“Beri aku waktu untuk menulis puisi akhir. Aku harus memenuhi janji. Aku tidak ingi mati dalam keadaan berutang.”
“Bagaimanapun, soal waktu tidak bisa ditawar lagi ya Hamid. Sesuai wahyu, selesai azan shubuh perintah tersebut harus segera kulaksanakan.”
Sayup-sayup aku mendengar lantun ayat suci mengalun.
“Karena masih tersedia waktu untukmu, segeralah penuhi janjimu.”
Bagai dituntun sesuatu, atau justru ketakutan mati dalam keadaan berutang, aku segera bangkit. Kuraih buku dari laci meja. Telah duapuluh Sembilan puisi tertulis di situ. Hanya satu halaman lagi tersisa. Segera kugoreskan pena menuliskan untaian kata dalam bait-bait puisi:
WAKTU
bila saatnya tiba kita berpisah
tidak ada yang perlu ditangisi. biarlah
biarkan aku melayang menembus awan awan
menuju alam pesemayaman jiwa. Sementara
kau terbaring berselimut bumi berbalut sepi
kelak tiba saatnya,
kupenuhi dirimu kembali
kita tersenyum bersama selamanya

Satu persatu bulir air mataku menetes bergulir membasahi halaman akhir. Untaian kata-kata dalam bait-bait puisi penutup, berkali kuulangi membacanya. Keharuan sebegitu menyergap kedalaman hati. Mataku memejam dalam-dalam.
Lamat-lamat azan shubuh sampai ke telingaku . Semakin jelas terdengar. Aku tersentak menyadari suasana. Secara perlahan segalanya kembali menjadi nyata dalam tatapan mata. Tidak ada yang berubah. Hanya sosok berbusana serba putih sebegitu suci tiada lagi. Akupun tiada lagi mencium aroma serasa sebegitu religius. Udara memang dingin, karena rinai gerimis mulai menitis.
Ah, hanya mimpi. Ternyata waktuku belum tiba. Namun, aku buru-buru bangkit dari pembaringan menyadari sesungguhnya waktu telah tiba dan akan segera berlalu. Yang Mahaagung telah menetapkan waktu untukku serta untuk saudara-saudaraku seiman segera menyembah padaNya. Bagaimanapun aku tidak ingin kehilangan waktu paling berharga di dunia.

Sampali, 2012

Cerpen: BUKIT KEMENANGAN

Bagi seluruh warga Desa Sumberejo, Mbah Karto sebegitu dihormati dan disegani. Beliau sesepuh desa. Selepas masa perjuangan beliau bersama pengikutnya membuka desa tersebut, Desa yang terletak di lembah Bukit Kemenangan. Nama bukit tersebut pun adalah petunjuk Mbah Karto. Bagi beliau dan pengikutnya, bukit tersebut menjadi markas mereka semasa perjuangan melawan penjajah, Berkali mereka mencegat konvoi pasukah penjajah dan menghancurkannya. Mereka pun berkali meraih kemenangan gemilang.
Pagi tiba di desa tersebut. Matahari belum sempurna terlihat. Udara terasa lebih dingin. Hujan rinai hingga dinihari membasahi permukaan desa. Jalan tanah membelah desa terlihat agak becek.
Aktifitas penduduk kembali dimulai. Anak-anak berseragam putih merah berkelompok menuju sekolah dasar terletak di ujung desa. Yang bersekolah di tingkat lanjutan, berjalan menuju jalan persimpangan desa menunggu angkutan ke kota kecamatan. Yang dewasa perempuan dan lelaki memulai rutinitas sehari-hari. Ke sawah, ke kebun, ke pasar, sungai, berkedai, dan sebagian lagi ke hutan Bukit Kemenangan mengumpuli kayu bakar. Satu dua terlihat menggiring ternaknya menuju hamparan rerumputan di utara desa.
Selepas shubuh Mbah Karto telah bersantai di serambi. Di meja tersedia secangkir teh kental dan beberapa potong singkong rebus. Setiap warga melintas depan rumahnya selalu menyapa memperlihatkan sikap hormat. Mbah Karto pun selalu membalasnya. Sesekali beliau beranjak ke tangga serambi menyongsong dan berbincang sesaat perihal kehidupan penduduk. Ini telah menjadi kebiasaan Mbah Karto setiap pagi sebelum berjalan mengitari desa.
Pagi ini belum sempat Mbah Karto turun, Parman menantunya yang diangkat warga menjadi lurah, tiba bersama dua tamu. Seorang bapak memakai tungkat di bahu kiri dan seorang pemuda sebaya Minah cucunya. Mbah Karto bergegas bangkit menyongsong.
“Assalamu ‘alaikum,” sapa Parman.
“Waalaikum salam, ada apa dan siapa mereka Parman?”
Belum sempat Parman menjawab, tamu yang bertungkat keburu merangkul Mbah Karto, sehingga keduanya nyaris terjajar jatuh. “Masih ingat denganku Pak?”
Mbah Karto tertegun bagai melamun. Ditatapnya seksama wajah di hadapannya, namun tak jua bisa memastikan siapa. Lelaki bertungkat itu tak ingin Mbah Karto berlama tertanya.
“Aku Marno, Pak!” lelaki itu mengguncang bagu Mbah karto. “Ini Anto putraku. Ayo Anto, beri hormat pada komandan bapak.”
Mbah karto terhenyak bak hilang gerak. Marno anak buahnya yang dijuluki “si-Penakut” itu kini di hadapannya. “Marno? Kaukah ini Marno? Massya Allah! Ke mana saja kau selama ini?” Mbah Karto mendekap erat tubuh Marno. Marno membenam diri dalam dekapan komandannya. Keduanya sesunggukan dan mata mereka berkaca-kaca.
“Panjang ceritanya Pak,” sahut Marno seraya membetulkan letak tungkat di bahu kirinya. Mbah Karto menuntun Marno menuju bangku.
“kecelakaan itu membuatku pingsan. Ketika tersadar, aku telah terbaring di balai pengobatan. Kata petugas palang merah, aku tidak sadar selama tiga hari. Saat sadar, aku ingat bapak dan teman-teman. Aku mencoba bangkit, namun kaki kiriku tak kuasa digerakkan. Menurut dokter, tulang pahaku remuk. Aku begitu sedih, berharap Bapak atau teman-teman datang, namun tak jua ada. Menurut informasi, penjajah telah memblokir jalan, memperketat pengepungan terhadap markas kita. Hingga kami diungsikan ke tempat lebih aman, aku tak pernah mengetahui khabar keberadaan Bapak dan teman-teman.”
“Seperti yang kau lihat Marno, komandanmu ini masih hidup. Penjajah tidak pernah mampu merebut markas kita. Meski persenjataan mereka jauh lebih lengkap, namun kita lebih kenal medan. Penjajah….” Mbah Karto tak melanjutkan ucapannya. Seketika terdiam. Seperti ada yang difikirkannya. Matanya terpejam dalam. Marno serta Anto anaknya heran melihat perubahan sikap Mbah Karto tersebut.
Rauangan sin-saw, mesin gergaji terdengar di kejauhan. Tak lama disertai suara derak pohon yang tumbang. Sesaat kemudian, sesungging senyum menghias di bibir Mbah Karto. Seakan beliau barusan mendengar alunan teramat indah.
“Ada apa Pak?” Marno tertanya.
Mbah karto tersentak, “Eh, ah tidak. Tidak apa. Bapak jadi teringat masa perjuangan kita dulu.”
Matahari mulai sepenggalahan. Bagi Mbah Karto saatnya untuk turun berjalan mengitari desa. Diajaknya Marno dan Anto mengikutinya.
“Jadi selama ini kau tinggal di mana Marno?”
“Semula kami tinggal di Desa Randu Alas. Hampir sepuluh tahun aku menetap di situ. Di situ pula aku bertemu dan menikah dengan Sri, ibunya Anto. Hingga satu ketika, kami dan seisi desa mengalami peristiwa tragis. Para pemberontak menjadikan desa kami sebagai sarang mereka. Banyak penduduk menjadi korban, termasuk istriku. Aku membawa Anto mengungsi dari satu tempat ke tempat lain.”
“Malang nasibmu Marno.” Mbah Karto terenyuh mendengar kisah anak buahnya.
Ketiganya kembali melangkah menyusuri jejalanan desa. Pak Marno terkagum melihat rumah-rumah penduduk. Seragam dan tertata rapi. Berdinding setengah tembok bata dan papan olahan.
Raungan sin-saw kembali terdengar. Beberapa saat kemudian diiringi suara derak pohon tumbang. Mbah Karto kembali tertegun sesaat, lalu sesungging senyum kembali menggores di bibirnya. Beberapa kali kejadian itu terulang. Pak Marno dan Anto makin penasaran.
“Aku tidak bisa mengerti mengapa Mbah selalu tertegun lalu tersenyum saat terdengar raungan mesin gergaji dan suara derak pohon yang tumbang?” Anto tertanya.
Mbah Karto menoleh memandangi Anto, kemudian melangkah menuju satu gundukan. “Tidakkah kalian bisa merasakan sesuatu yang merdu di pendengaran, disaat mendengar semuanya? Sesuatu bagai alunan nada indah mengguratkan kenangan mengesankan.”
“Nada merdu? Kenangan mengesankan? Maksud Bapak?” Pak Marno tampak dalam balutan kebingungan.
“Yah, sebegitu merdu dan indah. Bagai alunan irama mars menghentak di dada. Membangkitkan gairah. Ah, benar-benar mengesankan, Marno!”
Raungan sin-saw kemudian derak pohon tumbang kembali terdengar. “Kalian telah mendengar dan merasakan? Betapa suara itu mengalun indah di telinga, lalu menjalari seluruh tubuh. Mendengarnya, gairah di masa perjuanganku dulu kembali menjalari urat-urat nadi. Semangat kembali menyala-nyala. Semangat yang selalu menggelora, manakala konvoi penjajah yang kita intai segera tiba di depan mata. Semangat untuk meraih kemenangan demi kemenangan. Tak dapatkah kau merasakannya Marno?”
Pak Marno memandang kea rah Mbah Karto . Keningnya tergurat ketidakmengertian dan tanda tanya akan sikap dan ucapan Mbah Karto. “Justru suara derak pohon tumbang itu seakan menyayat di hatiku. Menggoreskan kekhawatiran akan…”
“Marno, kita dulu adalah pejuang penuh semangat dan aku tidak mau semangat itu melemah dan pudar. Aku selalu ingin mematri semangat itu, kendati kita telah tua. Di mana kini semangat perjuanganmu Marno?”
“Aku tetap memiliki semangat itu Pak. Tapi, aku tidak mengerti kaitannya dengan suara derak pohon tumbang.”
“Marno…Marno. Kau telah melupakan kisah perjuangan kita!”
“Tak pernah aku melupakan itu Pak! Bapak bisa menyaksikan kaki kiriku yang cacat ini. Bagaimana mungkin aku melupakannya.”
“Kenyataannya demikian! Secara sepintas aku merasakan semangat itu melemah di dadamu. Apalagi pada dasarnya kau kurang memiliki keberanian. Mendengar deru tank penjajah saja kau sudah gemetaran. Kau bergerak lari sebelum aku perintah, akibatnya satu pohon yang kita tumbangkan sempat menimpa dirimu.”
“Aku memang penakut Pak. Tapi aku punya semangat melawan penjajah, ketimbang mereka yang tak peduli akan nasib bangsa tertindas. Apalagi mereka yang menjadi antek penjajah. Pengkhianat bangsa!”
“Bagiku Marno, suara derak pohon tumbang selalu membuatku semangat. Semangat sebagai pejuang Tanah Air yang tak pernah pudar, hingga aku mati. Bagaiman dulunya kita bersemangat menghancurkan konvoi pasukan penjajah. Dari atas bukit kita mengintai dan menanti musuh. Ketika musuh telah tiba di depan mata, kita cegat di depan dan belakang mereka dengan pohon-pohon yang ditumbang. Bahkan pohon yang tumbang itu menimpa mereka. Di saat mereka kucar-kacir, kita serentak menyerang. Dan kemenangan gilang-gemilang selalu kita raih dengan taktik penyergapan demikian.”
Pak Marno dan Anto mulai mengerti apa kaitan antara suara derak pohon yang ditumbang dengan sikap aneh Mbah Karto. Keduanya diam dengan fikiran masing-masing. Raungan sin-saw disusul suara derak pohon tumbang kembali terdengar. Mbah Karto tertegun, sesungging senyum kembali hadir di bibirnya. Hutan Bukit Kemenangan terlihat lebat menghijau.
“Telah berpa lama kegiatan penebangan ini berlangsung Pak?” Tanya Marno
“Telah puluhan tahun. Tak lamasetelah desa ini kami buka. Sesorang dari kota datang memohon persetujuan padaku dan penduduk desa untuk mengelola hutan desa dan membuka kilang kayu.”
“Telah puluhan tahun? Dan selama itu tidakkah pernah timbul bencana?”
“Bencana? Bencana apa Marno?”
“Bencana banjir atau justru kekeringan Mbah.” Anto langsung menjawab.
“Benar Pak. Itu yang kumaksud”
Mbah Karto mengerti arah tujuan pertanyaan Pak Marno. Beliau tersenyum memegang bahu Pak Marno. “Seperti yang kalian saksikan, desa ini adem tenteram. Persawahan dan tanaman lain penduduk sebegitu subur. Aku tidak bodoh Marno. Sedikit banyak aku mengerti perihal akibat dari penebangan hutan. Kepada pengelola dan pemilik kilang kayu aku tetapkan persyaratan, aturan dan kewajiban.
Dan hal itu telah disepakati hingga kini. Hutan Bukit Kemenangan tetap terjaga. Penduduk juga dilibatkan sebagai pekerja untuk membiayai kebutuhan hidup mereka. Sarana desa dibangun. Bagi kami perusahaan kilang kayu ini sangat berarti meningkatkan taraf hidup. Kau dan anakmu pun boleh tinggal di desa ini Marno. Bagaimana?”
Pak Marno mengangguk setuju. Raungan sin-saw kembali terdengar diikuti suara derak pohon yang tumbang, mbah Karto kembali tersenyum. Kisah perjuangan di Bukit Kemenangan selalu jadi kenangan indah baginya.

Sampali, 2012

DUNIA BERKESENIAN; GAMBARAN KEPRIHATINAN

Satu hari sejumlah seniman bertemu di satu sudut taman budaya. Inti pembicaraan adalah bersepakat membentuk satu wadah. Ketika dihadapkan pada perihal siapa yang bersedia menjadi ketua, masing-masing pribadi menyampaikan alasan untuk menyatakan ketidakbersediaannya. Untuk menghindari main “tunjuk hidung”, mereka mengambil kebijakan dengan cara undi. Masing-masing menuliskan satu nama di kertas. Akhirnya terpilih satu orang untuk menjadi ketua wadah seniman tersebut. Selesai? Ternyata tidak! Ujungnya timbul konflik (di luar forum tersebut) mempertanyakan kapasitas, kemampuan dan lainnya yang dimiliki ketua terpilih. Konflik meruncing, dan beberapa nama pada akhirnya melepaskan diri dari ikatan wadah tersebut.

Sekian waktu terdahulu, sejumlah penyair muda usia ‘ribut’, karena puisi mereka tidak disertakan dalam satu acara Baca Puisi. Satu tulisanpun muncul di surat kabar mempertanyakan sekaligus mengkritik kinerja penyelenggara yang membidangi dunia kesenian. Rapat mendadak kepanitiaan pun digelar. Ujung-ujungnya, puisi-puisi penyair tersebut diikutsertakan. Selesai persoalan? Tidak juga! Berbagai kritikan timbul.
Pertama, mereka tidak terima puisi-puisi mereka jadi sisipan (malah tercantum sebagai “Jilid II”) dalam satu antologi puisi bersama tersebut. Dan mereka tidak semuanya mendapat kesempatan membacakan puisinya. Honor puisi pun lebih kecil dari honor pembaca puisi. Artinya sebagai sebuah karya kurang dihargai. Lalu muncul pula kritikan dari yang menentang acara tersebut kepada penyair muda tersebut, “Lihat si anu, awalnya ribut. Setelah dapat duit, diam!”. Di samping itu, ada yang mempertanyakan, “Kenapa penyair muda perempuan tidak disertakan?”

Sejumlah seniman muda satu dalam satu komunitas sastra berkeinginan menerbitkan majalah sastra. Mereka prihatin karena sudah sekian lama daerah ini tidak mempunyai majalah khusus sastra. Berkali mereka bertemu membicarakan perihal tersebut.Susunan redaksional pun telah mereka sepakati, dan ada yang bersedia menyandang dana awal. Nyatanya tak jua terealisasi. Hanya persoalan apa nama majalah tersebut, membuat kesepakatan lain mentah kembali.
Sekian masa lalu, sejumlah seniman berlatar bidang seni mereka geluti berkumpul dan bersepakan membentuk satu organisasi seni. Niatan tersebut didukung sejumlah seniman senioran. Dari sekian kali pertemuan dan pembicaraan, terbentuklah organisasi tersebut. Apa yang telah diperbuat? Nihil sama sekali.baru sekian hari berjalan, sudah tak terdengar lagi kelanjutan organisasi tersebut.

Demikian pula halnya dengan satu ikatan seniman. Gembar-gembor bahwa ikatan tersebut akan mampu membawa nuansa baru dan suasana menggembirakan terhadap dunia kesenian di daerah ini, selalu dikumandangkan. Kesan kea rah itu kian tampak saat malam seremoni pelantikan kepengurusan dibarengi atraksi hiburan mempesona. Setelah itu bagaimana? Sama saja. Tinggal nama belaka.
Satu even lomba baca puisi digelar. Minat peserta dari kalangan pelajar membludak, karena hadiah yang ditawarkan lumayan besar. Usai penyelenggaraan acara, para pemenang pontang-panting mengurus hadiah hak mereka. Berkali mendatangi rumah ketua penyelenggara, yang ternyata tak punya cukup dana dan coba berspekulasi pada acara tersebut.

Merasa kondisi perteateran (khususnya teater di kampus) kurang menggembirakan, sejumlah seniman teater dan seniman seni lainnya berupaya membangun jaringan teater antarkampus. Kesepakatan tercapai, dan satu diskusi telah digelar. Hanya sekali itu dan semuanya berlalu, karena timbul curiga a
Satu pesta seni akan digelar. Sekian bulan panitia bekerja keras untuk dapat menggelar pesta tersebut. Lobi-lobi dan sejumlah proposal untuk mendapatkan dana telah dijalankan. Ternyata dana yang diharakan dari sponsor, donator, instansi terkait dan sumber lain yang diharapkan, sebegitu minim. Kendati demikian kepanitiaan tetap komit menggelar pesta seni tersebut, kendati dana kurang memadai. Pesta seni terselenggara, panitia pusing kepala. Terbetik berita, terutang pula.
Satu kegitan lomba beberapa bidang seni diselenggarakan. Dinas penyelenggara menyerahkan pada satu nama untuk pelaksanaannya (EO). Satu nama tersebut menyerahkan pelaksanaan kegiatan tersebut pada satu klompok. Oleh klompok tersebut acara mereka selenggarakan dengan kebijakan mereka. Termasuk juga menentukan siapa-siapa menjadi juri (dari kalangan mereka juga) dan teknis penjurian. Jadilah lomba perbidang seni dinilai 2 juri.

Berbagai gambaran (dan masih ada lainnya) di atas memperlihatkan betapa memprihatinkannya kondisi berkesenian di daerah ini. Hal ini berefek negatif dalam upaya membangun iklim berkesenian daerah ini yang kian jauh tertinggal dari sejumlah daerah lain.
Kendati suasana berkesenian di daerah ini masih tampak, dengan telah dan akan berlangsungnya sejumlah kegiatan, apa yang kita harapkan sulit tercapai. Jika masih saja gambaran keprihatinan tersebut terulang kembali. Satu kalimat bijak menyatakan, “Satu karya/ kerja nyata jauh lebih bernilai ketimbang berjuta kata dan kalimat cakap-cakap belaka.” Namun, selalu menceritakan apalagi membanggakan satu keberhasilan, selebihnya kegagalan-kegagalan bukanlah sikap bijak. Semoga kita saling menyadari.

Sampali

Senin, 20 Februari 2012

SASTRA SEADANYA Dan AKIBATNYA

Apakah ruang lingkup sastra termasuk sastrawannya kian menyempit, terkucil dan marginal? Mungkin tidak; mungkin benar.Dunia sastra sebegitu luas tanpa batas. Karya sastra mengandung nilai-nilai luhursebegitu bermanfaat menyelaras kehidupan. Banyak tokoh dunia atau orang sukses menjadikan buku-buku sastra atau menikmati karya sastra untuk lebih memperhalus sekaligus mempertajam nuansa wawasannya. Mediapun menyediakan rubrik sastra bagi pembaca sebagai penyeimbang.
Nuansa dalam sastra adalah kepekaan. Banyak yang tidak mampu menangkap kepekaan tersebut. Seperti halnya sastrawan memerlukan proses untuk bisa menghasilkan karya, menikmati sastra pun memerlukan proses.
Proses adalah pembelajaran. Pembelajaran tentang sastra berjalan bertahap. Yang pertama tentunya kemauan. Sayangnya, untuk mengawali tahap kemauan pun sering terbentur keraguan. Apakah dunia sastra bisa menjamin kehidupan secara materi?
Bagaimanapun, keraguan berbuah pertanyaan tersebut pasti timbul. Sebab pola pikir masyarakat terus menjuruh ke arah konsumtif; materi – ekonomi. Harus kita akui, di sini kondisi bersastra dan sastrawannya masih memprihatinkan.
Menggeluti dunia sastra membutuhkan kesetiaan. Kesetiaan yang ternyata selalu dibarengi pengorbanan. Banyak Sastrawan menjalani kesetiaan itu dalam kegetiran berkehidupan. Sementara penghargaan atas dedikasi kesetiaan mereka: wallauhualam. Padahal anugerah, jaminan hari tua atau semacam dana pensiun sepantasnya mereka dapatkan.
Kondisi seperti ini mendilemma. Keraguan untuk berkecimpung dalam sastra atau menjalaninya setengah hati, menyebabkan kian marginalnya sastra. Yang menyedihkan sastra kian terasing dari masyarakat sastra itu sendiri. Termasuk masyarakat seni lainnya.
Kegiatan sastra berlangsung seadanya, tanpa mendapat respons masyarakat. Kegiatan sastra sering terkendala, karena minimnya dana. Pengajaran sastra di sekolah berlangsung seadanya. Mengapa demikian? Pertama terbatasnya jam pelajaran materi sastra, sehingga sastra yang diajarkan pun hanya seadanya. Sebenarnya hal ini bisa disiasati dalam bentuk tugas. Sayangnya, tugas yang diberikan pun tidak representatif. Semisal meng-kliping karya sastra dari media cetak, namun tak pernah menelaah materi dan isi karya tersebut.
Kedua, ekstra-kurikuler untuk sastra tak jadi pilihan. Kalaupun ada, tak pernah diupayakan menarik minat dan mengasah bakat siswa bersastra. Hal ini terkaiat dengan rendahnya kemampuan guru menguasai sastra, kurikulum terbatas dan kurangnya dukungan pihak sekolah, termasuk para orangtua. Pelajaran sastra masih “menumpang” pada mata pelajaran Bahasa dengan perbandingan 5 untuk bahasa, 1 untuk sastra. Umumnya para guru hanya memiliki kemampuan mengajar bahasa, namun dangkal pengetahuannya tentang sastra. Sementara pihak sekolah cenderung mengutamakan kegiatan ekstra yang “hura-hura”. Sastra sebagai kegiatan ekstra-kurikuler hanya dipandang sebelah mata.
Demikianlah kegiatan sastra berlangsung seadanya. Kondisi begini pada gilirannya memarginalkan sastra itu sendiri. Sastra tak lagi ditempatkan pada posisi dipentingkan.sastra sebagai penyelaras; sastra sebagai pembangun wawasan, dan sastra sebagai memperkaya hati nurani. Akibatnya kekerasan pun menjadi-jadi.
Sastrawan kita masih melangkah terpatah-patah. Lelah mengusung kesetiaan bersastra. Berjalan tertatih menyusuri kegetiran hidup. Kesetiaan bersastra dan kegetiran menjalani kehidupan masih milik sastrawan. Satu persatu berlalu meninggalkan warisan kekayaan nurani. Dan para generasi enggan “memperebutkannya”.
Keengganan, keraguan, dan ketidakpedulian akan sastra membuat hati nurani kian kerdil. Tumbuh dan terbangunlah jiwa-jiwa kasar. Sementara nilai-nilai keagamaan juga diabaikan, bahkan ditinggalkan. Moral ummat pun bertambah rusak. Jadilah tidak kejahatan dalam berbagai bentuk bersimeraja-lela.
Bagaimanapun, kondisi ini bersebab-akibat. Andai kita menelusuri mengurai benang kusut sebab-akibat, semua pihak berperan menjadi penyebab.oleh karenanya, tak perlu ribut saling menyalah. Mari bersama membenahi.

Sampali, 0512